Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 21


__ADS_3

"Kita putus." kata Davi dingin membuat langkah Zara yang ingin memasuki gerbang sekolah terhenti.


"Putus?" tanya Zara seraya menoleh pada pemuda yang baru saja mengatakan perpisahan padahal hubungan mereka pun belum ada satu Minggu.


Zara menatap wajah Davi yang bahkan sekarang begitu tenang setelah mengucapkan kata yang sukses menghentakkan jantung Zara.


Tidak ada penyesalan yang tergambar di wajah pemuda yang entah kenapa bisa begitu disukai oleh Zara padahal pertemuan dan pendekatan mereka yang sangat singkat hingga akhirnya berpacaran.


seperti orang yang tidak pernah memilik perasaan apapun terhadapnya Davi dengan ringan mengatakan putus dengannya.


"Iya mulai saat ini kita putus." Davi mengulang lagi pernyataannya.


Pernyataan yang membuat Zara bagaikan disambar petir dipagi yang cerah itu.


Semudah saat mengajaknya berhubungan, semudah itu pula Davi mengatakan putus dengannya, karena pertengkaran mereka yang sesungguhnya berawal dari wanita bernama Dinda.


Aneh, bukannya menjelaskan siapa Dinda sebenarnya, tapi Davi malah memutuskan dirinya.


"Aku tidak mau." tolak Zara yang sungguh sangat bodoh karena tidak mengerti bahwa Davi hanya sedang mempermainkannya saja.


Hanya karena Saipul lah Davi sampai memacari Zara, padahal di hati pemuda itu tidak pernah terpatri nama Zara seperti yang dikatakannya saat menembak Zara sekitar 3hari yang lalu.


Pertemuan pertama mereka yang dikatakan Davi sungguh berkesan hingga membuat dia tidak bisa tidur hanyalah kebohongan semata, tidak ada kesan dan cinta pada pandangan pertama seperti yang selalu Davi gaungkan setiap kali menghubungi Zara.


Davi menarik napas merasa lega karena permintaan putusnya yang hanyalah sebuah gertakan ditolak oleh Zara, dan itu menandakan bahwa Zara memang sangat menyukainya.


"Aku nggak mau putus." Zara mengulang perkataannya seraya menggelengkan kepala lemah menatap manik mata sang pujaan yang sekarang juga tengah melemparkan tatapannya pada wanita yang berdiri memakai seragam sekolah yang sama dengan dirinya.


"Kalau kamu tidak percaya denganku lebih baik kita putus." ucap Davi.


"Aku bukan tidak percaya, tapi aku tidak suka ada wanita lain yang berusaha mendekati kamu terlebih dengan berani menempelkan bibirnya pada pipi kamu." Zara menampik tuduhan Davi yang mengatakan bahwa ia tidak percaya pada pemuda itu.


Bagaimana bisa percaya jika kedua matanya menyaksikan sendiri apa yang tengah dilakukan oleh Dinda pada kekasihnya.


Mata Davi membesar mendengar penuturan Zara tentang alasan kenapa wanita itu marah kepadanya.

__ADS_1


"Aku bertengkar dengan Dinda itu karena kamu, aku cemburu Davi, cemburu." cetus Zara dengan raut wajahnya yang sudah begitu sendu terlihat jelas ada tetesan air mata dikedua pipinya.


"Dia hanya mantan, aku sudah putus dengannya." bahkan tanpa raut bersalah dna menyesal Davi berkata seperti itu, baru memberitahukan hubungannya dengan Dinda sekarang.


"Lalu kenapa dia berani melakukan itu?" tanya Zara.


"Aku tidak tahu yang jelas aku sudah putus dengannya saat aku meminta kamu menjadi kekasih." jawab Davi dengan tingkat ketenangan yang sungguh membuat Zara tak percaya, disaat kekasihnya tampak begitu sedih namun sikapnya masih bisa teramat santai.


"Jika tidak ingin putus lupakan masalah semalam." Davi memperingatkan.


Zara menghapus air mata yang terlanjur menetes dikedua pipi halusnya seraya mengangguk.


"Nanti sore aku jemput." ucap Davi kemudian seraya memaksakan senyum diwajahnya.


"Iya." angguk Zara cepat.


"Aku masuk ya." imbuh Zara dengan senyuman yang teramat manis.


Davi mengangguk, dan saat Zara berjalan membelakangi Davi menuju gerbang matanya terus menatap tajam Zara lalu tersenyum miring menunjukkan kepuasan yang dia rasakan saat ini.


Kisah cinta macam apa ini karena hanya satu pihak yang mempunyai perasaan sedangkan satu pihak yang lain hanya memanfaatkannya saja.


Zara begitu terkejut kala ada satu tangan yang menarik dirinya ketika baru saja melewati pintu gerbang yang masih tertutup seperti biasa karena Zara datang cukup pagi.


"Otak lu dimana?" Ipul melabrak Zara yang ternyata sejak tadi dia menyaksikan serta mendengarkan apa yang tengah terjadi antara Zara dan Davi.


"Apa sih Pul." tukas Zara yang merasa begitu terkejut.


"Lu nggak ngerasa si Davi tuh nggak suka sama elu, dia cuma main-main sama elu." omel Ipul dengan suara yang begitu gemasnya karena tingkah Zara yang seakan buta karena kecintaanya pada Davi.


"Dia cinta sama gue Pul, gue yakin itu." sahut Zara mencoba menyakinkan Saipul.


"Elu yakin, tapi dia nggak yakin sama elu!" sentak Ipul lagi.


"Nih otak lu isinya apa siih, bingung gue." menunjuk kening Zara mempertanyakan isi otak dari sang teman yang entah kenapa membuat dia begitu takut untuk kehilangan.

__ADS_1


"Dia mau putus, seharusnya lu iyain, bukannya lu tolak." kata Ipul lagi dengan begitu tajam.


"Kenapa sih lu benci banget sama Davi Pul?"


"Karena gue tahu siapa Davi, gue kenal siapa dia." sahut Ipul spontan yang membuat mata Zara terbuka lebar.


"Lu kenal dia? dimana? kenapa nggak bilang dari awal?" dan rentetan pertanyaan terucap dari mulut Zara.


Ipul menjadi kaget sendiri dengan pernyataan nya barusan dna tentunya sekarang dia harus menjelaskan pada Zara tentang siapa Davi.


"Dia Kakak sepupu gue." tukas Ipul.


Zara memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Ipul lantas bergumam.


"Pantas saja gue ngerasa wajah Davi mirip seseorang, ternyata orang yang mirip dengannya itu elu." Zara makin menegaskan tatapannya di wajah Ipul yang memang agak mirip dengan Davi dari senyum mata hidung serta bentuk alis, yang membedakan hanyalah warna kulit dan gigi gingsul yang tidak dimiliki oleh Saipul.


"Udah jelas kan kenapa gue larang elu dekat sama Davi, gue tahu seberandal apa Davi." tegas Ipul pada wanita yang masih saja memperhatikan wajahnya.


"Putusin Davi sekarang!" pinta Ipul.


"Nggak mau, gue suka sama dia Pul." tolak Zara yang memang sudah begitu buta akan perasaannya pada Davi.


Saipul mendesah panjang serta penuh frustasi.


"itu malah lebih bagus kalau ternyata dia adalah sepupu elu." seloroh Zara.


Ipul mengernyit lalu mengusap wajahnya sendiri tidak tahu lagi harus dengan apa dia memberitahukan Zara.


"Kalau pun benar bahwa Davi nggak suka sama gue, gue akan buat dia supaya jadi suka sama gue." pernyataan Zara yang terdengar begitu menyakitkan di hati Ipul, sungguh dia merasa sangat sakit seakan ada pisau yang menggoresnya hingga berlumuran darah.


"Gue akan kejar dia, dan buat dia jadi suka sama gue." keteguhan hati Zara yang tentu tidak bisa lagi dilarang oleh Ipul.


Zara yakin kejaran cintanya akan membuat Davi balik membalas perasaan yang ia berikan.


****************

__ADS_1


__ADS_2