Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 113


__ADS_3

Davi yang baru saja selesai mengobati tangannya beranjak ke pintu saat mendengar suara ketukan, dan begitu pintu terbuka betapa terkejutnya dia ketika Pak Rahmat bersujud di depan kakinya, tentu Davi serentak mundur tak dengan segala pertanyaan di dalam kepalanya, dan dia baru tersadar bahwa saat kejadian dia tidak melihat penjaga rumahnya itu, jadi dimana pria tua itu berada saat ada seorang penjahat yang masuk ke rumahnya?


Dan seketika Davi mulai mengerti ketika Pak Rahmat mulai berbicara menerangkan kemana dia pria tua itu pergi dan yang lebih menyesakkan dan membuat Davi tak percaya adalah pengakuan Pak Rahmat tentang siapa Rangga, Rangga adalah keponakan pria tua itu! sungguh Davi merasa seperti seorang suami yang bodoh bahkan telah mempekerjakan keluarga dari seorang penjahat.


Tentu yang ada di dalam kepala Davi sekarang ini bahwa penjaganya itu telah bersekongkol.


"Saya benar-benar tidak tahu dan menyangka Rangga akan melakukan perbuatan jahat itu, saya sangat percaya padanya bahkan tanpa rasa curiga apapun memintanya untuk menggantikan saya menjaga rumah ini, saat saya harus pulang ke rumah mengurus Kakak saya yang meninggal," terang Pak Rahmat, memang semua ini adalah perbuatan Rangga seorang diri, yang Pak Rahmat tahu selama ini Rangga adalah keponakan yang baik serta tidak pernah berbuat macam-macam, tapi sungguh dia tidak menyangka ketika mendapat kabar bahwa keponakannya itu telah melakukan kejahatan terhadap istri dari pria yang sudah sangat baik memberikannya pekerjaan membuat pria tua itu teramat merasa bersalah.


Pak Rahmat langsung percaya begitu saja ketika Rangga dengan penuh yakin akan menggantikan dirinya menjaga rumah malam itu ketika Pak Rahmat harus pergi ternyata hal itu malah di jadikan kesempatan oleh sang keponakan kala dirinya memberitahu jika Davi sedang tidak ada di rumah dan hanya ada Zara saja seorang diri.


Flashback on


Pak Rahmat yang sedang duduk di tempatnya berjaga sambil memperhatikan lampu kamar sang pemilik rumah, dia yang tadi menyaksikan pertengkaran antara sepasang suami istri itu turut merasakan kesedihan melihat Zara yang menangis saat Davi pergi, pria tua itu mendesah menarik nafasnya lalu menggelengkan kepala, pertengkaran antara suami istri memang hal yang biasa dan dia yakin besok pagi dua orang itu sudah kembali berbaikan.


Suara motor yang berhenti di dekat pagar membuat perhatian Pak Rahmat beralih, begitu melihat sosok yang turun dari motor pria tua itu beranjak menghampiri.


Keponakannya yang datang dengan wajah yang terlihat cemas.


"Uwa Edo meninggal, Paman," kata Rangga cepat bahkan sebelum Pak Rahmat mendekat.


Terlihat gurat terkejut di wajah pria itu mendengar kabar yang baru saja dikatakan oleh sang keponakan, anak dari Kakak keduanya.

__ADS_1


Rangga datang mengabarkan Kakak tertuanya meninggal dunia membuat Pak Rahmat diliputi perasaan panik, ingin segera pulang namun tugasnya sebagai seorang penjaga rumah membuatnya bingung, tak mungkin dia pergi begitu saja sedangkan di dalam rumah hanya ada seorang wanita saja.


Jika dia pergi begitu saja, bukankah dia tidak bertanggung jawab pada pekerjaannya? bimbang harus bagaimana membuat Rangga bertanya.


"Paman kenapa?" tanya Rangga.


"Paman mau pulang, tapi ini rumah siapa yang jaga," tukas pria tua itu kebingungan.


"Yang punya rumah belum pulang kan?" tanya Rangga sebab yang dia ketahui bahwa pemilik rumah sedang tidak ada, Davi sedang keluar negeri dan Zara untuk sementara tinggal dengan mertuanya, itu yang Rangga tahu dari sang Paman.


"Sudah pulang, tapi tadi Mas Davi pergi dan sekarang di dalam ada istrinya," terang Pak Rahmat tanpa mengatakan bahwa terjadi pertengkaran oleh suami istri itu.




"Biar Rangga aja yang gantiin Paman jaga," ujar Rangga cepat.


Pak Rahmat mengernyit heran, sebenarnya dia merasa aneh namun Rangga meyakinkan dirinya untuk percaya, tentu sebagai seorang Paman yang merasa kenal dengan sifat sang keponakan pun mengangguk setuju serta mengiyakan saran dari keponakannya itu, lalu pria tua itupun segera bersiap untuk pergi ke tempat sang Kakak.


Tidak lagi ragu untuk pergi toh hanya malam ini saja dan besok dia akan langsung kembali lagi.

__ADS_1


Rangga mengangguk saat sang Paman mulai berjalan keluar pagar, "Hati-hati Paman," ucap Rangga lalu memasukkan motornya dan menyembunyikannya di belakang pohon besar di halaman rumah.


sepeninggalnya sang Paman, pemuda itu tersenyum penuh arti seraya menatap lampu kamar atas yang masih menyala, dia sangat yakin itu adalah kamar milik wanita yang selama ini diam-diam dia perhatikan.


"Bukankah suamimu itu sangat jahat Za? dia pergi meninggalkan kamu sendirian di rumah, kalian pasti bertengkar bukan? aku sangat yakin, tidak ada pria manapun yang rela wanitanya di sentuh oleh pria lain, itu yang aku rasakan saat dia seenaknya menyentuh tubuhmu!" desis Rangga seorang diri, terlihat Rangga begitu puas dengan tindakannya yang sudah mengirim rekaman yang dia ambil diam-diam, sebenarnya saat itu Rangga ingin sekali menghajar Ipul dengan tangannya karena berani menyentuh Zara, namun kemudian dia merasa lebih baik bermain halus saja, dan nyatanya rencananya itu membuahkan hasil yang di luar dugaan.


Malam ini dia akan menghabiskan waktu bersama dengan wanita yang dia impikan selama ini, malam ini dia akan benar-benar menyentuh tubuh wanitanya tanpa harus berkhayal lagi.


Rangga tersenyum samar lalu melangkah ke arah rumah dan mencari-cari sakelar listrik lalu mematikannya, hingga semua lampu pun mati dan membuat gelap rumah.


Flashback off



"Maafkan kecerobohan saya Mas." Pak Rahmat terus memohon pada Davi yang tidak bersuara apapun, percuma dia bersuara kalau semua sudah terjadi yang bisa dia lakukan saat ini adalah menuntut Rangga seberat-beratnya atas apa yang sudah pria itu lakukan terhadap istrinya.



"Saya ingin Rangga di hukum seberat mungkin," tutur Davi tegas.


Pak Rahmat mengangkat wajahnya lalu mengangguk, "Lakukan hal yang memang sudah seharusnya dia terima, itu sudah ganjaran atas perbuatan jahat yang dia lakukan, saya tidak akan meminta Mas Davi untuk membebaskannya," sahut Pak Rahmat cukup sadar diri, dia datang ke rumah ini juga bukan untuk memohon agar Rangga di bebaskan, dia hanya ingin meminta maaf karena semua ini terjadi atas kebodohannya yang sangat percaya pada keponakan bajingan nya itu.

__ADS_1


Davi menarik nafas dalam, terlihat betapa pria itu sangat lelah, jika saja dia seorang wanita tentunya dia akan memilih untuk menangis dengan kencang tanpa perlu diam-diam menumpahkan air mata di dalam kamar mandi seperti tadi pagi.


****


__ADS_2