Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 122


__ADS_3

Davi tengah membuka gorden kala dia mendengar suara pintu kamar di buka, pria itupun sontak melemparkan senyum melihat wajah sang istri dengan rambutnya yang tampak berantakan.


"Kenapa tidak bangunkan aku?" tanya Zara melangkah berat ke arah sang suami lalu gegas melingkarkan tangannya di pinggang pria yang semalaman tidak tidur karena terus memikirkan harus melakukan apa pada istrinya agar wanita yang dia cintai bisa kembali seperti dulu.


"Aku juga baru bangun," kata Davi berbohong namun Zara tidak bisa percaya begitu saja sebab dia mendapati rambut suaminya yang tampak belum terlalu kering serta pakaian yang suaminya pakai pun sudah berbeda dengan yang semalam.


"Bohong, kamu sudah mandi!" seru Zara dengan mulut yang mengerucut.


Davi mendesah lalu mengelus rambut sang istri seraya merapikan rambut-rambut panjang milik Zara dengan jari-jari tangannya lalu berkata, "ada telepon jadi aku terpaksa bangun, padahal aku masih ingin tidur dengan istri cantikku ini," ucap Davi menatap dalam wanita yang tengah menatap wajahnya.


"Ya sudah aku mau mandi dulu," kata Zara akhirnya melepaskan pinggang sang suami lalu membelakangi pria yang menatapnya dengan penuh kasih sayang sekalipun sikap istrinya kerap berubah-ubah.


Sungguh Davi harus benar-benar menguatkan dirinya, Zara yang semalam begitu ketakutan hingga menangis sampai tertidur lalu pagi ini sudah kembali normal seakan tidak terjadi apa-apa.


Davi meremas kepalan tangannya seraya melihat punggung istrinya yang berjalan menjauh lalu menghilang di balik pintu kamar yang di tutup.


Pria yang kini memakai kaos serta celana hitam panjang itu duduk di tepi tempat tidur menanti istrinya yang masih belum juga selesai mandi, dari dalam kamar mandi sana masih terdengar suara air yang mengalir.


Klek! pintu kamar mandi akhirnya terbuka, Zara keluar dengan rambut yang digulung dengan handuk putih serta tubuhnya yang dililit handuk selutut yang juga dengan warna senada.


Tampak sedikit terkejut mendapati suaminya tengah duduk di tepi tempat tidur.


"Mas nungguin aku?" tanya Zara seraya melangkah mendekat pada pria yang tengah menatapnya sendu.


Zara sedikit curiga dengan tatapan milik sang suami yang rasanya tidak pernah seperti ini sebelumnya.


"Kamu pakai baju dulu," pinta Davi yang gegas di berikan anggukan kepala oleh sang istri.


Wanita memiliki kulit bersih itupun menuju lemari tempat mereka menyimpan pakaian mereka semalam, memilih baju yang akan ia pakai hari ini dengan segenap pertanyaan di dalam hatinya tentang hal apa yang ingin dibicarakan oleh sang suami.


"Mau bicara apa?" tanya Zara ketika ia sudah memakai baju namun rambutnya masih di Gelung dengan handuk.


"Duduk di sini," ucap Davi menepuk tempat yang kosong di sampingnya.

__ADS_1


Zara pun menurut meski dari gerakannya memperlihatkan ribuan pertanyaan ada apa dengan suaminya itu hingga menunjukkan wajah yang terlihat serius namun dengan tatapan mata yang sendu.


Apa ada yang salahkah dengan dirinya? Zara pun jadi bertanya-tanya dalam hatinya dengan sikap suaminya itu.


Zara menatap wajah dari pria yang kini sangat dekat dengannya, menatap kedua manik mata pria itu seraya menunggu apa yang ingin terlontar dari bibir sang pria.


"Za," suara Davi terdengar begitu lembut di telinga Zara, namun Zara tau ada suatu kecemasan yang tersimpan di baliknya.


Zara tak menjawab, hanya menunjukkan bola matanya saja yang seolah tengah menjawab panggilan suaminya itu.


Davi menggenggam erat tangan Zara yang terasa sangat dingin karena memang baru saja di guyur dengan air.


Davi menarik nafasnya terlebih dulu sebelum memulai apa yang ingin dia katakan.


"Apa sebaiknya kita berkonsultasi?"


Pertanyaan yang Davi lontarkan secara cepat membuat Zara menjengkitkan tubuhnya, sungguh ia merasa sangat terkejut dan juga tidak mengerti dengan apa yang baru saja ia dengar.


Wanita seolah lupa dengan kejadian semalam dimana ia yang terus saja ketakutan bahkan menangis sampai jatuh tertidur.


"Maksudnya?" tanya Zara tak mengerti.


"Kita ke Psikolog atau Psikiater," jawab Davi.


Dan tidak di sangka setelah mendengar yang Davi ucapkan Zara malah berdiri dari duduknya lalu menatap padanya dengan tatapan yang menyedihkan.


"Aku tidak gila Mas, pikiranku baik-baik saja!" kata Zara.


Davi pun berdiri lalu memegang kedua bahu wanita yang menatap tak percaya padanya setelah apa yang dia utarakan tadi.


"Kamu memang tidak gila Za, Aku juga percaya bahwa kamu memang baik-baik saja." suara Davi terdengar teramat berat.


"Lalu kenapa kamu ingin kita pergi ke tempat yang tidak pernah aku datangi untuk bertemu orang yang profesinya menghadapi orang-orang dengan pikiran terganggu?!" seru Zara dengan matanya yang sudah mengembun.

__ADS_1


"Bukan itu maksudku Za, bukan!"


"Lalu apa?!" Zara bersuara dengan begitu keras dan cepat.


Sejak mendengar apa yang suaminya katakan barusan pikirannya menjadi lebih kacau, ia berpikir bahwa suaminya itu sudah menganggapnya sebagai orang tak waras, sedangkan ia merasa dirinya tidak ada masalah.


"Aku hanya ingin kamu menjadi Zara seperti yang dulu."


Zara mengerutkan keningnya tak mengerti dengan penuturan pria di depannya ini.


"Memangnya sekarang ini sikapku bagaimana? apa aku berubah?" tanya Zara yang sepertinya tidak menyadari apa yang ia lakukan ketika bertemu dengan pria lain selain yang ia kenal.


Davi memejamkan kedua matanya seraya menghela nafas.


"Katakan? apa yang aku perbuat hingga kamu ingin membawaku menemui terapis kejiwaan?!" seru Zara memperlihatkan guratan emosi di wajah serta mata yang kini memerah juga dengan tetesan air yang siap untuk mengalir di kedua pipinya.


Zara sangat tidak bisa menerima meskipun Davi sudah berusaha untuk menjelaskannya secara hati-hati namun wanita di depannya ini malah semakin berteriak histeris tidak mau mendengarkan dirinya.


"Aku tidak mau mengikuti kemauan kamu! aku tidak mau bertemu dengan orang yang tidak aku kenal! aku tidak mau!" seru Zara seraya memukul dada suaminya yang sudah tidak bisa lagi mengatakan apapun.


Davi pun akhirnya memeluk tubuh Zara lalu meminta maaf pada wanita yang kini terisak di pelukannya.


"Maafkan aku."


"Aku tidak gila Mas, tolong jangan bawa aku menemui orang itu, aku tidak mau," tutur Zara dengan rintihan yang terdengar begitu memilukan.


Davi mengangguk lemah sambil mengecupi puncak kepala Zara yang rambutnya masih basah.


Sungguh Davi tidak sanggup bila harus memaksa wanita yang ia cintai mengikuti keinginannya sekalipun wanita itu memang sedang tidak baik, sekalipun kini dia kian yakin jika kejiwaan istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.


Namun dia juga tidak tega jika harus memaksanya menurut guna mengikuti apa yang dia katakan tadi, dia tidak ingin Istrinya malah tidak lagi mempercayai dirinya sama seperti yang istrinya itu tunjukkan jika bertemu dengan pria yang tidak ia kenal.


****

__ADS_1


__ADS_2