
Setelah pelajaran terakhir selesai Ipul langsung berjalan dengan cepat keluar kelas membuat Zara yang melihatnya merasa heran, ia pun segera merapikan alat belajarnya dan mengejar Ipul.
"Ipul, tunggu." seru Zara yang berjalan cepat namun langkah Ipul jauh lebih cepat karena kakinya yang panjang cukup membantunya untuk segera sampai pada motor yang terparkir di parkiran sekolah.
Zara menormalkan napasnya yang sesak lebih dulu ketika melihat Ipul sedang memakai helm nya.
Namun saat Zara beristirahat itu Ipul menyalakan mesin motornya dan mulai menjalankannya memancing Zara untuk kembali mengejar pemuda itu.
Motor Ipul berhenti di depan Zara yang tengah berlari hingga lari Zara terhenti.
"Gue ada urusan naik angkot nggak apa-apa kan?" tanya Ipul.
Zara mengangguk karena sebetulnya ia mengejar Ipul bukan untuk minta diantarkan pulang, tapi perkataan Ipul malah membuat Zara semakin merasa bersalah karena pemuda itu masih saja bersikap baik padanya padahal ia sudah menolak sayang yang diberikan oleh Saipul.
Ipul tersenyum tipis lalu mengusap kepala Zara.
"Jangan nangis lagi." pintanya sebelum berlalu pergi meninggalkan Zara yang terdiam mematung di tempatnya merasakan betapa besarnya perhatian seorang Saipul terhadap dirinya yang bahkan tidak pernah mendapatkan perhatian itu dari Davi, pemuda yang ia sanyangi yang juga sepupu dari Saipul.
Bersalah kah Zara karena berada diantara dua saudara itu? entahlah yang jelas selama ini ia memang hanya mengganggap Ipul sebagai sahabat terbaik saja tidak lebih dari itu.
Tubuh Ipul sudah menghilang di balik gerbang sekolah yang terbuka lebar dan diantara banyaknya anak-anak sekolah yang berhamburan keluar saling berlomba untuk cepat pulang.
Ipul memasukkan motornya ke dalam halaman rumah Davi setelah sang penjaga sigap membukakan pagar ketika melihat Ipul yang dia ketahui adalah keponakan dari sang pemilik rumah ada di depan pagar.
"Sore Tante." Ipul menyapa sang Tante yang tengah berjalan kearahnya saat tadi telinganya mendengar suara motor yang berhenti di halaman rumah.
__ADS_1
"Sore juga Ipul." jawab Andini seraya senyum yang tersungging menyembunyikan rasa terkejutnya karena Ipul yang tiba-tiba datang setelah sekian lama tidak berkunjung ke rumahnya tepatnya saat Ipul dan Davi menjadi seperti orang asing yang tak saling mengenal, semenjak itulah Ipul tak lagi datang ke rumahnya.
Tapi sore ini sungguh sore yang menakjubkan karena untuk pertama kalinya Ipul datang ke rumahnya itu, meski ia tak tahu dengan maksud kedatangan dari ponakannya itu.
"Bang Davi ada nggak Tante?" tanya Ipul yang memang dia datang ke rumah itu untuk menemui Kakak sepupunya.
"Davi belum pulang Pul, sebentar lagi mungkin. kamu tunggu aja." sahut Andini.
"Iya Tante Ipul tunggu." ucap Ipul.
"Makan dulu yuk, kamu pasti belum makan." tawar Andini yang mendapati Ipul masih memakai seragam sekolah yang artinya keponakannya itu belum pulang ke rumah.
"Nggak usah Tante, Ipul tadi abis makan di jalan sama temen." kata Ipul menolak tawaran dari tantenya dengan sangat sopan.
"Ipul tunggu Bang Davi di kamarnya boleh nggak Tante?" kata Ipul meminta ijin.
"Terimakasih Tante."
"Ya sudah sana naik, kamu masih inget kan kamar Abang kamu dimana?" tanya Andini.
"Ingat Tantee." seru Ipul seraya memamerkan barisan gigi rapihnya.
Andini mengacungkan jempolnya sambil tertawa riang.
*************
__ADS_1
Setelah Ipul pergi tadi rupanya Zara tidak langsung pulang ke rumah melainkan pergi ke sekolah Davi. apalagi kalau bukan untuk kembali menemui pemuda itu setelah semalam menghadiahinya dengan potongan ranting di dahi sang pemuda.
Zara menunggu di luar gerbang sekolah memperhatikan satu persatu anak yang baru keluar mencari sosok yang ia kenal.
Mata Zara langsung berhenti bergerak ketika sosok yang ia cari baru saja keluar dengan menaiki motor sport nya, tanpa pikir panjang Zara pun memanggilnya tapi Davi yang padahal mendengar malah sengaja terus melajukan motornya.
Zara mendengus kesal lalu berlari sebelum motor Davi melaju semakin cepat, dengan nekatnya gadis itu menghadang motor besar itu seraya merentangkan kedua tangannya.
"Berhentiiii." pekik Zara yang membuat semua mata melihat kearahnya menonton kelakuan konyol serta nekatnya.
Davi refleks mengerem motornya itu namun karena terlalu dekat ban motornya malah berada tepat di atas kaki Zara.
Wajah Zara meringis menahan sakit karena ban motor sport itu yang cukup besar hampir sebagian melindas jari-jarinya yang memakai sepatu.
Davi yang tidak menyadari ban motornya berada di atas kaki Zara hanya memandang saja tanpa berniat untuk turun dari motornya. helm yang dia pakai pun hanya menampakkan kedua matanya yang menyorot tajam.
"Kaki aku sakit Davii." pekik Zara yang akhirnya tidak kuat menahan sakit di ujung kakinya itu.
Davi di buat gelagapan dengan teriakan Zara, pemuda itupun melongok lebih dulu lalu baru memundurkan motornya.
Zara langsung terduduk di aspal lalu melepas sepatunya untuk memeriksa kaki yang sukses di cium oleh ban motor besar barusan.
Davi membuka helmnya lalu turun dari motor mendekati Zara untuk melihat kondisi gadis itu.
"Kalau nggak punya ilmu kebal nggak usah sok nantang maut!" omel Davi yang tetap berdiri namun raut wajahnya tampak mencemaskan keadaan Zara.
__ADS_1
Zara tidak mendengarkan ocehan Davi karena sekarang ia sibuk mengelus kakinya yang terasa sakit.
***************