
Setelah sekian lama berada di dalam pesawat yang mengudara akhirnya pesawat itupun mendarat di bandara.
Semua penumpang sudah bersiap untuk turun dari pesawat dengan pramugari yang berdiri di depan pintu dengan senyuman mereka.
Namun tidak dengan Davi, lelaki itu malah masih santai duduk di tempatnya seraya menyelojorkan kakinya, seperti memang sengaja melakukan hal itu untuk menarik perhatian pramugari yang melihatnya.
"Itu kok malah masih enak aja tiduran?" kata Titi kepada Zara.
Zara pun melihat ke tempat yang tengah di lihat oleh Titi.
Wanita itu mendengus kesal kala tahu siapa orang yang sekarang sedang Titi bicarakan.
"Mbak kasih tahu aja deh." seru Zara yang tidak ingin berurusan dengan Davi.
"Iya deh." sahut Titi lalu mengarah pada lelaki yang sudah memasang kacamatanya kembali.
"Mohon maaf Bapak, pesawat sudah mendarat Bapak bisa turun sekarang." ucap Titi dengan suara yang sangat sopan.
"Saya tidak mau turun." jawab Davi seenaknya.
"Loh, Bapak mau apa di sini?" tanya Titi bingung serta keningnya yang dipenuhi dengan lipatan.
"Saya tidak akan turun sebelum berbicara dengan teman anda." tutur Davi.
"Teman saya?" semakin bingung lah Titi siapa yang di maksud oleh Davi saat ini.
"Tuh yang berdiri di sana." bibir Davi menunjuk Zara yang tengah berdiri memperhatikan Titi dan Davi berbicara.
"Zara?" tanya Titi.
Davi mengangguk cepat.
"Baiklah kalau begitu akan saya panggil." ucap Titi lalu berlalu menuju Zara yang matanya terus mengikuti gerakan Titi yang sedang menuju dirinya.
"Dia mau ngomong sama kamu, kamu temuin dulu sana." pinta Titi.
"Aku nggak mau." tolak Zara.
"Sebentar aja Zara, daripada dia nggak turun."
__ADS_1
"Ya udah kalau dia nggak mau turun tinggal aja dia di sini sendiri." seru Zara.
"Udah cepat sana." mata Titi mendelik tajam melihat Zara, seperti mengancam jika Zara tidak mau menemui Davi yang tengah bertingkah konyol.
"Iyaa." kata Zara yang akhirnya menurut daripada seniornya itu mengomel tak henti sepanjang hari kepadanya.
Davi tersenyum kala melihat Zara tengah berjalan menuju dirinya.
"Apa lagi sekarang?!" tanya ketus seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Jangan galak-galak, tuh temen kamu lihat." ucap Davi.
Zara menoleh lalu menurunkan tangannya dan menunjukkan wajah yang di buat ramah ketika melihat Titi mendelik seram, menuntut Zara bersikap ramah sekalipun penumpang yang tengah dihadapinya itu sangat mengesalkan.
"Ada apa tuan, apa yang perlu saya bantu." tanya Zara dengan memaksakan senyum di garis bibirnya yang malah terlihat kaku.
Davi malah tersenyum melihat betapa menggemaskannya Zara saat ini.
"Kamu cantik." puji Davi.
Zara membuang napasnya dengan kencang mendengar pujian yang keluar dari mulut mantan kekasihnya itu.
"Ini." Davi memberikan HP miliknya pada Zara membuat wanita yang tengah berdiri itu mengernyit tak mengerti.
"Ketik nomor HP kamu agar aku bisa menghubungi kamu." ternyata meminta nomor HP Zara sebelum turun dari pesawat.
Zara diam saja mengabaikan tangan Davi yang menyodorkan benda tipis itu di depannya.
"Kalau nggak mau aku nggak akan turun." ancam Davi dan tepat setelah Davi berucap terdengar suara Titi yang menyebut nama Zara seperti meminta temannya itu untuk segera menyelesaikan urusannya dengan Davi agar mereka bisa segera turun dari pesawat.
Zara pun mengambil HP milik Davi dengan kasar lalu mengetikkan nomor miliknya.
Davi tersenyum puas melihatnya lalu setelah Zara mengembalikan HPnya dia pun beranjak dari duduknya bersiap untuk keluar dari badan pesawat.
"Jangan menghindari dariku." ucap Davi lalu melangkah tapi berhenti ketika di samping Zara.
"Mendekatkan bibirnya di telinga Zara lalu berucap. "Maafkan aku Zara." katanya dengan suara yang sangat pelan namun terdengar jelas di telinga Zara.
Davi langsung pergi membiarkan Zara yang berdiri mematung mendengar perkataan maaf yang baru saja diucapkan oleh lelaki yang senyumnya tak pernah berubah dari 5 tahun yang lalu, hanya saja hati Zara yang masih belum bisa menerima kehadiran Davi terlebih lagi ketika Zara mengetahui bahwa Davi sudah memiliki kekasih, Zara semakin berusaha untuk menutup hatinya bagi lelaki itu.
__ADS_1
Dirinya juga seorang wanita sama seperti seorang yang sekarang menjadi kekasih Davi, tentunya akan sangat kecewa bila mengetahui kekasihnya tengah mengejar wanita lain.
Tidak, Zara tidak sejahat itu. ia tidak akan mau menjadi tertuduh nantinya jika sampai hubungan Davi dan kekasihnya berantakan.
Zara menatap punggung Davi yang perlahan menghilang, punggung yang semakin tegap dan betapa ototnya menonjol di balik kemeja hitam itu, terlihat sekali bahwa Davi tumbuh menjadi pria dewasa yang pastinya di kagumi banyak wanita di dekatnya.
Zara menggigit bibir bawahnya menahan sesak yang sungguh menyiksa, sekeras apapun Zara berusaha tapi pada nyatanya hatinya itu tetap masih terukir nama seorang Daviandra Arrayyan.
Davi berjalan cepat ketika melihat orang tua serta kedua Adik kembarnya tengah menanti kedatangannya.
"Abaaang." seru kedua gadis kecil ketika melihat Davi menuju mereka.
Davi pun semakin mempercepat langkahnya menuju mereka, langsung memeluk Adiknya sekaligus lalu beralih pada Ayah dan Mamahnya yang tengah memandang penuh kasih sayang.
"Bagaimana keadaan kamu Nak?" tanya Andini setelah melepas pelukan sang anak.
"Baik Mah, Mamah dan Ayah bagaimana?" tanya Davi dengan kerinduan yang terpancar jelas dari kedua matanya, betapa dia sangat rindu dengan keluarganya itu yang sekian lama hidup berjauhan.
"Kami semua baik, lihat kedua adik mu itu bahkan mereka tumbuh sangat cepat." tunjuk Arman pada dua adik Davi yang sudah semakin menjadi gadis.
Davi tersenyum melihat kedua adiknya.
"Ayo kita pulang, Inaya nggak suka lama-lama di sini." ucap Inaya yang memang tidak menyukai keramaian seperti bandara ini yang sekarang di penuhi oleh banyak orang.
"Ya sudah ayo kita pulang, Mamah sudah masak semua makanan kesukaan kamu." kata Arman pada Davi.
"Iya." Andini mengangguk membenarkan ucapan suaminya itu.
Mereka pun berjalan bersamaan keluar dari bandara itu.
"Mah." panggil Davi ketika adik dan Ayahnya sudah berjalan lebih dulu.
"Kenapa." tanya Andini melihat ke mata sang anak yang baru saja kembali.
"Davi ketemu Zara." adu Davi tentang pertemuannya dengan Zara pada wanita yang sekarang menatapnya seakan tidak percaya.
Terlihat sekali bahwa Andini begitu terkejut dengan pengakuan Davi, sungguh ia tidak percaya ia dan Ipul bertahun-tahun berusaha untuk mencari Zara namun tidak kunjung bertemu tapi Davi, yang bahkan berada di luar negeri malah bisa bertemu dengan Zara gadis yang pernah di sakiti oleh anaknya itu.
Davi dan Andini berdiri saling memandang dengan sorot mata tak terbaca, hingga suara Arman kembali menyadarkan keduanya untuk segera masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
****