Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 145


__ADS_3

"Za,"


Handphone sudah berada di tangannya namun suara Davi membuat Zara menoleh pada pria itu, tidak melihat pada layar handphone yang kini sudah gelap.


"Ada pesan," beritahu Zara seraya menyerahkan handphone pada sang suami.


Davi tidak menjawab apa-apa tapi pria itu melangkahkan kaki mendekat pada istrinya lalu meraih handphone yang Zara ulurkan, tanpa bicara segera memeriksa pesan yang Zara maksudkan lalu dengan cepat pula menyimpan handphonenya ke dalam laci meja.


Setiap gerak-gerik yang Davi tunjukkan tidak luput dari perhatian Zara, wanita itu melihat dengan rasa penasaran tentang siapa yang mengirimkan pesan pada sang suami, jika Lugo orangnya rasanya sangat tidak mungkin karena selama beberapa bulan menjadi istri dari Davi Zara mengetahui Lugo akan menelepon suaminya apabila memang ada yang ingin pria itu sampaikan.


"Sudah malam ayo tidur, kamu harus banyak istirahat, tadi Mama pesan itu kan?," Davi naik ke atas tempat tidur tepat di samping sang istri langsung menjatuhkan kepalanya di bantal.


Zara mengangguk namun kemudian menyingkap selimut yang tadi menutupi sebagian tubuhnya.


"Mau kemana?" Tanya Davi ketika Zara malah akan turun dari tempat tidur.


"Jendela belum di tutup," ucap Zara menunjuk jendela yang terbuka dengan gorden yang bergerak kesana-kemari terkena hembusan angin malam.


Zara menutup jendela serta gorden baru kemudian kembali menuju tempat tidur, duduk di tepi ranjang seraya melihat pada suaminya yang sudah memejamkan mata membuat Zara heran begitu cepat suaminya itu tertidur padahal dia merasa hanya membutuhkan waktu sangat singkat untuk menutup jendela yang berjarak hanya beberapa langkah saja, terdengar hembusan napas yang begitu halus seperti meyakinkan Zara bahwa suaminya itu memang benar-benar sudah tidur.


Akhirnya wanita itupun mematikan lampu utama baru kemudian menyalakan lampu meja dan ikut merebahkan diri di samping sang suami menatap wajah pria itu hingga akhirnya tak lagi bisa menahan kantuk yang kian menyerang, Zara memejamkan mata dan mulai memasuki alam mimpi.


Merasa sudah tak ada pergerakan Davi pun membuka matanya yang langsung berhadapan dengan wajah sang istri, wajah wanita yang sudah tampak jauh lebih kurus dari saat mereka pertama kali saling bertabrakan di toilet tempat pengisian bahan bakar.


Nyatanya pria itu hanya sedang berpura-pura tidur saja.

__ADS_1


Tangan Davi terulur untuk menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Zara seraya mulutnya berbisik pelan sangat pelan hingga mungkin hanya hatinya saja yang mendengar, "maafkan aku Za, Aku tidak sengaja," bisiknya seiring dengan tangannya yang bergerak turun ke arah perut istrinya dan menyentuhnya lalu untuk kedua kalinya kembali membisikkan hal yang sama, "maafkan Ayah," binar matanya menyiratkan sebuah penyesalan yang tak terhingga, penyesalan yang benar-benar sangat dia sesali dan akan terus dia sesali mungkin seumur hidupnya.


Ketika pagi menjelang Zara terbangun dari tidur dengan senyum yang mengembang di bibirnya, sepertinya wanita itu baru saja mengalami mimpi yang sangat indah tadi malam wajahnya pun terlihat lebih segar meskipun baru bangun tidur ketimbang hari-hari yang lalu.


"Mas," membangunkan suaminya yang masih tertidur dengan sentuhan di pipinya.


"Hhmm," Davi mulai bergerak menggeliat akibat sentuhan sang istri, matanya pun perlahan mulai dia buka.


"Jam berapa sekarang?" tanya Davi dengan suara khas bangun tidur.


"Jam setengah lima," sahut Zara tetap tak berpindah dari posisinya.


"Masih sangat pagi kenapa sudah bangun?" tanya Davi mengucek kelopak matanya yang masih mengantuk dan sebenarnya berat untuk di buka.


Terang saja sebab semalaman hingga pukul 3 pagi pria itu terus menatap wajah istrinya yang tertidur lelap, baru bisa tidur setelah merasa matanya sudah tidak lagi sanggup untuk terjaga, dan pagi ini saat dia baru tidur kurang dari 2 jam, malah sudah di bangunkan oleh istrinya.


Davi langsung mengerjapkan matanya lalu bergegas duduk seraya berkata, "kita siap-siap dulu, lalu kita akan segera pergi kemana pun yang kamu mau," pria itu menjadi bersemangat ketika mendapati wajah istrinya yang sudah berangsur ceria, sungguh merasa sangat bahagia kala bangun pagi dan sudah di sambut dengan senyuman yang beberapa waktu hilang dari wajah sang istri.


"Benar?" tanya Zara dengan mata yang berbinar.


Pria yang tengah menatap lembut wanita di depannya itu pun mengelus rambut sang istri seraya mengangguk, "aku antar dan temani kamu sepuasnya," celetuk Davi.


"Dia pasti senang," Zara menyentuh perutnya seiring dengan tatapan mata yang begitu teduh, kasih sayangnya sebagai seorang Ibu tentu akan semakin bertambah karena sadar dia hampir saja melakukan sebuah kesalahan fatal yang tidak akan dapat termaafkan dan mungkin akan membuatnya makin terpuruk.


"Aku sangat menyayangi kalian," Davi menarik tangan Zara agar mendekat lalu mendekap tubuh wanita hamil itu ke dalam pelukannya, sangat erat hingga Zara mengerutkan keningnya merasakan sesuatu yang dia sendiri pun tidak bisa mengartikannya.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu berjalan beriringan menuju mobil, setelah bersiap akhirnya mereka benar-benar akan keluar dari apartemen untuk memenuhi keinginan sang istri yang sangat mendadak di pagi hari.


"Aku haus," keluh Zara kala mereka sudah hampir sampai di tempat yang mereka tuju.


"Di depan ada minimarket, kita berhenti di sana," terang Davi sambil terus menggenggam jemari istrinya yang sejak berangkat tadi tak pernah dia lepas, sepanjang jalan melakukan itu seolah sangat takut Zara akan meninggalkannya.


Di depan minimarket Davi menepikan mobilnya, "kamu tunggu sebentar di sini," peringat Davi.


"Iya," mengangguk.


"Jangan kemana-mana!" kali ini Davi berkata penuh penekanan.


"Iyaaa," bahkan membuat Zara sedikit gemas karena memang dia memang tidak akan pergi kemanapun bukan? tentu saja karena pria yang dia cintai pun tidak akan meninggalkannya.


Setelah puas dengan jawaban yang Zara berikan barulah Davi turun dari mobil tapi baru saja berjalan beberapa langkah pria itu kembali menoleh melihat kepada istrinya, terus berulang seperti itu bahkan ketika pria itu berada di dalam minimarket pun masih saja terus mengarahkan pandangannya pada Zara yang berada di dalam mobil, membuat Zara melambaikan tangan seraya mengumbar senyum.


Saat menunggu Davi membeli minuman fokus Zara terganggu pada handphone milik pria itu, ingatannya pun kembali pada satu pesan dari akun sosial media sang suami, hingga akhirnya rasa penasaran untuk mencari tau pun kembali muncul dan membuatnya mengambil handphone itu.


Wanita itu menengok lebih dulu ke arah minimarket memastikan Davi belum keluar, melihat Davi yang masih berada di dalam sana pun akhirnya membuat Zara memberanikan diri untuk membuka handphone sang suami dengan begitu mudah karena memang dia tau kata sandinya.


Dengan cepat handphone itupun menyala menunjukkan fotonya yang di jadikan wallpaper hingga Zara mengulas senyum sumringah, lalu sesaat kemudian tangannya bergerak di layar handphone untuk mencari akun Instagram suaminya.


Zara menautkan kedua alisnya kala tidak mendapati akun Instagram Davi, sudah bolak-balik mencari dan berulang kali namun Instagram itu memang tidak ada.


"Kenapa tidak ada?" gumam Zara, kegiatannya terhenti ketika mendengar suara pintu mobil di buka, wanita itu tidak menyadari jika suaminya sudah kembali dia pun segera meletakkan handphone itu pada tempatnya semula.

__ADS_1


*******


__ADS_2