
Setelah mengantar Zara pulang dengan keduanya yang tak saling bicara sedikitpun di sepanjang perjalanan, akhirnya Davi sampai ke rumahnya dan tentu saja sudah di sambut dengan bawelnya celotehan kedua adik kembarnya yang langsung memberondongnya dengan pertanyaan.
"Abang mau pindah ke ke tempat yang jauh ya?" sambut Anaya yang memang lebih bawel dari Adiknya, Inaya.
Tadi sore memang Anaya sempat mendengarkan obrolan kedua orang tuanya tentang sang Abang yang akan berkuliah di luar negeri tentunya semua sudah dipersiapkan oleh Ayah beserta Mamahnya itu lantas membuat seorang gadis berusia 8 tahun itu mulai kepo dan bertanya namun hanya mendapatkan jawaban kalau Abangnya akan tinggal di tempat yang jauh untuk beberapa tahun.
Jadilah ketika Davi pulang Anaya langsung mengajukan pertanyaan yang malah tidak mendapatkan jawaban apapun dari Abangnya itu.
Davi mengabaikannya hanya sibuk memarkirkan motor besarnya di depan rumah lalu nyelonong masuk tak menggubris si bawel Anaya yang selalu ingin tahu apa yang dilakukan oleh Abangnya itu.
Anaya terus menguntit langkah Davi membuat pemuda itu kesal lalu mengomel.
"Ngapain sih ikutin Abang terus." omel Davi seraya berdiri dengan wajah yang nampak marah kepada Adiknya.
Mendapat Omelan dari sang Abang membuat gadis kecil yang duduk di kelas 3 SD itu memanyunkan wajahnya lantas beralih ke ruang tengah untuk melanjutkan belajarnya dengan sang kembaran yang memang lebih pendiam dari dirinya.
"Davii." baru saja Davi akan melanjutkan langkahnya menuju kamar terdengar seruan dari Mamahnya yang berada di ruang kerja Ayahnya dna tentunya Ayahnya pun ada di sana.
"Iyaa." dengan malas Davi menjawab panggilan sang Mamah.
"Sini sebentar ada yang ingin Ayah dan Mamah bicarakan." ucap Andini dari dalam ruangan kerja itu yang terdengar sangat keras bahkan ketika jarak antara tangga dan ruang kerja tidak terlalu jauh namun wanita itu tetap mengeluarkan lengkingan suaranya.
Tanpa menyahut lagi Davi pun langsung menujukan langkahnya ke dalam ruangan dimana kedua orang tuanya itu berada sekarang.
__ADS_1
Begitu Davi masuk ke dalam ruangan itu dirinya sudah di sambut oleh dua pasang mata yang menatapnya bergantian.
"Duduk sini Nak." panggil Andini kepada anak lelaki satu-satunya itu untuk duduk di sampingnya, sedangkan sang Ayah duduk di sofa depannya dengan menyilangkan kaki dan mengetuk-ngetuk kan jarinya ke pahanya.
Pemuda yang berusia 18 tahun dan sebentar lagi akan lulus SMA itu menuruti perkataan sang Mamah untuk duduk.
"Kamu kapan ujian?" tanya Andini langsung pada intinya yang berkaitan dengan urusan anaknya itu nantinya.
"Bulan besok." sahut Davi pelan.
"Davi akan kuliah di mana?" tanya Davi yang memang cukup sadar diri apa yang akan dibicarakan oleh kedua orang tuanya itu sekarang.
Arman menarik napas panjang lalu menghembuskan nya kembali untuk menjawab pertanyaan dari sang anak yang rupanya sudah mengerti dengan maksud dirinya dan sang istri saat ini.
"Baik." singkat Davi tanpa panjang lebar berkata karena menurutnya tidak ada lagi yang perlu dia katakan.
Andini yang sejak tadi mendengarkan merasa sedikit tak percaya mendengar jawaban yang di berikan oleh anak lelakinya itu, anak lelaki yang biasanya enggan sekali untuk duduk diam mendengarkan perkataan Arman kini terlihat sangat berbeda, dalam hatinya wanita yang sudah melahirkan 3 orang anak itu bertanya-tanya sendiri tentang perubahan sikap sang anak sekarang ini.
"Apa masih ada lagi yang ingin Ayah bicarakan?" Davi bertanya sopan kepada Ayahnya yang jadi saling memandang pada istrinya itu dengan kernyitan di dahinya.
"Yah." Davi memanggil Ayahnya yang sekarang jadi tergagap karenanya.
"Tidak ada, tidak ada." jawab Arman berulang.
__ADS_1
"Kalau tidak ada Davi mau ke kamar." ucap Davi kemudian.
"Ya sudah sana masuk kamar dan istirahat." tukas Andini pada Davi yang langsung beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan itu meninggalakan kedua orang tuanya yang dipenuhi dengan kebingungan tentang apa yang terjadi pada anaknya itu hingga bisa berbicara dengan sopan pada mereka seakan Davi yang dulu penurut dan baik telah kembali lagi.
"Kalau Davi kayak gini Mamah jadi nggak rela dia pergi Yah." tukas Andini ketika pintu sudah di tutup oleh Davi.
Arman mengatur napasnya, sebenarnya dia sebagai Ayah pun tidak ingin anak lelaki satu-satunya itu kuliah di tempat yang jauh, namun dia tetap harus melakukan itu agar Davi bisa kembali menjadi anak yang baik seperti dulu.
"Kita tetap harus melakukan itu Mah." ujar Arman.
"Tapi Mamah khawatir, Mamah juga takut kalau Davi sakit atau makannya tidak teratur tidak ada yang mengawasinya juga."
"Kan di sana ada Tantenya yang akan mengurus dia, lagian aku juga tidak akan berani melepas anak itu di negara orang sendirian." ucap Arman.
Memang di negara tempat Davi kuliah nanti akan ada Tantenya, Adik dari Arman dan Irman yang menetap di sana bersama dengan suaminya, dan memang Arman sudah menitipkan Davi kepada Adiknya itu tentu sang Adik tidak keberatan karena wanita itu juga butuh teman ketika suaminya bekerja karena belum di karuniai seorang anak setelah 10 tahun menikah, tentunya mereka akan dengan senang hati untuk menjawab Davi, apalagi Davi adalah keponakan mereka sendiri.
"Sudah tidak usah terlalu dipikirkan, aku yakin semuanya akan berjalan lancar dan saat kembali nanti anak laki-laki kita itu akan menjadi kebanggaan untuk kita." tutur Arman meyakinkan sang istri yang wajahnya terlihat sedih karena akan berpisah dengan anaknya itu, anak yang terkadang membuatnya kesal namun tetap saja sebagai orang tua rasanya ia tak sanggup jika harus berpisah dengan anaknya itu.
"Anaya dan Inaya sudah selesai belum belajarnya?" tanya Arman mengingatkan Andini bahwa masih ada anak kembar mereka yang akan menemani mereka saat Davi pergi nanti.
Mendengar perkataan sang suami membuat Andini terkesiap dan tergesa bangun untuk melihat kedua anaknya itu di ruang tengah yang tadi sedang belajar.
**********
__ADS_1