Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 152


__ADS_3

Sudah beberapa hari, namun perkataan Aleyara tetap terngiang di telinga Davi, dia tidak pernah berniat untuk menyakiti siapapun terlebih lagi menjadi seorang bajingan seperti yang Aleyara katakan padanya.


Sungguh dia tidak pernah terlintas sedikitpun untuk tidur dengan wanita selain istrinya, semua terjadi begitu saja tanpa bisa dia kendalikan, nafsunya menuntutnya untuk di lampiaskan saat ada seorang wanita yang mempersilahkannya.


Dia mengira setelah kejadian itu Aleyara tidak akan menghubunginya bahkan Davi sudah meminta maaf ketika sadar sudah melakukan kesalahan yang tidak seharusnya terjadi pada malam itu juga, tapi nyatanya wanita itu terus saja mencoba untuk bertemu dirinya bahkan selalu mengirim pesan melalui akun Instagram nya dan hal itulah yang membuatnya menghapus aplikasi media sosial itu.


Dan sekarang Zara malah terus bertanya ada apa dan kenapa antara dia dan Aleyara membuatnya tidak bisa menjawab, karena sebagai lelaki dia berubah menjadi sangat pengecut ketika sudah menyangkut seorang Zarania.


Pengecut yang takut kehilangan istrinya namun juga bajingan brengsek terhadap wanita lain setelah dia tiduri.


Hingga suatu malam Davi sempat berpikir untuk memberitahukan apa yang sudah terjadi, berkata jujur pada istrinya tentang dirinya dan juga Aleyara, akan tetapi harus dia urungkan ketika melihat Zara yang sedang menonton drama di televisi.


"Dasar pria tukang selingkuh, kalau aku jadi istrinya lebih baik mati daripada harus memberi maaf pada pria yang kepergok tidur dengan pelakor!" gerutu Zara seraya mencekal bantal yang berada di pelukannya.


Dalam sekejap saja Davi sudah membeku menjadi patung es, begitu dingin dengan wajahnya yang berubah pias, lalu pria itu melihat pada Zara yang terlihat sangat geram.


Zara hanya menghindar darinya saja Davi sangat tidak suka, lalu bagaimana caranya dia menjalani hidup jika wanita itu tidak ada lagi?


Tidak! dia tidak akan sanggup, hingga kini Davi pun menggelengkan kepalanya berharap itu tidak akan pernah terjadi.


"Kamu kenapa Mas?" tanya Zara mengerutkan kening mendapati sang suami menggeleng-gelengkan kepalanya dan wajahnya pun terlihat memucat, "Mas sakit?" memegang kening sang suami merasakan apakah badan pria itu panas atau tidak, "Kok dingin banget Mas, nggak normal kita ke dokter aja yuk?!" ajak Zara memperlihatkan wajah yang panik.

__ADS_1


Davi menggeleng seraya berkata, "aku nggak apa-apa," ucapnya menatap iba pada wanita yang sepertinya akan terus dia bohongi.


Pria itu sudah mengambil keputusan untuk mengubur semuanya dalam-dalam agar dia tidak kehilangan wanita yang sudah menjadi separuh hidupnya itu, apapun yang terjadi!


"Tapi Mas keliatan pucat banget, badannya juga dingin begini," tutur Zara khawatir pada sang suami seraya menangkup kedua pipi suaminya itu.


"Aku tidak apa-apa sayang," mengulang kembali agar Zara tidak mencemaskan dirinya.


"Yakin?" tanya Zara sambil menatap dalam pria di depannya saat ini.


"Sangat yakin," sahut Davi lalu mengulas senyum meyakinkan sang istri.


"Baguslah kalau begitu, aku tidak mau kamu sakit," jelas Zara namun kedua tangannya tetap berada di pipi sang suami seperti ada magnet yang membuatnya menempel di pipi itu.


Sepertinya Davi mengerti apa yang Zara maksudkan, "boleh?" tanya Davi membuat Zara mengangguk tanpa berani menatap mata suaminya.


Wanita itu merasa sangat malu sebab ini pertama kalinya dia meminta lebih dulu untuk berhubungan semenjak mereka menikah, rasanya sangat aneh padahal dia meminta itu pada suaminya sendiri.


"Dia yang ingin," kata Zara mencoba membela diri.


"Dia ataupun kamu itu sama saja, tidak ada yang aneh dan memalukan karena kita suami istri," ujar Davi lalu tanpa aba-aba mengangkat tubuh Zara lalu membawanya ke dalam kamar, melakukannya kembali setelah berbulan-bulan lamanya dia tidak menyentuh istrinya, meski sesungguhnya bukan dia yang tidak mau menyentuh istrinya tapi lebih kepada Zara yang kala itu masih berada pada titik trauma yang membuatnya selalu menolak bahkan sampai menangis saat mereka akan berhubungan.

__ADS_1


Setelah selesai keduanya saling memeluk dengan Davi yang tanpa henti memberikan kecupan pada puncak kepala sang istri.


"Sepertinya besok aku pulang terlambat," kata Davi diselingi dengan tarikan napasnya.


Zara mendongak agar bisa melihat Davi lalu bertanya, "apa pekerjaan Mas sangat banyak?" tentu saja pertanyaan itu yang terlintas di dalam benaknya mengingat saat pulang pun Davi selalu membawa pekerjaannya lalu sampai larut malam akan berada di ruang kerjanya guna menyelesaikan pekerjaan yang sudah dia bawa itu.


"Ada hal yang harus aku selesaikan," jelas Davi.


Jawaban Davi membuat Zara berpikir bahwa yang sedang suaminya bicarakan itu bukanlah menyangkut pekerjaan, "bukan tentang pekerjaan?"


"Bukan," jawabnya disertai dengan gelengan kepala.


"Lalu tentang apa?" sepertinya Zara menjelma seperti anak kecil yang akan sangat penasaran jika belum mendapatkan jawaban.


"Hal yang benar-benar sangat penting," berhenti sejenak untuk menghela napas, "sebaiknya kita istirahat, kamu sudah membuat aku kelelahan dan aku butuh istirahat," tersenyum penuh godaan yang menghasilkan rona merah pada pipi wanita di pelukannya.


Zara yang malu lantas melepaskan pelukannya dan memutar tubuh membelakangi Davi seraya menahan senyum.


Davi meraih tubuh Zara lalu memeluknya dari belakang, "tetap seperti ini," ujarnya ketika Zara mencoba bergerak.


Akhirnya keduanya pun tidur dengan begitu nyenyak di sepanjang malam di musim dingin sampai menjelang pagi.

__ADS_1


*****


__ADS_2