
Davi yang sedang membuat susu untuk Zara mendengar suara ketukan dari luar pintu, tentu ada orang yang datang ke rumahnya saat sore hari ini.
Pria itu menyelesaikan memasukkan sendok bersisi susu ke dalam gelas lalu meninggalkannya untuk melihat siapa yang datang berkunjung di tengah kondisi mereka yang sedang dalam keadaan tidak baik dengan apa yang menimpa mereka terutama istrinya, tentu istrinya itu masih sangat sulit untuk menerima kenyataan yang ia hadapi.
Davi memutar kunci lalu menurunkan handel pintu menariknya hingga terbuka dan terlihat dua wajah yang datang ke rumahnya.
"Davi, bagaimana keadaan Zara? apa yang terjadi sebenarnya?" seru Andini ketika melihat wajah putranya di depan pintu.
Bahkan Davi seakan tidak mampu untuk menyembunyikan kesedihan yang sejak kemarin dia rasakan, yang dia simpan dan berusaha disembunyikan dari istrinya agar tidak menambah penderitaan yang wanita itu rasakan.
Tapi begitu melihat wajah wanita yang sudah melahirkannya, wajah lembut dari orang yang selalu setia mendengarkan semua keluh kesahnya selama ini, Davi seakan tidak mampu lagi membendung kesedihannya, pria itu bersimpuh di kaki sang Mama lalu memeluknya dengan sangat erat dan suara tangis yang dia tahan di depan istrinya seakan memaksa untuk dikeluarkan.
"Davi nggak bisa jagain Zara Ma," lirih Davi dengan kesedihan yang mendalam.
Andini berusaha untuk membangunkan putranya yang benar-benar terlihat begitu menyedihkan, sungguh ia sebagai seorang Ibu merasa tidak sanggup melihat anak laki-lakinya menangis di kakinya, menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa sang menantu.
Ketika seorang pria sudah menangis bukankah itu membuktikan betapa sebuah ketulusan dalam mencintai pasangannya, dan semakin terasa menyakitkan ketika dia bahkan harus terus berusaha baik-baik saja menyembunyikan semua kesakitan serta penyesalan dan rasa bersalahnya.
__ADS_1
"Davi nggak bisa lihat Zara kayak gini Ma," adunya pada sang Mama yang turut serta menitikkan air mata mendengar setiap kalimat penyesalan yang terucap dari bibir putra satu-satunya itu.
"Kamu tidak bisa seperti ini Davi, Zara sangat membutuhkan kamu, dia butuh dukungan dari suaminya," jelas Arman berusaha untuk menenangkan anaknya itu karena memang menantunya benar-benar butuh dukungan dari orang terdekatnya terutama dukungan dari sang suami.
"Zara nangis setiap saat Yah, Davi nggak sanggup lihat Zara kayak gitu," sahut Davi masih dengan suaranya yang terdengar lirih.
"Cepat bangun, Zara akan semakin hancur jika melihat kamu seperti ini," terang sang Ayah meminta Davi untuk bangun.
Mendengar nama Zara membuat Davi segera menuruti perintah Ayahnya dengan mata yang memerah.
"Dimana Zara sekarang?" tanya Mamanya ketika mereka sudah berada di ruang tamu.
"Di dalam kamar tamu," kata Davi seraya menunjuk satu pintu yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Mama mau temuin Zara." Andini mengelus pipi sang putra yang mengangguk.
Andini dan juga Arman pun menuju kamar untuk menemui sang menantu, menantu yang sudah mereka anggap seperti anak sendiri karena betapa sayangnya mereka pada menantunya itu, karena menantunya itulah satu-satunya wanita yang bisa membuat anaknya kembali menjadi anak yang baik dan tidak liar seperti saat pertama kali dipertemukan oleh Zara.
__ADS_1
Davi duduk di sofa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan masih dengan air mata yang diam-diam kembali keluar dari kedua matanya.
"Za." suara Andini terdengar sangat keibuan ketika memanggil menantunya yang tengah duduk menekuk kaki di sudut tempat tidur dengan wajahnya yang ia tenggelamkan di kedua lututnya dan Andini bisa langsung mengetahui jika menantunya itu sedang menangis karena hampir seluruh tubuhnya bergetar.
Zara mengangkat wajahnya yang sudah sangat basah oleh air mata, "Maa." begitu lirih dan menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya dengan sorot mata yang menyimpan penderitaan.
"Sayang." Andini menghambur memeluk menantunya yang langsung mengeluarkan tangisannya yang sejak tadi tanpa suara sehingga begitu menyesakkan dadanya.
Arman yang berdiri di ambang pintu merasa tidak sanggup untuk terus menyaksikan sang menantu menangis begitu tersedu di pelukan istrinya memilih untuk tidak jadi masuk.
Bahkan seorang pria dewasa sepertinya pun tidak tahan melihat pemandangan yang sangat memilukan itu lalu bagaimana caranya dia meminta anaknya untuk tetap tenang? Arman menyusut air mata yang tak sengaja lolos dari celah matanya.
Arman memutar balik tubuhnya lalu kembali menemui putranya yang menopang wajahnya dengan tangan, sesekali mengurut pelipisnya merasakan kepalanya terlalu sakit menghadapi semua kenyataan yang ada.
Tentu yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah banyaknya penyesalan serta menyalahkan diri sendiri dengan kata seandainya malam itu dia tidak bertengkar dengan Zara, seandainya malam itu dia tidak meninggalkan Zara dan ratusan kata seandainya yang kini ada di dalam benaknya.
\*\*\*\*
__ADS_1