
Davi melemparkan HPnya ke atas meja dengan sangat keras membuat Zara terkejut hingga badannya bergetar.
Davi menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan, terlihat jelas bahwa saat ini pria itu sedang mengendalikan dirinya agar tidak meluapkan emosi tanpa bertanya lebih dulu.
"Nggak ada yang mau kamu jelasin sama aku?" tanya Davi dengan suara yang sungguh bagaikan sebuah ombak besar dan siap menggulung wanita yang masih berdiri di sampingnya.
Gelombang ombak itupun seakan sampai pada tubuh Zara, wanita itu memejamkan matanya mengumpulkan keberanian yang sejak tadi baru saja terkumpul sebagian, ia sudah sangat berniat untuk memberitahukan kejadian yang pasti akan membuat suaminya itu marah sejak kemarin, tapi kenapa sampai saat ini lidahnya justru terasa sangat kelu dan mendadak bisu.
Davi memutar kursi yang dia duduki guna melihat Zara dengan seksama, melihat wanita yang padahal sudah dia tanya baik-baik dan dia nantikan kejujurannya tapi malah hanya diam.
Brak!
Merasa sudah tak sabar akhirnya Davi pun memilih menggebrak meja dan lagi-lagi membuat Zara menjengkit kaget.
"Maaf," kata Zara yang akhirnya hanya mampu mengeluarkan kata maaf dari bibirnya.
"Aku nggak butuh kata maaf dari kamu!" bentak Davi akhirnya dan ruang kerja itupun telah menjelma menjadi tempat penghakiman bagi sang istri.
"Lihat ini!" Davi kembali memutar rekaman video yang menampilkan Zara tengah berada di dalam pelukan Ipul, suami mana yang tak akan marah melihat itu semua.
Zara melihat apa yang Davi tunjukkan dan merasa begitu terkejut kenapa bisa ada rekaman dirinya dan Ipul, bukankah saat itu hanya ada mereka berdua dan lagipula Zara ingat benar kalau Ipul tidak memegang HP jadi sangat tidak mungkin kalau Ipul merekamnya.
"Waktu itu aku jatuh, Ipul tolongin aku," aku Zara yang memang itulah kejadian sebenarnya, dia jatuh lalu berteriak dan Ipul datang untuk membantu.
__ADS_1
Davi tak berkata mendengar pengakuan sang istri, tak ada argumen karena memang yang dia lihat di dalam video itu istrinya tengah meringis kesakitan, Davi percaya pada video yang pertama dan pengakuan Zara, tapi video yang kedua dan yang baru saja tadi dia terima lalu lihat bukan seperti orang yang sedang memberikan pertolongan.
"Lalu ini?!" Davi kembali menunjukkan sebuah rekaman dengan ketajaman mata yang luar biasa, ketajaman mata yang membuat Zara tak percaya bahwa yang di depannya saat ini adalah suaminya Daviandra Arrayyan.
Video kala Ipul menciumnya langsung berputar di mata Zara, wanita itu menangis merasa bersalah kenapa dia membiarkan Ipul menciumnya meskipun akhirnya dia mendorong tubuh Ipul menjauh namun tetap saja di dalam video itu hanya merekam sebagian seolah dia juga menerima dan pasrah apa yang Ipul lakukan.
"Sedang melepas rindu dengan TE MAN?" Davi menekan kata teman dengan wajah yang mengejek.
Zara menggelengkan kepalanya menolak tuduhan sang suami, "Aku tidak melakukan lebih dari itu Mas demi tuhan." Zara bersumpah.
"Tidak melakukan lebih dari itu, artinya saat melakukan itu kami menyadarinya? begitu?" suara Davi terdengar begitu mencemooh disertai dengan seringaian yang menyeramkan.
Zara sudah mulai tak bisa lagi berkata apapun, ia sudah tak bisa menjawab sebab ia sendirilah yang barusan mengakui meski maksudnya tidak seperti itu.
__ADS_1
Marah, Davi sangat marah namun dia tidak mau menyakiti istrinya, dia memilih keluar dari rumah menenangkan dirinya kalau perlu dia juga akan menghajar Ipul karena sudah berani menyentuh istrinya.
"Kamu mau kemana?" tanya Zara mengekori Davi yang berjalan cepat keluar rumah, namun pertanyaannya itu malah di abaikan oleh sang suami, pria itu melangkah cepat menuju mobil bahkan tak mau melihat pada sang istri yang berdiri terus mengetuk kaca mobilnya dengan linangan air mata berusaha menahannya untuk tidak pergi.
"Maafin aku Mas, tolong jangan tinggalin aku," seru Zara terus mengikuti mobil yang mulai berjalan keluar halaman.
Davi pun akhirnya berhenti terdiam cukup lama mencengkeram erat kemudi mobil, sedang Zara masih mengetuk-ngetuk kaca mobilnya menyerukan namanya agar tidak pergi kemanapun.
"Masuk ke rumah Za," kata Davi ketika menurunkan kaca mobil.
Zara menggeleng dengan wajah yang memelas, ia tidak mau suaminya pergi, lebih baik suaminya itu marah dan mengamuk tapi tetap berada di rumah ketimbang diam saja namun malah meninggalkan dirinya.
"Kamu boleh marahin aku, tapi tolong jangan pergi Mas. jangan tinggalin aku," pinta Zara dengan tangisan yang sudah semakin kencang.
Permintaan Zara hanya dianggap angin lalu oleh Davi, terbukti saat Zara lengah dan pria itu kembali menjalankan mobilnya dan kali ini langsung ngebut sehingga Zara tak bisa lagi mengejar.
"Maasss," seru Zara melihat mobil yang membawa suaminya sudah pergi.
__ADS_1
Pak Rahmat yang tidak bisa berbuat apa-apa karena dia tahu pertengkaran antara suami istri mencoba membantu Zara dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.
\*\*\*\*