Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 73


__ADS_3

Hari Sabtu menjelang tengah malam Davi tengah melangkah menuju bandara untuk menjemput Zara yang memang kembali mendapat jadwal terbang ke Australia.


"Padahal nggak usah di jemput nggak apa-apa kok." kata Zara saat sudah bertemu dengan Davi dan sekarang tengah berdiri menunggu mobil milik pria itu mendatangi mereka dengan seorang supir yang berkebangsaan Australia.


"Ini sudah sangat malam." tukas Davi seraya melepaskan jaket tebal yang dia pakai dan memakaikannya kepada Zara yang memang hanya memakai seragam pramugarinya.


Saat ini di negara itu memang sedang musim dingin, dingin yang teramat sangat terlebih lagi sekarang yang sudah tengah malam.


"Aku kan bareng sama yang lainnya." sahut Zara seraya melihat ke arah temannya yang sepertinya tengah memperhatikan dirinya, mereka juga saat ini tengah menunggu mobil jemputan yang akan membawa mereka semua ke hotel tempat mereka beristirahat.


"Kamu tidur di apartemen aku aja ya Za?" pertanyaan yang membuat Zara terkaget dan bingung harus bagaimana.


"Kamarnya ada dua kok Za." menjawab ketika melihat raut kebingungan di wajah Zara.


"Tapi aku nggak enak sama temen-temen aku." ucap Zara dan kali ini matanya bertabrakan dengan sepasang mata milik Abian yang tengah memandang kepadanya dan juga Davi.


Dari sorot mata lelaki itu Zara bisa melihat ada ketidaksukaan dan cemburu yang bercampur dengan rasa penasaran pada sosok lelaki yang menjemputnya saat ini.


"Aku akan bicara dengan mereka." kata Davi yang sontak membuat Zara gelagapan berusaha untuk melarangnya melakukan hal itu.


"Kenapa?" tanya Davi menatap wanita yang dia rasa rindukan itu.


"Biar aku saja." kata Zara akhirnya.


Ya memang sebaiknya dirinya saja yang berbicara kepada teman-temannya daripada membiarkan Davi menemui Teman-temannya yang tengah kebingungan tentang siapa dirinya itu dan hubungan mereka.


"Ya sudah cepat." tutur Davi seraya menyerahkan koper Zara pada sopir yang langsung memasukkannya ke dalam bagasi.


Davi bersandar di pintu mobil sambil menyilangkan kedua tangannya menunggu Zara yang sekarang tengah berbicara pada orang yang memakai pakaian yang senada dengannya.



"Za." panggilnya ketika di rasa wanita itu sudah cukup lama untuk sekedar meminta ijin tidak tinggal di hotel bersama teman-temannya itu.



"Iya." jawab Zara dengan suara lembutnya.



"Maaf ya Mbak." katanya pada sang senior dan juga pada yang lainnya.

__ADS_1



"Memang dia siapa kamu si?" Abian yang sejak tadi tidak bersuara akhirnya memberanikan diri bertanya tentang siapa Davi dan apa posisinya di hati Zara, wanita yang dia sukai dari setahun yang lalu.



Zara tidak menjawab.


"Ya udah Za nggak apa-apa, tapi nanti jangan sampai terlambat. kamu tahu kan kapan pesawat kita akan terbang?" kata seniornya dan juga Reni berbarengan berusaha mengingatkan Zara agar jangan sampai melupakan tugasnya sebagai seorang pramugari.


"Iya aku ingat." sahut Zara lalu setelahnya berterimakasih karena sudah sangat baik memberinya ijin.


Temannya memberikan senyum seraya mengangguk namun tidak dengan Abian yang nampak tidak terima Zara akan tinggal bersama seorang laki-laki yang tidak dia kenal.


"Kamu nggak ada di hatinya Zara Bi." kata Sinta seraya menepuk punggung sang teman dan mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil yang memang sudah menunggu.



\*\*\*\*



"Kenapa Za?" tanyanya seraya menatap Zara yang duduk di sampingnya.


"Ada yang kamu pikirin?" tanya Zara yang melihat jelas bahwa saat ini ada yang tengah di pikirkan oleh lelaki di sampingnya itu.



Davi menggeleng sambil tersenyum tipis lalu memegang tangan Zara.



"Tidak ada." katanya menyembunyikan kekalutannya yang sebenarnya mengisi di dalam hatinya.


Ya sejak memutuskan Lisa beberapa hari yang lalu nyatanya tidak membuat dia menjadi tenang, bukan karena dia menyesal karena memutuskan wanita itu, tapi lebih karena Lisa yang masih terus saja mencari dirinya bahkan hingga ke kantor penerbitan miliknya dan membuat keributan di depan para pekerjanya.


Tentu hal itu membuat semua pekerja yang ada di kantornya menjadi sangat terganggu dengan ulah mantan kekasihnya itu.


Entah dia harus bagaimana lagi agar mantan kekasihnya itu berhenti melakukan tindakan gila dan yang lebih dia takut adalah Lisa bahkan mengancamnya untuk menyakiti Zara jika sampai bertemu dengannya.


Lisa yang nyatanya sudah mengetahui wajah Zara entah darimana membuat Davi terus kepikiran hingga akhirnya meminta Zara untuk tinggal bersamanya di apartemen miliknya agar bisa menjaga wanita tercintanya itu dari perbuatan nekat yang setiap saat bisa dilakukan oleh Lisa.

__ADS_1



"Ya tuhaan." batinnya seraya mengurut kening yang membuat Zara semakin sadar bahwa memang tengah ada yang dipikirkan oleh Davi.


Mobil sudah berhenti di sebuah apartemen milik Davi, keduanya turun dengan Davi yang membawa koper milik Zara.


"Aku beneran nggak apa-apa tinggal di apartemen kamu?" tanya Zara berjalan mengiringi Davi.


"Nggak apa Za, kita sekarang di Australia Za, tidak akan ada tetangga yang akan bergosip setiap pagi atau menjelang sore hari di depan rumah." sahut Davi sambil menyunggingkan senyum menunjukkan gigi gingsulnya.


Zara tersenyum mendengar perkataan Davi.


"Berapa hari di sini?" tanya Davi ketika sudah membuka pintu apartemen dan meminta Zara untuk segera masuk ke dalam.


"Empat hari."


"Ya sudah." kata Davi sambil sibuk merapikan tumpukkan kertas yang ada di atas meja.


Tumpukan pekerjaan yang masih belum selesai dia kerjakan sebenarnya dan harus dia tunda karena memilih untuk menjemput Zara begitu wanita itu mengabari bahwa pesawatnya sudah sampai di Australia.


"Aku boleh ke kamar mandi?" tanya Zara yang tentu saja harus bertanya lebih dulu sebab dirinya bukanlah pemilik apartemen itu.


"Kenapa harus tanya dulu sayang." Davi menggelengkan kepala seraya tersenyum mendengar pertanyaan Zara.


"Takut nggak boleh." jawaban yang konyol di keluarkan oleh wanita itu, mana mungkin Davi melarang orang yang ingin ke kamar mandi, aneh.


Davi menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengantar Zara menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar.


"Kamu tidur di kamar ini, itu kamar mandinya, kalau mau minum ambil sendiri nggak apa kan?" tanya Davi.


Zara mengangguk.


"Harus ambil sendiri dan belajar beradaptasi di tempat ini karena apartemen ini nantinya akan jadi milik kamu juga." tutur Davi dengan wajah yang amat serius.


Zara yang berniat ke kamar mandi malah jadi terbengong mendengar penuturan lelaki di depannya itu.


"Sudah sana ke kamar mandi dulu, nanti kita harus ngomong serius." sambung Davi seraya mendorong tubuh Zara masuk ke dalam kamar yang berseberangan dengan kamar miliknya.


Ketika Zara sudah masuk pintu di tutup Davi terus saja menarik napas dan membuangnya dengan kasar, terlihat sekali ada beban berat yang sedang menjadi pikirannya sekarang ini.


****

__ADS_1


__ADS_2