Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 131


__ADS_3

"Semuanya akan kembali normal seperti pertama kali kita menjadi suami istri Za," tutur Davi pada saat menyisirkan rambut Zara, sedangkan wanita itu duduk diam di depan cermin merasakan setiap gerakan di rambutnya.


Zara menatap pantulan wajah suaminya melalui cermin, sungguh wajah seorang pria yang penuh dengan kasih sayang dan juga cinta untuknya, lalu bagaimana mungkin ia mencurigai suaminya itu berselingkuh?


Wanita itu bahkan baru menyadari betapa gilanya apa yang sudah ia pikirkan hanya karena melihat sang suami berbicara dengan rekan kerja wanitanya yang bernama Claire, padahal semua itu dilakukan di depan matanya.


"Mas," panggil Zara yang sejenak menghentikan gerakan tangan Davi.


Davi mengulas senyum yang begitu indah dan juga tulus seraya menundukkan kepalanya mensejajarkan nya dengan kepala sang istri.


Pria itu begitu senang karena Zara sudah mulai kembali memanggilnya dengan sebutan Mas, Davi pun yakin kondisi Zara akan semakin membaik dan akan benar-benar seperti dulu lagi setelah mereka berkonsultasi dengan seorang psikolog.


"Apa keadaanku sangat mengerikan?" tanya Zara.


"Tidak!" jawab Davi dengan tegas.


"Kamu tetap istriku yang cantik dan aku sayangi, hanya saja kamu memerlukan sedikit penanganan untuk agar kembali ceria seperti Zara SMA yang aku temui di depan toilet pom bensin dulu," terang Davi mengingatkan pertemuan pertama mereka yang memang terjadi di depan toilet, mengingat bagaimana Zara yang begitu terpesona padanya hingga tidak mampu untuk berkedip bahkan wajahnya terlihat sangat lucu kala mulutnya terus menganga.

__ADS_1


Zara terlihat begitu sedih mendengar ucapan dari pria yang kini berjarak sangat dekat dengannya, sedih mengingat sampai saat ini ia hanya bisa menyusahkan suaminya itu, mereka belum lama menikah bukankah seharusnya mereka masih dalam gelimangan kebahagiaan, akan tetapi semuanya menjadi mimpi buruk hanya dalam waktu satu malam saja.


"Bagaimana jika aku tidak juga bisa kembali seperti dulu? bagaimana jika semua bayangan hitam itu tetap menghantui aku!?" seketika Zara menjadi sangat sedih dengan semua yang terjadi.


"Apa mendatangi psikolog bisa membuat aku sembuh?" tanya Zara lagi.


Davi memutar kursi yang di duduki oleh Zara menghadap padanya, lalu pria itu berlutut seraya memegang kedua tangan sang istri.


"Sembuh! kamu pasti sembuh, karena kita juga akan menemui psikiater, kamu percaya padaku! aku akan melakukan yang terbaik untuk kamu, untuk kita!" jelas Davi.


"Yakinlah Za, semua akan baik-baik saja," sambung Davi.


Davi memeluk tubuh sang istri sambil berbicara lembut dan tenang, "tidak perlu minta maaf karena aku tahu kamu juga tidak ingin seperti ini," ujar Davi.


Saat ini Davi hanya berharap bahwa trauma dan depresi yang Zara alami belum terlalu parah sehingga mudah untuk segera sembuh.


*****

__ADS_1


Andini tengah menemani Riska yang datang ke rumahnya dalam keadaan menangis, awalnya Andini memang belum mengetahui apa yang terjadi hingga akhirnya Riska menceritakan semuanya.


Akhirnya ia sebagai Kakak ipar berusaha untuk menenangkannya meski sebenarnya iapun turut merasakaan kesedihan.


Sepatutnya Andini pasti mengerti bagaimana rasanya di tinggalkan oleh seorang anak sebab dulu pun ia pernah mengalaminya ketika Davi memilih untuk berkuliah di luar negeri, yang membedakannya adalah ia masih punya dua anak kembar sehingga rumah tidak terlalu sepi karena Davi pergi, sedangkan Riska? Adik iparnya itu hanya mempunyai seorang putra saja, jelas betapa sedih dan hancurnya perasaan Riska saat ini.


Dan sekarang Riska pasti merasakan kesepian karena biasanya Ipul yang selalu membuat rumah mereka ramai, kekonyolan anak itu memang tidak perlu di ragukan lagi, berbeda jauh dengan Davi yang cenderung lebih pendiam bahkan bisa sangat ketus pada orang yang tidak dia senangi.


"Lebih baik kamu menginap disini saja saja dulu Ris," Saran Andini karena tidak mau Riska larut dalam kesedihan karena hanya berdua saja suaminya.


Bukan tanpa alasan, Andini merasa ini lebih baik sebab di rumahnya ini ada anak kembarnya yang bisa menjadi penghibur bagi Riska.


Dua anaknya itu bisa menemani Riska atau bahkan membuat Riska sedikit melupakan kesedihannya atas kepergian Ipul ke Inggris.


"Iya, sepertinya memang lebih baik begitu," timpal Irman ketika Riska menatapnya seolah meminta pendapat.


Setelah mendapatkan persetujuan dari suaminya, Riska pun setuju dengan saran Kakak iparnya untuk menginap di rumah itu.

__ADS_1



\*\*\*\*\*


__ADS_2