Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 22


__ADS_3

Saipul dibuat harus mendengus kencang dengan gelengan kepala yang sangat tidak percaya dengan Zara yang sudah begitu keras kepala tak mau mendengarkan dirinya.


Bahkan saat Zara berjalan menuju kantin pun Ipul hanya bisa melihatnya saja yang semakin menghilang didepannya sana.


Lelaki yang hatinya merasakan terluka itu hanya dapat memejamkan mata dan berharap Davi tidak mengecewakan Zara, gadis yang selama ini bersamanya dalam keceriaan serta keteguhannya dalam menjalani hidup, tentu juga keteguhannya yang mengharapkan kisah cinta dengan kebahagiaan seperti layaknya dalam dongeng.


Malam hari..


"Mau kemana lagi kamu Davi?!" suara berat dan tegas dari seorang lelaki dewasa yang Davi panggil ayah menggema diruang tamu ketika mendapati anak lelakinya sudah membawa jaket serta helm menandakan akan itu akan kembali pergi padahal baru sekitar satu jam dia pulang.


Itu suara Ayah Davi yang sudah sangat jengkel dengan kelakuan dari anaknya itu, anak lelaki satu-satunya dan yang paling tua, karena Davi mempunyai dua adik kembar yang keduanya perempuan dengan jarak usia yang cukup jauh dengan Davi.


Kedua Adiknya Davi masih kelas 3 sekolah dasar, seharusnya Davi menjadi contoh seorang Abang yang baik bagi kedua Adik perempuannya, tapi harapan Arman sungguh tidak bisa diwujudkan oleh Anaknya itu.


Sang anak malah asik dengan kegiatannya diluar rumah yang terkadang menimbulkan masalah, karena kerap kali balapan liar bahkan pernah pulang ke rumah dalam keadaan mabok.


Sungguh anak yang tidak bisa diandalkan serta dibanggakan sama sekali untuknya.


Davi tidak menjawab pertanyaan Kepala keluarga dirumahnya itu, dia malah dengan acuh melenggang keluar seraya memakai jaket hitam miliknya.

__ADS_1


"Abang mau kemana?" teriak si kembar Anaya yang lebih tua 6menit dari sang Adik Inaya.


"Jalan-jalan." sahut Davi tanpa menghentikan langkahnya.


"Aku mau ikut." mengikuti sang Abang yang sudah keluar.


"Nggak boleh." sahut Davi dengan wajah yang dibuat sangar agar Adiknya takut.


Namun bukan Anaya namanya jika langsung takut hanya dengan wajah seram yang ditunjukkan oleh Davi, sebaliknya gadis cilik itu malah semakin berlari kencang mendekati Abangnya yang sudah bersiap untuk naik keatas motor besarnya.


"Mamah Anaya nih." teriak Davi memanggil sang Mamah yang entah sedang apa sekarang ini hingga membiarkan Anaya terus mengikutinya.


Tentu saja orang tua itu kesal karena Davi yang tidak menggubris perkataannya tadi.


Davi tidak mengindahkan Omelan Ayahnya yang terus saja nyerocos dan jika sudah begini Davi akan bisa menebak kata apalagi yang akan keluar dari mulut sang Ayah.


"Contoh Adik sepupu Saipul, dia tidak pernah melakukan hal aneh seperti kamu ini yang doyan keluar malam dan pulang pagi." nah kan itulah yang akhirnya membuat Davi seperti sekarang, terlalu seringnya dia dibandingkan dengan Saipul hingga membuatnya memberontak seperti sekarang, memilih menjadi anak nakal karena bosan mendengar nama Ipul menjadi pujian didalam keluarganya sendiri.


"Kenapa sih Yah?" Andini yang tadi sedang dikamar bersama Inaya Adik kembar Anaya keluar menghampiri ketiga orang yang tengah berada di teras rumah.

__ADS_1


"Lihat anak kamu, baru pulang sudah mau pergi lagi." Arman mengadukan kelakuan anak lelakinya kepada sang istri.


Sontak tatapan Andini berpindah kepada Davi yang sebenarnya sudah akan pergi tapi tertahan, yah apalagi kalau bukan untuk mendengarkan omelan sang Ayah lebih dulu yang terus membandingkannya dengan sang Adik sepupunya yang bernama Saipul Gunawan.


Andini menarik napas, hanya itu yang bisa ia lakukan karena memang sudah cukup bosan mendengar omelan dari suaminya ketika memarahi anak pertama mereka yang pergaulannya memang sungguh mengkhawatirkan, ia sebagai Ibu pun sudah sering memberikan nasehat untuk anak laki-lakinya itu, tapi ia harus bagaimana lagi jika semua nasehat yang ia berikan hanya sekedar masuk saja kedalam telinga lalu tak lama akan keluar lagi.


"Anaya mau ikut Abang Mah, tapi Abang malah marah." adu Anaya pada sang Mamah.


"Anaya kan harus belajar, besok ada ulangan." kata Andini lembut mengingatkan apa yang harus dilakukan oleh sang Anak hari ini.


Saat Omelan Arman sudah tidak terdengar lagi Davi pun dengan cepat menaiki motornya dan langsung tancap gas membuat kedua Arman mengambil sendal untuk menimpuk sang anak tapi sendal tidak mengenai Davi malah dia yang jatuh terjerembab karena menginjak sarung yang dia gunakan.


Tentu saja hal itu malah membuat istri dan anak gadisnya menahan tawa terlebih ketika Arman hendak bangun namun lagi-lagi harus jatuh karena sarung yang masih tersangkut dikakinya.


"Suami Jatuh malah diketawain." omel Arman setelah sudah bangun seraya membetulkan sarungnya yang sudah tidak beraturan.


"Ayah jatuh, Ayah jatuh." sorak Inaya yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu melihat Ayahnya jatuh tadi.


"Inaya." mata Andini mendelik untuk membuat anaknya itu berhenti bersorak padahal ia sendiri rasanya tak tahan untuk mentertawakan suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2