Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 6


__ADS_3

Zara yang masih tampak kesal dengan kedua orang tadi pun memutuskan untuk menghubungi Ipul dan memintanya untuk dijemput.


"Jemput gue Pul." pintanya saat suara Ipul terdengar di telinganya.


"Udah malem." tolak Ipul.


"Iishh baru juga jam 8,bete banget ini gue di rumah." paksa Zara tidak mau mengerti.


"Kalau bete lu tidur aja." sahut Ipul cepat dan ingin segera mengakhiri pembicaraan namun kemudian Zara malah mengancam.


"Ya udah gue keluar sendiri kalau gitu."


Ipul yang mendengarnya pun batal mematikan HP nya, jujur dia tidak akan bisa jika membiarkan Zara pergi seorang diri pada malam Hari apalagi tadi gadis itu mengatakan sedang bete tentunya pasti ada masalah yang lagi-lagi tengah dialami oleh Zara di rumahnya itu.


"Ya udah iya gue jemput, tunggu sebentar lu jangan pergi kemana-mana, awas aja kalau gue dateng elu nya minggat." ancam Ipul.


"He he." Zara terkekeh senang.


"Siap bos." sahutnya kemudian lalu mematikan HP dan segera bersiap untuk menunggu kedatangan Saipul Gunawan yang memang kerap kali ia hubungi jika sehabis bertengkar dengan ibu tiri dan saudara tirinya itu.


"Gue cabut dulu ya." kata Ipul pada teman-teman tongkrongannya, ya malam itu Ipul memang sedang bersama teman-temannya, yah sekedar berkumpul mengisi waktu dimalam minggu yang kebanyakan orang lain bergandengan tangan dengan pasangannya, namun tidak dengan mereka yang jomblo, mereka hanya bisa bersenda gurau dengan teman-temannya tapi itu cukup menyenangkan daripada harus diam di rumah atau berkeliaran tak jelas seorang diri.


"Mau kemana?" dua orang temannya bertanya kompak.


"Jemput temen." sahut Ipul seraya memasukkan kunci motornya.


"Temen apa temen? cieee Saipul punya cewek." ledek yang lain menggoda Ipul yang malah mengangkat kepalan tangannya.


"Hahahaha." teman-temannya pun melemparkan suara tawa yang cukup kencang bahkan hampir menyaingi suara motor Sport yang malam ini digunakan oleh Ipul.


"Bawa kesini, kenalin ke kita-kita kali aja bisa kita tikung, iya nggak?" canda salah seorang teman Ipul yang langsung di angguki oleh yang lain.

__ADS_1


"Ogah berandalan semua lu mah." sahut Ipul lalu melajukan motornya dengan kencang.


Zara tengah menunggu kedatangan Ipul, dan tak lama terdengar suara motor berhenti didepan rumah.


HP Zara berdering karena ada yang meneleponnya.


"Ini gue dibawah cepet keluar." suara Ipul dari HP.


"Iya tunggu sebentar." sahut Zara lalu mematikan HP dan bergerak kearah jendela untuk membuka kuncinya agar saat ia pulang nanti ia bisa masuk melalui jendela kalau pintu depan dikunci oleh salah satu dari kedua wanita yang amat ia benci itu.


Setelah selesai Zara pun berjalan membuka pintu kamar secara perlahan agar tidak menimbulkan suara lalu menguncinya dari luar agar tidak ada orang yang masuk ke kamarnya itu.


Gadis itu mengintip terlebih dulu sebelum keluar dari kamar, ia takut kalau-kalau ibu tiri dan saudara tirinya memergoki dirinya.


Ia melangkah berjinjit menuruni tangga seraya matanya terus mengawasi ke setiap tempat di rumah itu agar jangan sampai ketahuan.


Zara yang memang tidak tahu bahwa Dewi dan Dira tengah pergi untuk mengobati luka bekas gigitannya terus bersikap waspada.


Langkah kakinya begitu hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik, bahkan saat membuka pintu pun matanya sampai terpejam seperti menahan agar suara pintu tidak timbul.


"Berarti nih orang masih belum tidur kan? tapi kok sepi banget, tumben." kata Zara lagi mulai menyadari keanehan rumahnya yang hening tidak ada suara dari kedua wanita yang tadi mengeroyok dirinya, tapi meskipun dikeroyok Zara lah pemenangnya.


Namun ia tidak mau sibuk memikirkan kemana dua wanita itu pergi yang jelas sekarang ia bersiap untuk keluar karena Ipul yang sudah menunggunya.


"Nih pake." kata Ipul seraya menyerahkan helmnya kepada Zara yang baru saja menutup pagar rumah yang tidak terlalu tinggi itu, jadi ia pun tidak perlu khawatir jika nanti pagar digembok oleh Dewi karena ia cukup ahli memanjat nya, tentunya dengan pengalaman yang sudah sering ia lakukan sejak ayahnya meninggal.


"Nggak mau, kegedean." tolak Zara yang melihat helm full face yang diberikan Ipul.


"Dih pake nggak!kalau nggak mau kita nggak jadi pergi." ancam Ipul sengit.


"Aahh, emang nggak ada helm yang lain?" rengek Zara.

__ADS_1


"Ya nggak ada Za, gue kan nggak niat ngajak elu jalan." kata Ipul menatap Zara.


"Lagian bukan ambil dulu." tukas Zara dengan wajah cemberutnya.


"Kejauhan Zaraaa, cepetan mau pake apa nggak nih?! kalau nggak mau pake kita nggak jadi pergi." ucap Ipul mulai memberi pilihan.


"Sini." akhirnya mengambil helm dari tangan Ipul dan memakainya.


Dan ketika helm sudah terpasang di kepala Zara Ipul malah terlihat menahan tawanya.


Zara yang sadar pun lantas mendelikkan matanya.


"Kalau lu ketawa lagi gue buang nih helm!" ancam Zara tidak Terima Ipul terlihat bahagia melihat dia yang bertubuh kurus memakai helm seperti ini.


Sudah pasti akan terlihat sangat lucu.


"Lu kaya power rangers." ledek Ipul lagi yang mendadak teringat film jaman dulu yang meskipun dia lahir di jaman moderen tapi tentunya berbekal dengan HP canggih dia juga tahu tontonan apa saja yang ada pada jaman dulu.


"Berisik." omel Zara seraya mencubit bahu ipul dengan kencang, yang meskipun memakai jaket tapi cubitan yang diberikan Zara cukup bisa membuat anak muda itu berteriak kesakitan.


"Ayo cepet jalan."


"Lah elu dari tadi bukannya naik malah ngomel masalah helm." sahut Ipul.


Tanpa rasa bersalah setelah memberikan cubitan ditubuh Ipul, Zara pun menaiki motor tinggi itu.


"Akhirnya gue bisa naik motor sport Ipul." tutur Zara merasa senang.


"Norak." omel Ipul sambil menyalakan mesin motornya, dan setelah motor Ipul berlalu muncullah sebuah taksi yang berhenti didepan rumah.


Siapa lagi kalau bukan Dewi dan anaknya yang baru pulang dari dokter dengan tangan yang diperban.

__ADS_1


Mereka berdua masuk kedalam rumah dengan perasaan biasa karena menyangka Zara berada didalam kamarnya.


***************


__ADS_2