Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 41


__ADS_3

"Mau cari siapa disini?" pertanyaan dari Davi membuat Zara mendelik seraya memakai kembali sepatunya.


Pertanyaan menyebalkan yang membuat Zara tersulut, sudah jelas ia datang ke sekolah itu untuk menemui dirinya namun pemuda itu dengan konyolnya bertanya seolah masih ada orang lain di sekolah itu yang akan Zara cari.


Zara bangun dari aspal yang dipenuhi oleh debu.


"Cari cowok ganteng yang sayang sama aku!!" Zara menjawab sengit tentunya jawabannya itu membuat Davi menyebikkan bibirnya.


"Ya sudah cari sana, toh kita juga sudah tidak ada hubungan." pungkas Davi lalu berjalan menuju motor dan mendudukinya.


Tingkah Davi itu memancing emosi Zara.


Gadis itu berjalan mendekati Davi dan dengan sengaja mengadu kepalanya dan Davi dengan kencang berniat kembali memberi pelajaran pemuda itu.


Dug


Suara dari dua kepala yang sengaja di benturkan.


"Adduh." spontan Davi mengaduh merasakan sakit di kepalanya, baru saja semalam dia merasakan ranting yang mendarat di keningnya dan sekarang sudah di tambah lagi oleh Zara.


"Ini biar kamu sadar kalau suatu saat kamu yang akan mencari aku!!" ketus Zara.


Belum puas melakukan hal itu Zara pun menginjak kaki Davi dengan sangat kencang untuk membalas sakit yang ia rasa karena ban motor pemuda itu.


"Dan ini karena tadi kamu melindas kaki ku!" sengit Zara lalu setelahnya melenggang pergi.


Tapi sekitar jarak 5 meter gadis itu berhenti dan menoleh lalu berkata.


"Sampai kapan pun kamu harus ingat perkataan ku semalam, jika kamu sampai melupakan hal itu, suatu saat kamu akan menyesal!!!" kata Zara tajam dan sangat tegas, mengingatkan Davi untuk mengingat apa yang ia katakan semalam.


Ucapan Zara yang tidak ingin hubungan mereka putus tidak boleh di lupakan Davi apalagi jika sampai suatu saat nanti lelaki itu berhubungan dengan wanita lain, sungguh pada saat itu Zara akan menjauh dari Davi.


Davi terdiam mendengarkan semua yang dikatakan oleh Zara dan melupakan rasa sakit di kening serta kakinya, karena kini yang ada di dalam pikirannya adalah ancaman Zara padanya barusan.

__ADS_1


Apa yang terjadi jika sampai Davi mengabaikan perkataan Zara itu?.


Davi tidak bisa membayangkannya karena dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, sedangkan sebentar lagi dia akan meninggalkan negara ini untuk melanjutkan kuliahnya.


Tentunya saat itupun dia pasti akan bisa melupakan Zara yang tanpa dia sadari mulai merasuki sebagian hatinya.


Davi membuang napas kasarnya dan memakai kembali helm nya setelah tubuh Zara tidak lagi terlihat.


Pemuda itu membawa motornya dengan kencang untuk pulang ke rumah, Ya Davi langsung pulang ke rumahnya dan tidak ada lagi acara nongkrong ataupun balap liar seperti yang biasa dia lakukan, meskipun teman-temannya sudah berulang kali membujuknya, tapi Davi dengan tegas menolak dia memilih untuk fokus belajar dan membuat kedua orang tuanya bangga pada dirinya agar tidak melulu membandingkan dirinya dengan sang Adik sepupunya.


***********


"Ada Ipul." Andini yang langsung keluar begitu mendengar suara motor langsung memberitahu Davi yang baru saja mematikan mesin motornya.


Perkataan sang Mamah pastinya membuat Davi terkejut disertai dengan alisnya yang tertaut, dengan gerakan lambat Davi turun dari motor besarnya itu lalu melangkah masuk rumah diiringi dengan Mamahnya yang berbicara.


"Dia tungguin kamu dari tadi Nak, sekarang ada di kamar kamu." ucapan Andini membuat langkah Davi berhenti lalu melihat sang Mamah.


"Kok Mamah ijinin dia ke kamar Davi." keluh Davi yang tidak senang tempat pribadinya dimasuki oleh orang lain sekalipun itu adalah Adik sepupunya sendiri.


"Kan Ipul Adik kamu juga Nak, menurut Mamah ya nggak masalah, toh dia juga nggak akan berantakin barang-barang kamu kok." Andini menenangkan Davi agar tidak semakin marah apalagi sampai melampiaskan kemarahannya itu kepada Ipul.


Davi memutar bola matanya mengekspresikan kesal yang dia rasakan saat ini.


Davi menuju tangga untuk naik ke kamarnya dengan langkah yang berderap.


"Nanti ajak Ipul makan bareng." seru Andini dari belakang Davi.


Davi tidak menjawab, dia terus saja memfokuskan matanya pada pintu kamar yang terbuka sedikit.


Saat Davi melangkah masuk dia mendapati Ipul tengah duduk di kursi belajarnya menghadap pintu kamar seperti sudah sangat menunggu kedatangan dari Kakak sepupunya itu.


"Kita perlu bicara." kata Ipul tajam.

__ADS_1


"Soal Zara?" tebak Davi seraya melempar tas sekolahnya ke ranjang.


"Kalau iya kenapa? urusan Zara akan jadi urusan gue, lu sakitin Zara itu artinya lu berurusan sama gue!!" Ipul berkata sengit dengan tatapan yang sudah sangat buas.


"Lu kalau suka sama dia nggak usah sampai kayak gini Pul." sindir Davi dengan wajah datar.


"Kalau gue suka sama dia emangnya kenapa? bukan urusan lu juga Bang!" sembur Ipul namun dia masih bisa bersikap sopan dengan tidak melupakan bahwa Davi lebih tua darinya.


"Nggak ada masalah sama gue, malah lebih bagus gue udah putusin dia dan itu kesempatan elu buat deketin dia bukan? harusnya lu senang."


"Gue suka sama dia tapi gue nggak akan egois maksa dia buat suka juga sama gue, yang dia suka dan dia sayang itu elu Bang, elu!!" sentak Ipul dengan gigi yang bergemerutukan menahan luapan kekesalan terhadap Abang sepupunya itu.


"Tapi gue nggak suka sama dia, lu jauhin dia deh dari gue, risih gue tiba-tiba dia muncul di sekolah gue cuma mau bikin drama yang jadi tontonan orang." tutur Davi mengatakan yang baru saja Zara lakukan terhadapnya.


Mata Ipul membelalak sempurna mendengar kata risih yang keluar dari mulut Davi.


"Gue nggak nyangka lu jadi jahat kayak gini Bang." ujar Ipul menyayangkan sikap Davi yang sudah sangat berbeda dari yang dulu dia kenal.


"Setiap orang berhak berubah jadi apa yang dia mau." ucap Davi ringan.


"Gue udah bilang putus berkali-kali sama Zara, jadi sekarang tugas lu buat jauhin dia dari kehidupan gue." pernyataan Davi kali ini membuat Ipul merangsek maju untuk mendaratkan tinjunya ke wajah putih Davi yang sejak semalam menjadi sasaran Zara.


Kali ini Ipul yang menghadiahi Davi tinjuan dua kali di wajahnya itu, sedang Davi membiarkannya saja tanpa berniat untuk membalas perlakuan sang Adik sepupu.


"Puas belum? kalau belum puas terusin nih." tantang Davi dengan sengaja memajukan wajahnya.


Ipul berdecih dan tak menggubris omongan Davi, dia malah beranjak bangun dan keluar dari kamar.


"Kalau suka tuh berjuang bukannya malah sok jadi pahlawan." seru Davi ketika Ipul berjalan.


Tentu Ipul mendengarnya karena jaraknya belum terlalu jauh, tapi dia coba untuk abai dan menuruni tangga lalu mencari Tantenya yang berada di taman belakang bersama anak kembarnya.


Ipul berpamitan pada wanita itu dan hanya mengangguk saja ketika Anaya dan Inaya memintanya untuk kembali lagi nanti dan bermain bersama mereka.

__ADS_1


*************


__ADS_2