Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 118


__ADS_3

Dari lantai atas Davi mendengar suara benda jatuh membuat pria itu bergegas berlari menaiki tangga, suara yang dia dengar pun kini semakin jelas saat dia sudah berada di lantai atas.


Suara itu datang dari arah kamar yang sekarang menjadi tempat paling menakutkan bagi istrinya, suara itu juga semakin terdengar kencang membuat Davi langsung membuka pintu lalu matanya di suguhi oleh pemandangan kamar yang sudah sangat berantakan, semua benda yang ada di kamar itu berhamburan di lantai tidak terkecuali dengan tempat tidur yang seprai dan seluruh bantal pun sudah benar-benar tidak rapi seperti yang tadi dia tinggalkan.


Dia pun mendengar suara tangisan yang begitu memilukan dari sang istri, Zara meraung-raung tak terkendali di samping tempat tidur.


Davi berlari pada sang istri lalu memeluknya, "Sekarang apa lagi yang kamu inginkan? bukankah aku sudah menyetujui permintaan kamu," kata Davi dengan suaranya yang terdengar begitu berat.


Suara dari seorang pria yang menahan begitu banyak beban pikiran tentang segala cobaan yang seakan belum mau berhenti.


"Aku hancur Mas, aku benar-benar hancur," rintih Zara seraya memukuli kepalanya sendiri.


"Hentikan," kata Davi pada wanita yang sudah membuar kamar itu betul-betul tidak berbentuk dan tidak tertata lagi.


Namun nampaknya Zara enggan untuk menurut, wanita itu masih saja sesuka hatinya memukuli kepala membuat Davi pun akhirnya berkata dengan begitu keras.


"Berhenti!!!!!" seru Davi seraya memegang kedua tangan Zara.


Bahkan Zara tak mau mengangkat wajahnya untuk menatap pria yang berada di depannya.

__ADS_1


Wanita itu terus menunduk dengan rambut yang begitu berantakan, basah dengan air mata yang tak kunjung mau kering.


Suara tangisnya masih tetap terdengar dengan tubuh yang bergetar serta tarikan nafas yang sangat terdengar karena mungkin hidungnya sudah kembali mulai tersumbat.


"Aku harus melakukan apalagi agar kamu bisa berhenti menangis? apa yang kamu mau dariku? tidakkah cukup aku menuruti permintaanmu untuk berpisah? tidakkah itu membantumu untuk bisa terbebas dari rasa ketakutan yang kamu hadapi bila kamu hamil karena.." Davi tak kuasa untuk menuntaskan perkataannya, tidak mau Zara kembali histeris dengan mendengar apa yang dia lontarkan.


"Katakan, aku harus melakukan apa? apa aku harus membunuh laki-laki bajingan itu? ataukah aku yang harus benar-benar menghilang dari hadapanmu selamanya?"


Sungguh Davi mengatakan semua itu dengan begitu ringannya, seakan dia tidak perduli dengan apapun karena yang dia inginkan adalah Zara nya bisa kembali lagi seperti dulu.


Kembali seperti pertama kali mereka bertemu dengan tak sengaja di depan sebuah toilet di pom bensin, pertemuan pertama kali yang sebenarnya langsung menimbulkan sebuah getaran di dalam hatinya namun karena rasa bencinya kepada sang Adik sepupu membuat Davi mengabaikan debaran yang dia rasakan itu.


"Aku tidak ingin berpisah denganmu!!" pekik Zara dengan suara yang keras membuat Davi sontak memeluknya.


"Aku juga tidak ingin berpisah denganmu Za, Aku tidak ingin berpisah dengan istri yang begitu aku cintai, aku tidak bisa membayangkan bagaimana menjalani hari-hari tanpa kamu."


Zara membalas dekapan sang suami dengan begitu erat seakan tidak mau ada siapapun yang akan memisahkan mereka.


Wanita itu seolah baru sadar bahwa iapun tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa seorang Daviandra Arrayyan, tapi untuk tetap bersama rasanya pun sangat tidak mungkin sebab ia yang merasa dirinya sudah kotor dan tidak pantas untuk menjadi istri dari seorang pria sebaik Davi.

__ADS_1


"Tetaplah bersamaku Za, Jangan mengatakan apapun lagi yang tak mungkin bisa kita lewati dengan bahagia, jangan mengatakan perpisahan karena kita pun tidak akan sanggup untuk menjalaninya," tutur Davi dengan mata yang memerah.


Jelas pria itu tidak akan sanggup untuk menahan air matanya membayangkan perpisahan dengan wanita yang sejak lama mengisi hatinya itu, bahkan buliran air mata pun lambat laun semakin deras mengalir dari celah matanya.


Dan untuk sekian kalinya Zara tidak lagi bisa mengatakan apapun, kedua bibirnya seakan terkunci dengan rapat tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.



Wanita itu sibuk menguatkan hatinya agar ia pun sanggup untuk melewati semua ini dengan yang mereka inginkan, sekalipun rasa sakit akan tetap menghantui hidupnya jika hal yang tidak ia inginkan terjadi.



Zara menangis lirih di dalam pelukan pria yang tengah menahan tangisnya meskipun sejak tadi pun pria itu sudah tak kuasa menahan air mata yang menyesakkan dadanya.



Keduanya bertahan dengan posisi itu sampai langit benar-benar menjadi sangat gelap dan mungkin sebagian manusia pun sudah terlelap dalam mimpi mereka masing-masing.


****

__ADS_1


__ADS_2