
Zara turun dengan membawa semua pakaiannya yang ada di dalam dua tas besar.
Gadis itu berjalan melewati kedua perempuan yang tengah memandangnya dengan tatapan membunuh, tatapan kemarahan dan kebencian yang bercampur jadi satu.
Zara bahkan tidak peduli dan mengabaikan kedua perempuan itu menganggap mereka tidak ada sama sekali.
Dengan susah payah Zara keluar dari rumah yang sebenarnya adalah milik sang Mamah yang malah di kuasai oleh Dewi.
"Semua ini karena perbuatan Papah." gumam Zara menyalahkan mendiang Papahnya sehingga membuat ia menderita seperti ini.
Rumah yang seharusnya menjadi miliknya malah diberikan oleh Papahnya itu kepada Dewi dan anaknya, semakin membuat Zara tak bisa berbuat apapun dengan usianya yang baru menjelang dewasa, baru dinyatakan lulus sekolah dan belum bisa mencari pekerjaan.
"Semoga uang yang Mamah tinggalkan cukup untuk biaya sekolah pramugari sekaligus untuk sehari-hari." batin Zara seraya berjalan menjauhi rumah yang banyak menyimpan kenangan dengan sang Mamah dan yang seharusnya tidak pernah ia tinggalkan.
Lelah berjalan tak tentu arah karena bingung harus mencari kemana rumah kost jika sudah malam begini.
Gadis itu duduk di trotoar meluruskan kakinya serta memijitnya guna menghilangkan sedikit rasa pegal akibat berjalan dengan membawa tas besar di kiri kanan tangannya.
Zara terus menarik napasnya yang terasa sesak karena sudah berjalan lumayan jauh.
"Mesti cari kemana sekarang?" gumamnya yang bingung memikirkan kost untuknya tidur malam ini.
Zara mulai membuka HPnya mencari kost terdekat melalui internet, namun nihil dia tidak mendapatkan apapun semua kost yang jaraknya dekat sudah terisi penuh tidak menyisakan satu kamar pun.
Pandangan Zara merasa sangat terganggu ketika ada lampu mobil yang menyorot kearahnya. gadis itu bahkan sampai meletakkan telapak tangannya di atas alis seraya memicingkan kedua matanya untuk melihat mobil siapa yang sedang menyorotnya dengan sangat sengaja.
"Ngapain sih ni orang!?" gerutu Zara yang kesal karena pandangannya menjadi tidak jelas karena perbuatan orang itu.
__ADS_1
"Zara! Ayah, itu benar Zara." pekik seorang wanita yang baru saja turun dari dalam mobil membuat Zara mengernyit bingung karena dia memang belum bisa melihat orang itu dengan jelas.
"Siapa?" Zara bertanya karena wanita itu menyebut namanya sedangkan dia merasa tidak kenal dengannya.
Lampu mobil pun meredup membuat Zara akhirnya bisa melihat siapa wanita yang tadi menyebut namanya itu.
"Tante." katanya pelan disertai dengan kekagetan dan segera bangun dari posisinya ketika wanita itu berjalan mendekat kearahnya.
"Zara kamu apa kabar? kemana aja selama ini? Tante kangen Zara sudah tidak pernah lagi datang. si kembar juga tanyain kamu terus." lontaran pertanyaan diajukan oleh Andini.
Ya wanita yang sekarang ada di depan Zara adalah Andini, Ibu dari lelaki yang selama satu tahun ini sudah dia lupakan, dan lelaki yang baru saja keluar dari dalam mobil itu adalah Arman, sudah jelas dia adalah Ayah dari Davi.
Daviandra Arrayan pemuda yang dulu terus memintanya untuk pergi menjauh dan yang mulai terlupakan dari dalam hatinya sekarang malah muncul kedua orang tuanya di hadapan Zara.
Tentu Zara merasa sangat terkejut dan tidak menyangka.
"Kamu mau kemana malam-malam begini?" Andini yang melihat dua tas besar di samping Zara pun bertanya ingin tahu.
"Zara." Andini menepuk lengan gadis yang terpaku tak bergerak itu dengan mata yang tidak berkedip sekalipun seolah baru saja melihat hantu.
"Eh iya Tante kenapa?" kata Zara gelagapan seperti orang yang tenggelam ke dasar laut.
"Kamu mau kemana? kenapa bawa tas besar seperti ini?" ulang wanita yang masih tampak muda itu.
"Zara mau cari kost Tante." kata Zara kemudian mengatakan hal yang sebenarnya.
"Loh memangnya rumah mu kenapa?" kini Arman yang mengajukan pertanyaan.
__ADS_1
"Anu Om, ehhm." Zara tampak kebingungan mengatakan apa yang tengah dia alami.
"Dari pada cari kost malam-malam begini yang belum tentu ada, lebih baik kamu menginap dulu di rumah Tante sama Om." tawar Andini yang merasa sangat tidak tega jika Zara harus berkeliaran seorang diri di tengah malam untuk mencari Kost.
"Eh nggak usah Tante Om, terimakasih. ini Zara juga sudah dapat kok." kata Zara menolak.
"Di mana? biar Tante dan Om yang antar." tanya Andini lagi yang sebenarnya yakin bahwa Zara tengah berbohong, dan benar saja Zara tidak bisa menjawab pertanyaan darinya.
"Anu Tante, itu aduh gimana yah." Zara malah kebingungan sendiri harus bagaimana.
Memang saat ini dia sangat membutuhkan tempat untuk bermalam, tapi rasanya juga tidak mungkin jika dia harus menginap di rumah orang tua dari lelaki yang senantiasa membuat hatinya kecewa.
"Sudah tidak apa-apa, nggak usah nolak, Ayah masukkan tas Zara ke dalam mobil." Andini malah seenaknya menyuruh Arman memasukkan tas milik Zara padahal Zara belum menyetujui untuk ikut bersama mereka.
Dan Arman pun malah dengan cepat dan senang hati mengikuti perkataan dari istrinya.
"Ayo Nak." ajak Andini dengan suara yang sangat merdu dan penuh kasih sayang menggandeng tangan Zara untuk mengikutinya masuk ke dalam mobil.
Sepanjang jalan Andini terus mengajak Zara berbicara mengenai apapun, tapi wanita itu seolah mengerti dengan apa yang Zara rasakan karena tidak sekalipun Andini membicarakan tentang Davi dan kehidupannya selama satu tahun ini di luar negeri, entah seperti apa sekarang wajah lelaki itu Zara pun tidak mau mengetahuinya sama sekali.
****
Maaf bolong-bolong up nya, saya fokus sama novel sebelah, mau tamat soalnya.. 🙏🙏🙏
tetap selalu dukung kisah Zarania ya..
terimakasih semuaaa. ,😘😘😘
__ADS_1