
Davi sudah siap untuk kembali ke Australia guna menyelesaikan hubungannya dengan Lisa sesuai dengan yang dia janjikan kepada Zara.
"Yah." memanggil sang Ayah yang sudah masuk ke dalam mobil untuk mengantar anaknya itu.
"Kenapa?" tanya sang Ayah seraya menyalakan mesin mobil.
"Kalau nanti Davi nggak kembali lagi ke Australia nggak apa kan Yah?" tanyanya kemudian karena kemungkinan jika dia dan Zara benar-benar menikah rasanya tidak mungkin untuk mereka menetap di Negara itu.
Lelaki yang berkacamata itu menatap sang anak dengan kepala yang menggeleng.
"Tidak bisa, kamu masih harus bertanggung jawab atas perusahaan yang sudah menjadi milik mu itu." ucap sang Ayah dengan wajah tenang namun sorot mata yang terlihat sangat tajam.
"Bawa Zara bersama kamu tinggal di sana, tentunya sebagai seorang istri dia akan mengikuti kemana suaminya akan tinggal." ujarnya lagi.
"Tapi Yah." Davi mencoba bernego tetapi nyatanya Ayahnya itu menginginkan dia menjadi seorang lelaki yang bertanggung jawab atas semua yang sudah menjadi miliknya termasuk perusahaan yang bergerak di bidang penerbitan itu.
"Kan semalam Mamah sudah bilang sama kamu Davi." suara sang Mamah mengiterupsi yang ternyata sejak tadi mendengarkan obrolan kedua lelaki di bangku depan itu.
"Kamu harus pikirkan semuanya matang-matang, seharusnya kamu tanya dulu sama Zara tentang persoalan ini." ucap sang Mamah.
"Davi akan bicara sama Zara setelah sampai nanti." kata lelaki itu akhirnya memutuskan apa yang harus dia lakukan.
"Abang kok cuma sebentar sih." protes Anaya yang memang belum merasa puas bertemu dengan sang Abang yang baru lima hari namun sudah harus kembali pergi lagi.
"Nanti Abang balik lagi Naya." kata sang Mamah kepada dua gadis kembar yang sudah pasti memiliki perasaan yang sama ketika mengetahui bahwa Abangnya itu harus kembali ke Australia.
__ADS_1
"Abang udah nggak sama Kak Lisa kan?" kali ini Inaya yang bicara sebab sejak tadi telinganya terus mendengar orang-orang dewasa itu membicarakan nama Zara, wanita yang mereka ketahui sangat menyukai Abang mereka.
"Kamu nggak usah ikutan" kata Andini memperingatkan anaknya yang bahkan sudah menjadi ABG itu.
"Inaya nggak suka sama Kak Lisa." walaupun belum pernah bertemu namun sepertinya gadis itu sudah bisa menebak bahwa Lisa bukan perempuan yang baik untuk sang Abang.
"Jangan ngomong gitu." tukas Andini.
"Ih Inaya bener Mamah, Anaya juga nggak suka waktu Abang sama Kak Lisa telepon itu, Kak Lisa judes." timpa Anaya.
"Anaya lebih suka Kak Zara." lanjut Anaya yang membuat Davi menoleh padanya.
"Inaya juga. pokoknya Abang harus sama Kak Zara aja." dan si kembar yang beranjak remaja itu terus berceloteh menanyakan kapan Abangnya itu akan mempertemukan mereka kembali dengan Zara yang sudah bertahun-tahun tidak mereka jumpai.
Mereka sudah sampai di bandara yang akan segera memisahkan mereka kembali.
Davi terlihat sedang berbicara di HPnya siapa lagi yang akan dia hubungi saat ini jika bukan wanita yang berjanji untuk menunggunya kembali.
"Aku berangkat ya Za." ucap Davi dengan suara yang terdengar sangat lembut di telinga Zara.
"Iya, kamu hati-hati kalau sudah sampai kabari aku." pinta Zara yang tentu saja membuat hati Davi merasa sangat tentram mendengarnya.
Akhirnya wanita bernama Zara itu mulai mau membuka hatinya kembali.
__ADS_1
"Vi." seru Zara kemudian.
"Iya Za kenapa?" tanya Davi.
"Hari Sabtu aku ada penerbangan ke Australia." Zara memberitahukan jadwalnya pada lelaki yang kemarin malam membuatnya merasa ketakutan di sebuah kamar Villa yang katanya menyeramkan.
"Aku akan tunggu kamu di sana." kata Davi.
"Sudah ya Za, Aku harus masuk pesawat sekarang." ujar Davi yang diiyakan oleh wanita tercintanya itu.
Setelahnya Davi berpamitan pada orang tuanya juga kedua Adiknya terlebih dulu.
Banyaknya pesan yang dikatakan oleh sang Mamah membuat Davi mengangguk haru, sungguh kasih sayang Mamahnya itu selalu tidak terhingga untuknya membuat dia menyesal karena dulu sempat menjadi anak yang sangat nakal.
*****
__ADS_1