Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 91


__ADS_3

Zara terbangun lebih dulu dari pada Davi yang kini masih meringkuk di balik selimut.


Wanita itu memperhatikan wajah sang suami yang tampak sangat nyenyak hingga hanya terdengar suara nafasnya saja yang begitu halus.


Ia tersenyum manakala mengingat apa yang mereka lakukan semalam, segurat warna merah pun tak ayal langsung menghiasi kedua pipinya merasakan malu karena untuk pertama kalinya ia dan Davi saling melihat tubuh masing-masing tanpa sehelai benang pun.


Mengingat matahari yang sepertinya sudah meninggi membuat Zara bergegas turun dari atas ranjang dan siap menuju kamar mandi guna membersihkan dirinya, tentunya ia merasa tidak enak karena sekarang ini ia tinggal di rumah mertuanya dan ini sudah sangat siang untuk seorang wanita bersuami bangun tidur.


Bukankah seharusnya ia saat ini sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan? tapi kenyataannya ia malah baru menyiramkan air ke tubuhnya.


Zara menyelesaikan mandinya lalu berpakaian dan menuruni tangga menuju dapur, tapi ketika ia melihat mertua dan Adik iparnya sudah duduk di meja makan membuat Zara makin merasa tak enak.


"Nah tuh pengantin baru sudah turun." seru sang Mamah mertua yang membuat ketiga orang lainnya menoleh ke arah wanita yang berjalan lambat dengan raut wajah tak enak karena terlambat bangun di hari pertamanya sebagai seorang istri dan juga menantu di rumah itu.


"Maaf Mah, Zara kesiangan." tutur Zara pelan.


"Nggak apa-apa, Mamah kamu juga dulu kayak kamu kok, malah lebih siang lagi bangunnya." terang Ayah mertuanya seraya menyunggingkan tawa yang lebar melihat istrinya cemberut.


"Jangan di omongin juga dong Yah." protes Andini pada sang suami yang membuat Zara tersenyum melihat ternyata dia memiliki mertua yang sangat baik.


"Kak Zara semalam dengar suara serem nggak?" pertanyaan dari Anaya membuat mata kedua orang tuanya membulat lebar, sedangkan Kakak ipar yang di tanya hanya mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Adik iparnya itu.


"Nggak usah di dengerin." Andini berkata pelan pada sang menantu seraya menggelengkan kepalanya karena ia tahu betul pertanyaan yang diajukan oleh anaknya itu karena ulah keponakannya Saipul.


"Anaya kan tanya Mah." protes gadis yang sudah memakai seragam sekolah itu pada sang Mamah.


"Tapi Kak Zara lagi nggak mau di tanya sama kamu." seru Andini.


"Habiskan sarapannya lalu berangkat sekolah." kali ini sang Ayah lah yang berucap karena ia sudah menyelesaikan sarapannya dan akan berangkat ke kantor, tentunya kedua anak kembarnya itu akan berangkat bersamanya.


"Cepat Kak Anaya." seru Inaya sang Adik yang lebih muda 3 menit dari sang Kakak kembar.


"Zara bangunin Davi dulu ya Mah." ijin Zara.


"Iya." angguk Andini.

__ADS_1


"Kelelahan rupanya anak itu." Arman menggeleng kepalanya dengan senyum yang sangat misterius.


Zara menunduk mendengar ucapan sang mertua sedangkan Andini menyenggol kaki suaminya yang malah tersenyum lebar seperti tanpa rasa bersalah ketik Zara sudah berjalan menaiki tangga.


Zara masuk ke dalam kamar lalu membuang napas kasar karena mendengar ledekan mertuanya barusan.


"Sayang." panggil Zara pada Davi sambil menggoyang tubuh suaminya itu.


"Hhmm." suara serak dan berat dari sang suami menjawab panggilan darinya.


"Bangun." Zara berkata manja dengan terus menggoyang tubuh sang suami yang hanya menggeliat.


"Sebentar lagi sayang." seru Davi meminta waktu agar dia bisa memuaskan rasa kantuknya yang memang ia baru tidur setelah hampir menjelang pagi.


"Bangun, aku di ledekin sama Ayah gara-gara kamu belum bangun." adu Zara dengan bibir yang mengerucut.


Mendengar aduan dari istrinya Davi pun segera menelentangkan tubuhnya lalu memaksa membuka matanya yang sebenarnya masih ingin di pejamkan.


"Di ledekin kenapa?" tanya Davi dengan suara yang masih sangat berat.


"Ya emang aku kelelahan, terus ngantuk juga." sahut Davi malah setuju pada omongan Ayahnya itu.


"Ayah juga pasti tau kita semalam ngapain aja, makanya Ayah ngomong gitu." sambung Davi seraya mengelus punggung Zara yang duduk bersimpuh di sampingnya.


"Iya, tapi kan aku malu." ucap Zara dengan para yang ia rasakan.


Mendengar kata malu Davi lantas tersenyum lalu menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannta.


"Nggak apa-apa, Ayah cuma bercanda kok." menenangkan wanita yang kini sudah benar-benar menjadi istrinya.


"Kamu sudah mandi?" tanya Davi mengalihkan pembicaraan agar wanita di dalam dekapannya itu melupakan apa yang Ayahnya katakan.


Zara mengangguk.


"Pantas wangi banget." kata Davi seraya mengendus aroma tubuh sang istri yang entah kenapa malah jadi membangkitkan sesuatu di bawah sana.

__ADS_1


Tangan Zara yang berada tepat di atas milik suaminya pun lantas bergeser dengan sangat cepat.


"Mandi sayang." seru Zara lalu segera menjauh dari sang suami yang terkekeh geli melihat istrinya begitu panik karena takut akan dia serang kembali seperti semalam.


Davi pun menurut pada permintaan sang istri untuk segera mandi.


Saat Davi tengah mandi Zara pun melakukan tugasnya sebagai seorang istri, yaitu menyiapkan pakaian untuk sang suami lalu meletakkannya di atas ranjang yang sebelumnya sudah ia rapihkan dengan seprai yang baru ia ganti.


"Sayang." panggil Davi saat keluar dari dalam kamar mandi ketika melihat Zara tengah berdiri di depan jendela untuk mengikat gorden agar matahari bisa masuk ke dalam kamar mereka.


"Ya." sahut Zara seraya menoleh.


"Nanti ikut aku ya." ujar Davi sambil memakai pakaian yang sudah di sediakan oleh sang istri.


"Kemana?" tanya Zara karena ia tidak tau suaminya itu akan mengajaknya kemana.


"Rahasia, nanti juga kamu tau."


"Jangan ngerjain aku ya?!" Zara memperingatkan dengan kedua mata yang mendelik penuh ancaman.


"Haha." Davi terkekeh melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh istrinya itu, sepertinya Zara menaruh curiga pada suaminya sendiri.


Mulut Zara maju sekian Senti malah membuatnya terlihat sangat imut, tentu karena bibirnya yang kecil.


Keduanya turun bersamaan menuju ruang makan yang sudah tidak ada siapapun di sana.


"Mamah mana Bi?" tanya Davi pada pembantu rumah tangga yang bekerja di rumahnya ketika wanita itu melintas di depan mereka.


"Pergi arisan Mas." sahut wanita paruh baya yang memang sejak dulu memanggilnya dengan sebutan Mas Davi.


"Oh ya udah." ucap Davi lalu menggenggam tangan Zara menuju meja makan karena perutnya memang sudah sangat keroncongan.


Keduanya makan dengan tenang meski sesekali terdengar suara kaget Zara karena tiba-tiba Davi meremas pahanya dengan sangat gemas.


\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2