
Zara dan pramugari serta dua pramugara sudah bersiap kembali untuk melakukan penerbangan ke Indonesia dengan membawa penumpang yang sejak pagi-pagi sekali sudah mulai berada di bandara.
Zara yang bertugas di kelas bisnis harus mulai mengatur napasnya dengan baik karena sesaat lagi ia akan bekerja lebih keras di bandingkan berada di kelas ekonomi, tentunya karena di kelas bisnis ia harus melayani setiap saat apa yang mereka inginkan, bahkan tak jarang jika Zara menemui penumpang yang luar biasa angkuh hingga menguras emosinya.
Namun tetap saja Zara harus ekstra sabar karena semua itu tuntutan pekerjaannya, meskipun tidak semua orang-orang yang berada di kelas bisnis itu memiliki sifat yang sama, tapi setidaknya ada saja manusia yang sombongnya melebihi tingginya langit, merasa mereka mempunyai uang jadi menganggap bisa melakukan apapun dengan uangnya.
Dan lihatlah sekarang saat Davi yang sudah berada di kursi penumpang hampir saja kehilangan dua bola matanya ketika melihat Zara yang memakai seragam pramugari berdiri di depan sana dengan senyum manis untuk memberitahukan penumpang agar segera memasang sabuk pengaman karena pesawat akan segera terbang.
Sungguh Davi tidak menyangka apa yang dia lihat saat ini, bertemu Zara kemarin saja sudah membuat jantungnya berhenti apalagi saat ini ketika melihat semua yang ada pada Zara sangat jauh berbeda dengan yang semalam kemarin dia jumpai.
Kecantikan Zara bertambah berkali-kali lipat disertai dengan balutan seragam kerjanya yang melingkar membentuk tubuhnya yang ramping.
"Aku melewatkan semua yang terjadi padamu Zara." gumam Davi seperti menyesali semua perbuatannya itu.
Davi yang memang memakai kacamata hitam lantas mengambil majalah dan berpura-pura membacanya ketika melihat Zara tengah memeriksa apakah para penumpang memasang sabuk pengaman dengan baik atau tidak.
"Maaf Pak silahkan pasang sabuk pengamannya." suara Zara terdengar merdu di telinga Davi.
"Saya tidak bisa memakainya." sahut Davi yang mengernyit bingung.
"Aneh, masa nggak bisa." batin Zara bersuara sendiri melihat lelaki yang masih belum juga menurunkan majalah dari wajahnya itu.
Namun Zara tidak mengungkapkan kebingungannya itu, karena terlihat sekarang wanita itu menundukkan tubuhnya untuk membantu memasangkan sabuk pengaman tanpa ia sangka bahwa itu adalah Davi.
__ADS_1
Saat Zara menunduk dan mulai sibuk dengan sabuk di pinggang Davi, lelaki itu menurunkan majalahnya dan menarik tangan Zara hingga membentur tubuhnya.
Mata Zara membuka lebar saat Davi memamerkan senyuman yang menampakkan gigi gingsulnya di depan Zara.
Tangan Davi malah meraih pinggang Zara saat wanita itu mencoba untuk menjauh.
"Tunggu aku di rumah." bisik Davi di depan wajah Zara.
Wajah mereka yang sangat dekat membuat hembusan napas keduanya beradu.
Davi segera melepaskan tangannya dari pinggang Zara ketika melihat satu pramugari mendekat ke arah mereka.
"Zara kamu nggak apa-apa?" tanya Titi panik melihat posisi Zara yang seperti orang tersungkur.
Zara buru-buru bangun.
"Hati-hati." ucap Titi memperingatkan.
"Maaf Pak." Titi meminta maaf pada Davi dengan sopan merasa tidak enak, sebab tadi ia minat Zara jatuh menimpa tubuh Davi tanpa Titi sadari bahwa itu adalah ulah Davi sendiri.
"Tidak masalah, saya justru senang." sahut Davi yang mendapat pelototan dari Zara.
Zara berlalu mengikuti Titi yang akan menuju belakang untuk menyiapkan makanan serta minuman untuk penumpang dengan mata Davi yang tak pernah lepas memperhatikannya sampai tubuh Zara tak lagi terlihat.
__ADS_1
Di penerbangan ini Zara merasa sangat tertekan dengan adanya Davi, lelaki itu sungguh merepotkan nya karena selalu memanggil dirinya untuk suatu hal yang tak jelas.
Seperti sekarang ini Davi yang memintanya di bawakan air mineral namun ketika sudah di bawakan lelaki itu malah menolak dan minta di ganti dengan kopi, membuat Zara ingin sekali memakinya tapi ia tidak akan bisa melakukan hal itu.
"Awas kamu ya." ancam Zara pada Davi yang hanya menaikkan sudut alisnya.
"Aku akan menunggu apa yang ingin kamu lakukan." ujar Davi tenang.
Zara pergi meninggalkannya sedangkan Davi malah tersenyum puas, namun sesaat kemudian wajah Davi tampak dingin, saat ini dia memikirkan Lisa.
Ya wanita yang satu setengah tahun ini menjadi kekasihnya meskipun Davi memang tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya.
Ya keduanya berhubungan karena Lisa yang memintanya sekalipun Davi sudah mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki perasaan apapun terhadap wanita itu.
Namun Lisa terus meyakinkan dirinya untuk mencoba berhubungan dengan harapan lambat laun cinta Davi akan muncul terhadapnya.
Kenapa Davi tidak memutuskan Lisa padahal dia sudah berusaha untuk mencintainya namun sampai hari inipun perasaannya masih tetap sama, hanya menganggap Lisa sebagai seorang teman saja.
Beberapa kali Davi mencoba untuk memutuskan Lisa dengan baik-baik dan sebisa mungkin untuk tidak menyakiti wanita itu, tapi Lisa malah mengancam akan bunuh diri jika Davi sampai meninggalkannya.
Dan saat kembali di pertemukan oleh Zara, keinginan Davi untuk berpisah dengan Lisa semakin besar tetapi dia bingung bagaimana caranya mengatakan hal itu kepada Lisa.
Davi menarik napasnya lalu mengurut keningnya, kacamata hitam yang tadi dia gunakan sudah dia simpan di dalam saku kemeja hitam yang dia gunakan.
__ADS_1
Gerak gerik Davi nyatanya di perhatikan oleh Zara dari belakang, matanya terus melihat Davi dengan pandangan sendu, entah apa yang ada di dalam pikiran Zara saat ini, hanya dialah yang mengerti perasaan seperti apa yang masih tersimpan untuk Davi.
****