
"Surat kontrak sudah disiapkan," jelas Lugo ketika masuk ke dalam ruangan Davi, membicarakan tentang kerja sama mereka yang beberapa waktu lalu mereka bahas.
Tangan Davi meminta salinan kontrak yang di bawa oleh Lugo untuk dia periksa, segera membaca apa yang tertulis di dalamnya lalu ketika sudah tidak ada yang perlu di perbaiki lagi dia pun memberikan map itu pada Lugo.
"Jam setengah tiga siang kita ada rapat," ujar Lugo mengingatkan jika saja Davi lupa akan rapat yang sudah terjadwal itu.
"Tidak terlalu lama kan?" tanya Davi melihat pria yang sedang mengecek tab di tangannya.
"Dua jam," jawab pria dengan rambut pirang dan mata yang sangat biru.
Davi terdiam sejenak seolah sedang berpikir baru kemudian berbicara, "aku ada urusan, sepertinya kamu harus memajukan rapatnya," tutur Davi mengingat bahwa sore ini ada hal penting yang harus dia lakukan, hal penting dan sangat-sangat penting karena itu mengenai kehidupannya bersama dengan Zara.
Setelah menyelesaikan rapatnya Davi lantas berpamitan pada Lugo dan meninggalkan pria itu begitu cepat, masuk ke dalam mobil lalu memasang sabuk pengaman menarik napas terlebih dulu sebelum akhirnya menyalakan mesin mobil, hari ini dia bertekad untuk menyelesaikan masalahnya dengan Aleyara, berdoa semoga saja wanita itu mau menerima apa semua permintaan maafnya yang dia ucapkan untuk yang kedua kalinya.
Mobil itu melaju di tengah jalanan ibukota negara itu, membelah jalan raya dan membaur dengan kendaraan lainnya, cukup membuang waktu sampai Davi pun terus saja melihat pada jam tangannya, bahkan hingga terjadi kemacetan karena ada sebuah kecelakaan yang menghambat lalu lintas hingga hanya sanggup bergerak lambat saja.
Bunyi-bunyi klakson mulai memekakkan telinga membuat Davi memijit samping kiri kanan kepalanya, sampai akhirnya secara perlahan lalu lintas mulai bergerak normal lama kelamaan menjadi benar-benar lancar setelah dia melewati kecelakaan yang mengakibatkan tiga kendaraan terguling ke tengah jalan, sepertinya baru saja terjadi tabrakan beruntun.
Mobil Davi sudah memasuki sebuah halaman parkir tempat yang dia tuju, memarkirkan mobilnya lalu mematikan mesin mobil, melepas sabuk pengaman baru kemudian bersiap untuk turun.
Derap langkahnya terdengar begitu jelas kala berjalan menuju satu ruangan yang dari kejauhan sudah terlihat jelas.
__ADS_1
Tidak ada siapapun di ruang tunggu, entah bagaimana caranya tidak ada resepsinos yang berjaga hingga membuat Davi langsung saja mengetuk pintu di depannya, tetap mementingkan sopan santun karena dia datang ke tempat ini untuk berbicara secara baik, bukan marah-marah ataupun memberikan ancaman.
Tok! tok!
Baru dua ketokan yang Davi lakukan dan dari dalam sana sudah terdengar suara yang mempersilahkannya untuk masuk.
Aleyara sedikit terkejut tidak menyangka siapa yang kini tengah masuk ke dalam ruangannya, membuat dia mengembangkan senyumnya dengan sangat sempurna.
"Ada yang ingin aku bicarakan," tidak mau berbasa-basi sebab itu memang tidak di perlukan.
"Duduk dulu," pinta Aleyara yang dalam hatinya kini malah muncul harapan yang perlahan menjadi besar.
"Tidak perlu," tolak sang pria yang menunjukkan ekspresi serius.
Aleyara menggeleng seperti tidak percaya dengan semua yang keluar dari mulut pria di depannya, sungguh dia tidak pernah menyangka jika Davi akan sekejam ini padanya.
"Bagaimana bisa kamu memintaku melupakan kejadian malam itu?" Aleyara terlihat tidak terima begitu saja.
"Karena itu sebuah kesalahan," sahut Davi.
"Tapi kita melakukannya dalam keadaan sadar!" seru Aleyara.
__ADS_1
"Tidak, aku dalam keadaan frustasi, aku stres memikirkan Zara sehingga aku tidak sadar.."
"Tidak sadar bahwa kamu tidur dengan wanita yang bukan istrimu, begitu?" sambar Aleyara sengit.
"Maafkan aku," pinta Davi.
Aleyara menggelengkan kepala, "tidak semudah itu, malam itu memang bukan yang pertama untukku, tapi kamu pria yang pertama menyentuh hatiku,"
Aleyara mulai bermain dengan perasaannya, perasaan terlarang yang jelas tidak boleh di lanjutkan mengingat pria di depannya ini adalah pria beristri bahkan dia tau dengan jelas bahwa pria ini begitu mencintai istrinya dan yang lebih parahnya adalah pria ini adalah suami dari pasiennya.
Bukankah Aleyara sudah sangat keterlaluan? sangat keterlaluan tidur dengan suami dari wanita yang bahkan sudah menganggapnya sebagai teman.
"Aku mohon maafkan aku dan lupakan semuanya, aku ingin hidup tenang tanpa ketakutan kamu akan memberitahu Zara tentang kesalahan yang pernah terjadi," Raut wajah Davi sungguh sangat gelisah ketika mendengar tanggapan Aleyara, dia mengira Aleyara akan memaafkannya tapi nyatanya wanita itu malah membicarakan tentang perasaan yang rasanya tidak akan pernah mungkin bisa dia balas.
Suara Davi terdengar sedikit bergetar, tampak jelas pria itu sangat putus asa, dia hanya ingin Aleyara melupakan semuanya toh dia bukan satu-satunya pria yang tidur dengan wanita itu, terlihat sangat egois tapi Davi harus melakukan ini meski sebenarnya dia tidak pernah ingin menyakiti siapapun.
Tapi dia harus mengabaikan hal itu karena ada hati seorang wanita yang harus dia jaga, hati wanita yang begitu dia cintai.
"Mas,"
Sebuah suara dari arah pintu yang tadi lupa Davi tutup membuat dua orang di dalam ruangan itu sontak menoleh.
__ADS_1
Sungguh tidak dapat di bayangkan lagi bagaimana ekspresi Davi saat ini begitu melihat wanita yang berusaha dia jaga perasaannya malah berada di depan pintu dengan air matanya yang sudah menggenang bahkan sudah ada di yang meluncur di kedua pipinya.
*****