
Zara menyimpan rasa penasarannya tanpa bisa melakukan apapun terlebih lagi ketika Davi dengan cepat mengambil handphonenya dan melirik Zara sekilas menyadari bahwa istrinya itu pun memperhatikan apa yang dia lakukan.
Davi segera menyimpan kembali handphonenya dan mengambil pakaian yang berada di tangan Zara memakainya namun melihat pada Zara dengan kemeja yang belum di kancingkan tatapannya seolah menanti Zara berinisiatif untuk memasang kancing kemeja di tubuhnya itu.
Zara membaca sinyal yang Davi tunjukkan, kedua tangannya terulur dengan jari-jari yang lentik mulai bergerak pada bulatan-bulatan kecil yang terjahit di kemeja sang suami.
"Nanti siang aku akan bertemu dengan Aleyara," memberitahu bahwa hari ini ia masih harus mengadakan sesi pertemuan dengan sang psikolog.
"Aku tidak bisa mengantar, apa kamu akan baik-baik saja jika pergi sendiri? ah tidak! kamu tidak bisa pergi sendiri, jadi sebaiknya tunggu aku menyelesaikan pekerjaan ku lebih dulu baru setelah itu kita akan pergi bersama," tak di sangka Davi malah menjawab sendiri pertanyaan yang dia lontarkan.
Zara merasa ragu karena ia tau ada banyak pekerjaan yang suaminya itu harus kerjakan, wanita itu sadar semua pekerjaan Davi tidak berjalan baik semenjak ia berada di negara ini, negara yang bisa di anggap menjadi tempat pelariannya atas segala duka yang sedikit demi sedikit coba ia sembuhkan.
"Jika kamu tidak bisa kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengantar aku Mas, bukankah aku sudah jauh lebih baik? dan sudah seharusnya aku belajar keluar dari apartemen seorang diri tanpa perlu kamu dampingi," zara terlihat serius saat mengatakan apa yang seharusnya ia katakan, tentang perasaan hatinya yang kenyataannya memang berangsur membaik.
Semua kancing yang ada di kemeja sang suami pun terpasang dengan sempurna oleh kedua tangannya namun sepertinya Zara belum cukup puas sehingga ia kembali memeriksanya, memastikan bahwa itu sudah terpasang dengan baik dan rapi.
Zara menuju pintu ketika mendengar suara bel yang di tekan.
Lugo tampak sedikit terkejut ketika melihat siapa yang kali ini membukakan pintu untuknya, sungguh kemajuan yang sangat berarti kala Zara sudah bisa memberikan sedikit senyum untuknya, padahal dulu saat pertama kali Lugo datang ke apartemen itu dan bertemu dengan Zara, wanita itu memperlihatkan ketakutan yang sangat mencolok bahkan kemudian tidak pernah lagi keluar dari kamar saat dia datang untuk sekedar memberikan berkas yang di minta oleh Davi.
Zara mempersilahkan teman dari suaminya itu untuk masuk dengan sopan berusaha untuk tidak menunjukkan gejala apapun meskipun ia masih sedikit merasakan takut, panik dan juga cemas yang menjadi satu, tapi Zara terus berusaha untuk mengontrol semua itu karena satu keyakinan bahwa ia akan bisa sembuh dan nyatanya proses kesembuhannya harus melewati ini semua.
Sudah hampir dua jam lebih ketika Zara mengantarkan dua cangkir kopi ke ruang kerja suaminya dan tidak ada tanda-tanda bahwa kedua pria itu akan menyudahi pekerjaan mereka.
Zara yang sudah rapi akhirnya memutuskan untuk mendatangi ruang kerja suaminya.
__ADS_1
Tok tok tok.
Terlebih dulu mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam, sekalipun dia adalah istri dari pemilik ruangan itu namun dia masih harus menggunakan sopan santunnya bukan? dia tidak bisa seenaknya saja masuk ketika ada orang lain di dalam sana yang sedang melakukan pekerjaan.
"Masuk Zaaaa," suara Davi terdengar dari dalam memberi izin pada istrinya untuk masuk ke dalam meskipun saat ini dia sedang melakukan rapat online dengan manager di perusahaan miliknya, tapi baginya Zara akan selalu menjadi nomor satu baginya sehingga untuk sesaat dia meminta sang manager yang sedang berbicara untuk berhenti sejenak.
Zara masuk dengan perasaan tak enak karena dia tahu saat ini Davi dan juga Lugo sedang bekerja, "maaf aku mengganggu," tutur Zara sangat pelan menatap pada Lugo yang hanya tersenyum tipis.
"Kamu sudah mau berangkat?" Davi melihat Zara yang sudah berpakaian rapi dan dia juga ingat bahwa tadi Zara sudah mengatakan akan pergi kemana.
"Iya," sahut wanita yang tetap berdiri di depan pintu seraya mengangguk.
"Ya sudah hati-hati, jika pekerjaan ku sudah selesai aku akan menjemputmu," ucap Davi yang di jawab anggukan oleh Zara.
Pintu pun kembali tertutup saat Zara pergi dan saat itu juga Davi menghembuskan napasnya yang terasa berat membuat Lugo menatapnya, mencurigai bahwa ada sesuatu yang tengah mengganggu pikiran temannya itu, akan tetapi Lugo tidak sempat bertanya karena Davi sudah langsung kembali melanjutkan pembicaraan dengan sang manager melalui sambungan video dari laptopnya.
"Jangan menyimpan masalahmu sendiri, jika ada sesuatu yang mengganjal akan lebih baik bila kamu mengatakannya pada suamimu, berterus terang dengan apa yang kamu rasakan daripada harus memendamnya sendiri dan malah jadi berprasangka yang tak baik," itu yang Aleyara sampaikan pada Zara.
Dan benar saja sesaat kemudian Zara mengutarakan apa yang ada di pikirannya dan yang dia rasakan saat melihat notif pesan yang masuk ke akun sosial media milik suaminya, "aku merasa ada sesuatu yang aku tidak tau," suara Zara sedikit tercekat seolah dia tidak mau percaya tapi pikiran dan hatinya memaksa untuk percaya bahwa ada yang sedang di sembunyikan darinya.
__ADS_1
Aleyara menatap pada bola mata Zara yang memang sudah lebih baik dari sejak pertama kali wanita itu mendatanginya, bola matanya terlihat lebih bercahaya tidak lagi menunjukkan sorot yang kosong seperti nyawa wanita itu tidak berada pada tempatnya.
"Bertanya padanya, di saat seperti ini kamu tidak boleh menyimpan semua pertanyaan yang mengganjal di hatimu, jangan menyusahkan dirimu sendiri Zara, kamu punya hak untuk bertanya! jika kamu tidak melakukannya sampai kapan kamu akan sembuh? apa kamu mau terus berada dalam bayangan-bayangan yang membuat kehidupanmu berantakan?" lugas Aleyara memberikan pendapatnya, tentu dia sudah mengambil tanggung jawab untuk membuat Zara menjadi wanita normal kembali.
Pertemuan mereka lakukan dengan banyak menceritakan apa yang Zara rasakan, sampai menjelang malam ketika Davi datang menjemputnya Zara dan Aleyara ternyata belum selesai membuat Davi menunggu beberapa menit lagi sebelum akhirnya Zara keluar di antar oleh Aleyara, dan ini kesekian kalinya Davi bertemu dengan psikolog yang menangani istrinya.
Setelah berpamitan Davi dan Zara pun sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang.
berulang kali Zara melihat pada sang suami mengumpulkan keberanian untuk bertanya namun ketika bibirnya sudah terbuka hendak mengeluarkan beberapa kalimat, wanita itu justru merasakan kepalanya sangat pusing di susul dengan perutnya yang terasa sangat mual, rasanya dia ingin memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya sekarang juga hingga tak lagi bisa mengelak untuk muntah di dalam mobil.
Huek, huek.
Davi meminggirkan mobil dan menghentikannya, pria itu kini terpaku melihat sang istri, memberikan tatapan yang tak terbaca ketika Zara mengangkat wajahnya dan mata mereka bertabrakan, saling menatap.
__ADS_1
\*\*\*\*\*