
Davi gegas menuntun Zara masuk ke dalam mobil yang memang sudah sudah menunggu kedatangan mereka.
"Kita mau kemana?" tanya wanita di sampingnya yang terlihat sangat bingung ketika Davi menarik dirinya begitu saja bahkan ketika ia tengah bersama dengan teman-temannya yang ketiga wanita temannya itu sekarang malah menatap dirinya dengan mata yang berbinar merasa iri menyaksikan apa yang dilakukan oleh Davi yang kata mereka itu memuliki wajah dan postur tubuh sangat sempurna.
"Uhh aku mau juga." seru Reni dan sinta bersamaan sambil menggigit jari telunjuk mereka menyaksikan adegan bak sebuah drama korea yang sering mereka tonton ketika sedang tidak ada tugas.
Kebahagiaan yang dirasakan Zara sepertinya menular pada teman-temannya yang lain terutama ketiga wanita itu, tapi sepertinya Zara tidak bisa mengabaikan tatapan sinis dan marah yang kini di tunjukkan oleh Abian sang pramugara.
Wajah lelaki itu terlihat sekali tidak senang dengan apa yang dia saksikan saat ini terlebih ketika Davi semakin mengeratkan genggaman tangannya pada sang wanita pujaan hatinya.
Marah, sungguh Abian marah terlebih lagi ketika Zara seperti mengabaikan perkataannya tempo hari, namun sepertinya Abian sangat pandai untuk menyembunyikan kemarahannya saat ini terbukti teman-temannya bahkan tidak menyadari betapa tidak senangnya dia melihat ada lelaki lain yang berjalan di samping Zara seraya menggenggam tangannya erat.
"Kita mau kemana?" tanya Zara ketika Davi memintanya untuk masuk ke dalam mobil.
"Kemana saja aku mau." Davi malah menjawab enteng seraya kini sibuk memasukkak koper milik Zara ke dalam bagasi di bantu oleh sopir yang entah namanya siapa karena Zara tidak kenal.
Saat sudah selesai Davi pun gegas masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Zara yang kini tengah mengerucutkan bibirnya kesal karena jawaban yang di berikan oleh Davi tidak membantunya mengurangi rasa penasaran yang ada di dalam hatinya.
"Lucu banget sih." Davi tersenyum seraya mengusap hidung m,ancung Zara ketika melihat mulut sang wanita yang maju beberapa centi itu.
__ADS_1
"Iish." menepis tangan Davi namun dengan sangat pelan.
Davi malah menautkan tangan mereka berdua seraya matanya tetap fokus pada jalanan kota Jakarta yang sepertinya tidak pernah sepi oleh kendaraan yang berlalu lalang.
"Sepertinya kamu harus membuat ulang seragam pramugari kamu ini Za." ucap Davi yang lantas membuat Zara menoleh padanya disertai dengan kerutan di dahinya menyiratkan bahwa ia tidak cukup mengerti dengan maksud perkataan sang kekasih barusan.
Davi membalas tatapan Zara dengan tajam sebelum kembali berkata.
"Aku merasa pakaian yang kamu pakai sekarang ini sangat kecil, lihatlah lekukan tubuhmu terlihat jelas dan panjang atasannya ini juga sangat tidak normal, bahkan saat kamu mengangkat tangan saja pinggang dan perutmu bisa di lihat jelas oleh orang lain." tukas Davi dengan matanya yang menatap pakaian yang kini menempel di tibuh Zara. hatinya sangat tidak terima anggota tubuh wanita yang dia cintai menjadi konsumsi dan bisa saja malah mengundang kejahatan nantinya, dan dia tidak mau itu terjadi.
Kebingungan pun melanda di hati Zara saat Davi mulai meributkan soal pakaian yang memang harus ia pakai ketika sedang bertugas.
Davi menautkan kedua alisnya mendengar jawaban sang wanita di sampingnya yang terlihat tidak suka dengan perkaataannya barusan.
"Kalau kamu memang tidak bisa menerima dan tidak mau mengerti, apa tidak sebaiknya jika kita tidak perlu meneruskan rencana kita untuk menikah?" pertanyaan Zara pun sangat sukses membuat bola mata Davi membesar sedemikian rupa.
"Aku ngomongin seragam kamu Za, kenapa kamu malah membahas soal pernikahan?" menatapwanita di sampingnya yang malah memalingkan wajah seraya menggeser tubuhnya hingga mepet ke pintu.
"Memang sekarang kamu hanya membahas soal pakaian aku, tapi tidak menutup kemungkinan setelah menikah kamu akan mulai menuntut aku untuk berhenti bekerja." Zara menjawab dengan sangat ketus.
__ADS_1
Davi seakan tertusuk dengan pernyataan Zara barusan, apakah setelah menikah dia rela menginjinkan Zara untuk tetap bekerja sekalipun dia sudah pernah berjanji untuk memberi ijin.
Davi pun pusing sendiri dengan apa yang dia inginkan, sebagai seorang lelaki yang nantinya akan menjadi suami tentunya sangat ingin jika istrinya hanya melayani dirinya seorang, tapi jika memikirkan perasaan Zara dia tidak akan bisa egois seperti itu, dia tidak mau hanya karena keegoisan dirinya pekerjaan yang sudah menjadi impian Zara sejak dulu terhenti begitu saja, dan akhirnya Davi pun kembali mantab pada keputusannya untuk membiarkan Zara puas dengan pekerjaannya toh nanti jika wanita itu sudah mulai jenuh dan lelah akan berhenti sendiri tanpa dia minta, begitulah yang ada di dalam pikiran Davi saat ini.
"Ya udah aku kalah, saat ini kamulah pemenangnya." ucap Davi sambil menggeser tubuhnya mendekat pada sang wanita yang tengah marah padanya.
"Jangan terus menuntut aku Vi, aku tidak suka, untuk masalah baju aku akan minta di buatkan yang ukurannya sedikit lebih besar dari ini agar tidak terlalu ketat tapi juga tidak terlalu longgar." ujar Zara akhirnya yang membuat Davi mengulas senyum sambil mengangguk setuju.
Zara tampak bengong ketika mobil sudah berhenti di rumah Davi yang kini banyak mobil terparkir di depan halaman, dan sepertinya juga banyak orang di dalam sana.
"Ini apa?" bingung Zara.
"Ini rumahku sayang." jawab Davi tenang.
"Iya aku tau ini memang rumah kamu, yang aku tanyakan kenapa membawa aku ke rumah kamu saat sedang ada acara." tutur Zara tak mau turun dari dalam mobil.
"Ini acara kita." sahut Davi dan dengan tak sabarnya malah menggendong tubuh ramping Zara tidak peduli saat mulut wanita di gendongannya berteriak minta di turunkan.
****
__ADS_1