Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 48


__ADS_3

Zara yang tengah berada di tempat pemakaman umum duduk di satu makam yang bertuliskan nama Mamahnya yang sudah lama pergi meninggalkan dirinya.


Sejak pagi gadis itu mengunjungi makam sang Mamah mendoakan Mamahnya dengan suara yang terdengar lirih karena kembali teringat akan masa-masa ketika Mamahnya itu masih hidup.


"Zara kangen Mamah." Zara berkata dengan guratan kesedihan yang ia rasa.


Tangannya mengelus batu nisan yang lalu menaburkan bunga yang ia bawa.


Wajah Zara menengadah ke atas ketika mendengar suara pesawat yang melintasi jauh di atas sana.


Memperhatikan pesawat yang terbang semakin tinggi menembus awan berwarna putih yang terlihat menggumpal di langit yang cerah.


"Selamat tinggal." ucapnya lirih seolah pesawat itu ada seseorang yang pergi meninggalkan dirinya serta semua yang selama ini ia rasakan.


Tak terasa air mata Zara mengalir seiring menghilangnya pesawat dari pandangan matanya, dengan segera ia menghapus air mata itu lalu mengulas senyum.


"Zara pamit ya Mah, Zara janji akan sering-sering mengunjungi Mamah." Zara berkata sambil mengusap batu nisan yang berwarna hitam di atas gundukan tanah yang sudah diwarnai dengan bunga-bunga yang ia taburkan tadi.


Zara melangkah menyusuri pemakaman yang ada di setiap mata memandang dengan rerumputan hijau yang tumbuh di sekitarnya.


Tangan Zara merogoh saku celananya saat HPnya bergetar.


Ada sebuah pesan yang masuk dengan nama Ipul.

__ADS_1


"Bang Davi sudah berangkat." isi pesan yang dikirimkan oleh Ipul membuat napasnya berhenti sejenak, meski ia mencoba untuk tetap tenang namun sorot matanya tidak bisa bohong, kesedihan tergambar jelas dari kedua bola matanya yang mendadak sendu.


Setelah terdiam beberapa detik akhirnya Zara mengulas senyumnya untuk mengurangi rasa sedih yang terasa.


"Ini hanya masalah waktu, cepat atau lambat kamu pasti bisa melupakan lelaki itu." Zara berkata pada dirinya sendiri tanpa mau menyebut nama Davi, nama pemuda yang sempat membuatnya menjadi seorang gadis yang sangat agresif karena terus mendekatinya padahal pemuda itu terus saja mengatakan putus berkali-kali.


Zara menyimpan kembali HPnya lalu melanjutkan langkahnya untuk pulang, pulang ke rumah Mamahnya yang sudah dikuasai oleh Dewi dan Dira membuat ia tidak bisa melakukan apapun kecuali berharap agar ia cepat menjadi wanita dewasa agar bisa hidup sendiri yang pasti akan lebih membuatnya tenang karena tidak akan lagi mendengar ocehan kedua wanita tak tahu diri itu.


************


Waktu sudah terlewati dengan cepat, Zara yang seperti sudah bisa melupakan nama Davi dalam hatinya.


Tiba saatnya Zara dan Ipul menjalani ujian kelulusan sekolah begitu antusias ketika mengerjakan soal yang diberikan.


"Terimakasih." senyum Zara begitu lebar menerima apa yang diberikan Ipul padanya.


Ipul duduk di depan Zara menikmati mie ayam yang dia pesan.


"Lulus sekolah mau kuliah dimana Za?" tanya Ipul seraya menyuapkan mie ke mulutnya.


"Gue mau jadi Pramugari Pul." sahut Zara yang mengejutkan Saipul.


"Hah, serius?" seolah tidak percaya dengan yang dia dengar.

__ADS_1


"Serius lah, ngapain bohong." tutur Zara tenang.


"Biar gue gampang diterima jadi pramugari, lulus sekolah ini gue bakal daftar di sekolah pramugari." kata Zara kemudian dengan keseriusan yang tergambar jelas di wajahnya.


"Doain gue ya Pul, biar gue lulus dengan nilai yang baik dan impian gue bisa jadi kenyataan biar bisa keliling dunia gratis, hihihi." Zara cekikikan.


"Lu jadi pramugari cuma buat keliling dunia gratis?" tanya Ipul dengan wajah meledek.


"Cari uang juga lah, sekalian cari suami juga, siapa tau gue dapat bule kaya, kan lumayan buat memperbaiki keturunan." canda Zara.


"Dih, ngaco." Ipul menyentil dahi Zara karena kesal mendengar apa yang sahabatnya itu impikan.


Bibir Zara mengerucut lucu membuat Ipul sangat gemas lalu tangannya mencubit bibir Zara.


"Aahh Ipul." Zara berkata manja.


"Lu nggak mau tau kabar Bang Davi Za?" Ipul mulai mengungkit nama Davi yang dalam sekejap membuat Zara terdiam.


"Nanti anterin gue fotocopy ya, soalnya banyak banget yang mesti gue fotocopy." Zara malah mengalihkan pembicaraan tanpa menjawab lebih dulu pertanyaan Ipul.


"Gampang." sahut Ipul.


Setelah itu mereka sudah sibuk kembali dengan makanan mereka masing-masing dengan sesekali bercanda.

__ADS_1


**************


__ADS_2