Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 119


__ADS_3

Zara dan Davi baru saja pulang setelah menghadiri persidangan dimana Zara sebagai saksi sekaligus korban.


Meskipun Rangga sudah pasti akan mendapatkan hukuman, namun tetap saja hal itu tidak akan bisa membuat Zara langsung kembali seperti semula, wajah wanita itu masih terlihat begitu murung dan kini malah bertambah dengan lelah karena harus berjam-jam mengikuti persidangan.


"Aku tidak mau tinggal di rumah ini lagi," kata Zara tiba-tiba ketika Davi tengah membantunya untuk duduk di sofa ruang tamu.


Davi pun duduk di samping Zara lalu menggenggam kedua tangan sang istri seraya menatapnya.


"Aku tidak mau di sini," Zara mengulang kembali pernyataannya.


"Bawa aku pergi dari sini, aku takut berada di rumah ini, semua yang pernah terjadi seakan terus membayangi aku," tukas Zara menggeleng kepalanya.


"Baiklah, aku akan membawamu ke Australia, kita mulai semuanya di sana, apa kamu mau?" tanya Davi menangkup kedua pipi istrinya.


Wanita di hadapannya pun mengangguk, sekarang ini yang ia inginkan memanglah pergi dari rumah yang menjadi tempat paling buruk baginya, pergi untuk mencoba belajar melupakan semua yang terjadi.


Tentu saat ini yang Zara mau adalah pergi dari rumah ini bersama dengan orang yang ia cintai dan juga mencintainya, karena jelas ia yakin bersama dengan orang itu hidupnya akan baik-baik saja meski awalnya ia merasa ragu dan juga takut.


Takut bila dengan tetap bersama hanya akan membuat Davi terluka dalam diam, merasakan kesedihannya sendiri karena wanita yang ia cintai pernah di sentuh oleh laki-laki lain.


"Aku ingin secepatnya pergi dari sini," kata Zara kemudian matanya menerawang jauh ke depan entah melihat apa.


"Kalau begitu aku akan menyiapkan semuanya," imbuh Davi lalu mengecup kening wanita yang kembali menitikkan air mata.


"Jangan menangis lagi, aku tidak suka melihat istri yang begitu aku cintai menitikkan air mata kesedihan, semua harus mulai kita akhiri secepatnya karena setelah pergi aku tidak mau lagi kamu mengingat semua hal yang pernah terjadi! lupakan semuanya!" tekan Davi seraya menyapu air mata di sudut mata sang istri, menyapunya sampai tidak punya kesempatan untuk keluar.


Zara mengangguk samar dengan memaksakan bibirnya untuk memberikan senyuman pada sang suami.


Mulai saat ini ia berjanji untuk memulai hidup baru dengan suaminya di negara orang, memulai dengan dampingan pria yang nyatanya tidak mampu untuk ia lupakan.


Sungguh Zara merasa menyesal karena dengan mudahnya ia meminta Davi untuk menceraikan dirinya tanpa mau perduli bahwa pria itu pasti merasa kecewa dengan ucapannya.


"Aku akan membantu," kata Zara lalu memegang tangan Davi untuk membantunya berdiri.


Davi tersenyum, merasa bersyukur karena akhirnya Zara mau berusaha untuk melupakan kejadian buruk itu, meski perlahan namun Davi yakin Zara pasti akan bisa kembali seperti dulu, dan dia pastikan dia akan selalu berada di samping istrinya menemani menemani wanita itu melewatkan semuanya.


Keduanya mulai sibuk mengumpulkan barang-barang yang akan mereka bawa ke Australia.


Tidak terlalu banyak sebab mereka hanya akan membawa yang penting-penting saja terutama pakaian, karena di apartemen milik Davi semua barang besar lainnya sudah tersedia.


Beruntung Davi mempunyai tempat yang cukup jauh untuk bisa membawa Zara dan memulai hidup baru di sana, sekaligus mengurus perusahaan yang sudah cukup lama dia tinggalkan karena sibuk dengan persidangan yang membuat mereka harus keluar masuk ruang sidang guna menuntut keadilan atas apa yang diderita oleh sang istri.

__ADS_1


Dan sekarang setelah semuanya selesai sudah sewajarnya sebagai seorang suami untuk memberikan tempat yang nyaman bagi wanita yang dia cintai.


\*\*\*\*\*\*



Davi dan juga Zara sudah ada di bandara dengan diantar oleh orang tua Davi beserta dengan kedua Adik kembarnya yang tampak sedih karena mungkin tidak lagi bisa curhat pada sang Kakak ipar.


Sudah sewajarnya jika Zara merasa beruntung setelah menikah dengan Davi, karena ia bisa mendapatkan kasih sayang dari keluarga yang selama ini tidak ia dapatkan, Mama yang begitu ia sayangi meninggal saat ia masih kecil dan Ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang sangat tidak menginginkan dirinya, bahkan setelah sang Ayah meninggal Zara hanya terus-menerus dijadikan tempat untuk menyalurkan kemarahan dan juga pembantu di rumah miliknya sendiri.


"Jaga Zara, selalu perhatikan dia Mama tidak mau di sana Zara malah kesepian karena kamu sibuk bekerja," pesan Andini pada putranya yang berjanji tidak akan pernah membuat Zara kesepian.



Dia sudah memutuskan untuk membawa semua pekerjaan ke apartemen dan melakukan tugasnya tanpa keluar dari apartemen, dan jikalau dia ada urusan yang benar-benar mengharuskannya untuk keluar dari apartemen Davi berjanji akan mengajak Zara.



Andini mengangguk, karena ia tau untuk saat ini Zara tidak boleh dibiarkan seorang diri karena itu akan membuat pikirannya kosong dan malah jadi memikirkan kembali semua yang terjadi padanya.




"Za." baru saja Zara dan Davi akan melangkah pergi sebuah suara yang begitu mereka kenal memanggil.



Zara menoleh dan melihat Ipul tengah menuju bersama dengan wanita yang akan menjadi istrinya.



Zara memaksakan bibirnya untuk tersenyum, tentu karena ia sudah berjanji untuk belajar melupakan yang terjadi.



"Gue minta maaf Za, Maafin gue," entah sudah berapa kali Ipul melontarkan permintaan maaf setelah kejadian mengerikan itu.



Terlalu banyak hingga Davi pun sudah tidak bisa menghitungnya.

__ADS_1



Zara menggelengkan kepalanya seraya menepuk bahu teman yang sejak dulu selalu ada untuknya.



"Jangan meminta maaf lagi, karena Zara ingin melupakan semuanya, dan lu harus bantu dia," kata Davi mewakili istrinya yang hanya mengangguk menyetujui perkataannya.



"Kapan kalian menikah?" tanya Zara pada Hanna yang sedang berdiri di samping Ipul.



Nyatanya wanita itu berhati besar karena bisa dan mau memaafkan Ipul dan tetap meneruskan rencana pertunangan mereka.



"Beberapa bulan lagi," kata Ipul menimpali dan Hanna pun mengiyakan apa yang Ipul ucapkan.



Mereka berempat pun berbincang sejenak sampai akhirnya Zara dan Davi benar-benar harus segera naik ke pesawat.


Berulang kali Zara memeluk Mama mertuanya yang meneteskan air mata karena harus berjauhan dengan menantu yang begitu ia sayangi.


Pesawat sudah meninggalkan bandara, membawa Davi dan juga Zara ke tempat yang menjadi tujuan mereka.



Bahkan di sepanjang penerbangan Davi terus memeluk tubuh istrinya yang memperlihatkan wajah sedih.



"Aku akan selalu bersamamu apapun yang terjadi," bisik Davi dengan penuh cinta.



Siapapun yang melihatnya tentu akan sadar bahwa pria ini begitu mencintai pasangannya, cinta yang teramat dalam hingga rasanya akan sulit untuk dipisahkan.


****

__ADS_1


__ADS_2