
Semua orang sudah mulai makan dengan wajah yang masing-masing terlihat sangat ceria, apalagi jika bukan karena bisa kembali bertemu dengan orang yang mereka sayangi setelah bertahun-tahun lamanya di pisahkan oleh jarak.
Mereka semua sangat antusias manakala mendengar bahwa sebentar lagi Ipul akan bertunangan dengan kekasihnya yang sekarang juga turut hadir.
"Kenapa nggak langsung nikah aja?" Andini bertanya.
"Inginnya sih gitu Mbak, cuma ya kita mah tergantung anaknya aja, toh mereka yang jalanin." sahut Riska dengan menatap Ipul dan Hanna bergantian.
Semua tampak bahagia mendengar kabar baik itu, senyum terpancar dari bibir mereka masing-masing terkecuali satu orang yang duduk di samping Ipul.
Wajahnya terlihat sendu dan selalu melihat ke arah Adik sepupunya yang sepertinya sengaja berpura-pura tidak menyadari akan tatapan yang di berikan oleh Davi.
"Gue udah selesai makan, cepet kasih tahu gue." bisik Davi pada Ipul yang malah semakin asik larut dalam obrolan padahal makanan di piringnya sudah habis.
"Gue belum selesai Bang." sahut Ipul.
"Makanan lu udah abis Pul." gerutu Davi dengan mata yang mengarah pada piring kosong seperti tengah menunjukkan bahwa di dalam piringnya sudah tidak ada apapun yang tersisa.
"Gue belum cuci mulut." ucap Ipul yang memang sengaja melakukan hal itu untuk menguji kesabaran dari Abang sepupunya sendiri yang terkenal dengan ketidak sabarannya itu.
"Gue yang cuciin mulut lu." Davi menarik tangan Ipul dan menggeret nya menuju wastafel di dekat dapur.
Kening Ipul mengernyit bingung bertanya kenapa Davi membawanya menuju wastafel.
"Ngapain ke sini?" Ipul bertanya heran.
"Katanya mau cuci mulut, ayo gue cuciin." kata Davi yang sudah sangat geram dengan Ipul.
"Lama di luar negeri ternyata nggak bikin lu makin pinter Bang." keluh lelaki yang memakai kemeja Abu tua itu.
"Lama nggak ketemu ternyata sikap ngeselin lu tetap aja nggak berubah Pul." Davi membalikkan omongan Ipul.
"Kalian ngapain sih?" seru Andini yang melihat tingkah aneh dua anak muda di depan wastafel itu.
"Bercanda." sahut Ipul asal ditengah tatapan sinis Davi.
__ADS_1
"Udah kayak anak kecil aja." ujar Irman menggelengkan kepalanya.
"Ada Hanna Pul." Riska terlihat mengingatkan anaknya bahwa saat ini kekasihnya terus menatap padanya melihat apa yang tengah di lakukan oleh lelaki yang akan menjadi tunangannya itu.
"Hehe, sabar ya sayang." kata Ipul seraya tersenyum pada Hanna yang balas memberikan senyum yang tentu saja membuat Ipul meleleh.
"Aduuh cantiknya." seru Ipul menggoda.
"Ck, udahan dulu ngegombal nya. urusan elu sama gue belum selesai." kata Davi sengit lalu menarik Ipul ke halaman luar untuk menagih janji Adik sepupunya itu.
"Ya ampun itu anak berdua tingkahnya masih aja kayak anak kecil, padahal udah cocok buat punya istri." seloroh Riska yang di sambut dengan tawa orang-orang di meja makan itu sedang Hanna sudah sibuk membantu Bibi untuk membereskan bekas makan mereka.
"Hanna nggak usah sibuk gitu, biar aja nanti Bibi yang beresin." ucap Andini melarang Hanna yang sibuk mondar-mandir.
"Nggak apa Tante." sahut Hanna lembut.
"Aduh Riska Calon mantu mu ini rajin banget." puji Andini pada Riska yang langsung mengangkat kedua jempolnya seraya tertawa senang.
"Gimana Zara sudah ketemu belum?" kali ini dua wanita itu mulai mengungkit nama Zara sedangkan suami-suami mereka sudah pindah ke ruang keluarga untuk melanjutkan obrolan yang entah apalah itu.
"Yang benar? sekian tahun loh Ipul cari Zara tapi nggak ketemu juga tapi Davi yang padahal berada di Australia bisa bertemu dengan Zara." kata Riska seperti tidak percaya pada yang barusan dia dengar.
"Itulah Ris, aku sempat tidak percaya saat Davi mengatakan itu, tapi ketika Davi mengatakan bahwa Zara sudah menjadi Pramugari, sungguh aku turut bahagia mendengarnya." adu Andini.
"Akhirnya cita-cita Zara untuk menjadi Pramugari benar-benar tercapai." kata Riska takjub, dulu ia memang sempat mendengar dari Ipul bahwa Zara bercita-cita menjadi seorang Pramugari.
"Lalu sekarang mereka gimana?" kata Riska, rupanya ia sangat penasaran dengan hubungan Davi dan Zara saat ini.
"Entahlah Ris, aku juga bingung biar saja Davi dan Zara yang menentukan hubungan mereka." ujar Andini seraya mendesah.
"Tadi lu bilang tahu Zara berada di mana." sembur Davi kala mendengar pengakuan Ipul barusan yang mengatakan bahwa dia hanya mendapat pesan dari Zara melalui Instagram.
"Ya itu, gue tahu Zara ada di Instagram." sahut Ipul dengan wajah tanpa bersalah.
Sungguh Davi sudah sangat dongkol karenanya.
__ADS_1
"Mana HP lu." todong Davi meminta HP milik Ipul.
"Ngapain?" tanya Ipul tak mengerti namun tangannya tetap bergerak untuk mengeluarkan HP dari dalam sakunya.
Davi mengambil HP dari tangan Ipul.
"Buka." meminta Ipul membuka pola di layar HPnya, Ipul serta Merta membuka pola tidak mengerti apa yang akan di lakukan Davi selanjutnya.
Davi membuka akun Instagram Ipul dan mencari DM dari Zara.
Dan memang benar ada DM dari Zara dengan akun Instagram yang baru, bukan akun Instagram milik Zara, pantas saja selama ini Instagram Zara yang lama sudah tidak aktif rupanya wanita itu sudah membuat akun yang baru.
"Sampai tua juga nggak bakal di baca DM gue." gerutu Davi yang memang sempat mengirimkan DM di akun Zara yang lama.
Mata Ipul terus memperhatikan apa yang akan di lakukan oleh Abang sepupunya saat ini.
"Ngapain Bang?" tanya Ipul ketika tangan Davi mulai mengetik.
Davi tak menggubrisnya lelaki itu menyelesaikan ketikannya lalu menunjukkan pada Ipul.
"Parah HP gue di bajak." sungut Ipul ketika membaca ketikan Davi yang mengajak Zara untuk bertemu dengan berpura-pura sebagai dirinya.
Davi menyerahkan HP itu pada Ipul dan duduk di bangku taman.
Sampai disini pun Davi masih belum mengatakan pada siapapun bahwa dia akan membeli rumah Zara yang di jual oleh Ibu tirinya.
"Nih Zara Bales." Ipul menunjukkan DM balasan dari Zara.
Davi langsung menyambar HP itu dan menyunggingkan senyum saat membacanya.
"Awas aja ya lu Bang kalau Zara sampai ngamuk sama gue." ancam Ipul kepada Davi.
"Tenang aja." Davi menepuk bahu Ipul menenangkan Adik sepupunya itu untuk tidak khawatir.
****
__ADS_1