Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 150


__ADS_3

Pembicaraan antara Zara dan juga Aleyara terus mengalir sampai akhirnya terhenti ketika terdengar suara yang berasal dari kata sandi yang tengah di masukkan agar pintu terbuka, Zara tentu sudah tau siapa yang datang senyumnya pun segera mengembang dari bibirnya.


"Suamiku sudah pulang," cetus Zara seraya beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu.


Tepat saat itu pintu terbuka dan wajah Davi yang terlihat lelah langsung berubah menjadi semangat ketika mendapat sambutan yang begitu hangat dari sang istri, Zara memeluk tubuhnya dan bertingkah sangat manja terhadap pria yang tak ragu untuk menghadiahkan kecupan di keningnya.


"Kenapa baru pulang?" tanya Zara ketika menyadari bahwa suaminya pulang terlalu sore bahkan hampir menjelang malam, terlihat dari langit yang mulai menggelap.


"Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," sahut Davi seraya mendekap pinggang Zara dan berjalan beriringan namun langkah Davi terhenti perlahan ketika mendapati Aleyara yang sedang melihat ke arahnya.


"Ada Aleyara, aku sudah memberitahumu tadi pagi kan Mas?" tanya Zara memastikan bahwa Davi ingat apa yang dia katakan tadi pagi sebelum pria itu berangkat bekerja, pemberitahuan yang sempat membuat mereka hampir saja bertengkar apabila Davi bersikukuh melarang Zara berhubungan dengan Aleyara.


Davi mengangguk singkat lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Aleyara, melihat pada sang istri sambil berkata, aku sangat lelah hari ini,"


"Ya sudah Mas istirahat saja, nanti biar aku antar kan teh hangat ke kamar," mempersilahkan suaminya untuk masuk kamar dan beristirahat.


Dan tanpa basa-basi apapun lagi kepada Aleyara bahkan sama sekali tidak melihat wanita yang duduk di sofa dengan sorot mata tak terbaca itu Davi melangkahkan kakinya dengan cepat ke dalam kamar, suara derap langkahnya pun terdengar begitu berat.

__ADS_1


Begitu berada di dalam kamar, pria itu melemparkan tas kerjanya lalu duduk di tepi ranjang membuka kancing kemeja pada pergelangan tangannya untuk kemudian menggulungnya hingga ke siku, tangannya pun terkepal begitu erat lalu kedua kepalan tangannya meninju tepi tempat tidur di bagian kiri kanan tubuhnya.


Tampak begitu frustasi memikirkan apa yang harus dia lakukan jika sesuatu yang tidak dia inginkan terjadi, hingga akhirnya semua yang tadi dia tunjukkan menghilang dengan cepat ketika Zara masuk dengan membawa secangkir teh untuknya.


"Kapan dia pulang?" menghampiri Zara lalu mengambil alih cangkir yang ada di tangannya dan menyimpannya di atas meja.


Zara memicingkan kedua matanya membuat Davi dengan sigap kembali berucap, "aku merasa tidak nyaman ada wanita lain di apartemen ini," tutur Davi lalu duduk di tepi ranjang serta menarik tubuh Zara untuk ikut duduk di atas pahanya.


"Mungkin setelah makan malam," jawab Zara membelai satu persatu untaian rambut hitam milik suaminya dengan sang suami yang kini sibuk mengelus lembut perutnya.


Dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk menghindar, tapi wanita itu malah dengan sengaja datang ke apartemennya.


"Kita akan beri nama apa saat dia lahir?" mengalihkan pembicaraan yang tidak akan bisa merubah sesuatu mengganjal di dalam hatinya.


"Terserah kamu Mas, sebab yang aku pikirkan hanyalah melahirkannya dengan selamat," celetuk Zara ikut mengelus perut yang sering kali membuatnya berdiri di depan cermin hingga bermenit-menit lamanya hanya untuk sekedar melihat sudah sejauh apa perubahan perutnya yang terlihat.


"Za," menghentikan gerakan tangannya lalu mendongak menatap kedua mata sang istri yang sudah mulai menyiratkan kebahagiaan, berbeda jauh dari beberapa bulan yang lalu.

__ADS_1


"Iya," sahut Zara mengangkat kedua alisnya seperti menanti apa yang akan terucap dari bibir sang suami yang perlahan mulai bergerak.


"Bagaimana kalau kita kembali ke Indonesia dan tinggal di sana? aku rasa Mama dan Ayah juga akan sangat setuju, kita akan memulai semuanya dari awal membuka lembaran baru untuk kita dan juga dia," melihat pada tangan yang menempel di perut Zara.


"Tapi pekerjaan Mas di sini bagaimana? Mas tidak mungkin meninggalkannya bukan?" Zara terlihat ragu.


"Ada Lugo, aku akan menyerahkan semuanya sama dia," Davi menjawab dengan keyakinan yang besar, ini semua dia lakukan untuk kebahagiaan mereka terlebih lagi agar Zara tidak lagi bertemu atau berhubungan dengan Aleyara, wanita yang terasa sangat mengancam rumah tangganya.


Zara mengatupkan bibirnya seolah tengah berpikir, "aku akan memikirkannya," katanya kemudian membuat Davi mendesah.


"Ya sudah aku harus menemani Aleyara, dia pasti sangat bosan karena tidak ada yang menemani," tutur Zara dengan kepolosan yang malah membuat Davi semakin menyesal, merasa sangat berdosa karena sudah membohongi wanita yang dia cintai, terlebih lagi Aleyara lah yang menjadi penyebabnya.


Dia benar-benar sangat jahat karena sudah tidur dengan wanita lain dan yang lebih menyakitkan lagi wanita itu adalah psikolog istrinya sendiri, psikolog yang bahkan berulang kali sudah Zara katakan sebagai teman baiknya di negara ini dan teman satu-satunya yang bisa membantunya.


Davi hanya diam pasrah ketika Zara turun dari pangkuannya dan berlalu menuju pintu hingga tubuh wanita itu menghilang seiring pintu yang tertutup.


******

__ADS_1


__ADS_2