
Ipul yang tadinya sedang dalam perjalanan menuju kantornya dengan senang hati mau membantu Davi untuk mengantar Zara, mobil yang tadinya sudah lumayan dekat dengan kantornya malah dia putar kembali menuju kediaman sang Abang sepupu guna menjemput temannya yang sudah menjadi istri sepupunya itu.
"Eh Minggu ini lu tunangan kan Pul?" suara Zara cempreng Zara masih tetap sama dengan yang dulu sekalipun penampilan wanita itu sudah jauh berubah terlebih lagi seiring usia yang semakin dewasa.
Ipul menunjukkan senyum yang terkesan sangat biasa bahkan nampak tidak antusias, hanya terlihat cengkeraman tangannya di kemudi mobil yang semakin kencang hingga punggung tangannya terlihat memutih dengan tulang jari yang menonjol.
"Gue seneng Pul, akhirnya kita bisa ketemu lagi dan berteman dekat kayak dulu lagi." seru Zara dengan deretan gigi putih yang menyembul dari bibirnya yang tersenyum lebar, matanya yang sudah beralih menatap jalanan ibukota membuat ia tak sadar dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh teman lamanya yang kini bisa di bilang Adik iparnya juga.
"Za." panggil Ipul dengan nada sangat rendah dan berat.
"Hm." yang Ipul panggil hanya mendehem saja tanpa mau menoleh.
Ipul diam sesaat untuk kemudian dari bibirnya meluncur sebuah pertanyaan. "Lu bahagia nikah sama Abang?" tanya Ipul seolah tidak percaya bahwa Zara bahagia menikah dengan Abangnya itu.
Zara mengalihkan pandangannya pada sosok di sebelah yang tengah berbicara sambil menyetir, untuk kemudian memasang wajah tampang seolah serius. "Gimana ya?." pikir Zara dengan tangannya yang mengetuk-ngetuk dagunya.
"Gue serius Za.." nada Ipul memang benar-benar sangat serius bahkan raut wajahnya juga tidak menunjukkan kalau lelaki itu tengah bergurau atau hanya sekedar iseng menanyakan tentang apakah Zara bahagia atau tidak menikah dengan Davi.
"Pul?" Zara mengernyitkan keningnya.
"Seandainya lu nggak bahagia, perasaan gue sama elu masih tetap sama." tutur Ipul yang sungguh tidak disukai oleh Zara, Zara sangat tau perasaan apa yang sekarang tengah di maksud oleh temannya itu.
"Jangan bercanda Pul, nggak lucu! sebentar lagi lu bakal tunangan ada wanita yang harus lu jaga perasaannya. lagian gue sangat bahagia nikah sama Davi, gue sama dia saling mencinta, bukankah itu sudah cukup membuktikan bahwa gue sangat bahagia menjalani pernikahan dengannya?" tukas Zara seolah itu adalah pemberitahuan untuk Ipul agar tidak lagi membicarakan hal konyol yang nantinya akan merusak pertemanan mereka juga hubungan sepupu antara dirinya dan Davi.
Ipul menahan napasnya mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut wanita di sampingnya, setiap kalimat yang melewati gendang telinganya dengan hatinya yang terasa ada goresan tak kasat mata yang tengah melukainya.
Dia akui pertemuannya dengan Hanna sedikit membuatnya lupa pada sosok Zara yang diam-diam menghilang tanpa pemberitahuan apapun, dan Ipul pun masih bisa bersikap biasa ketika untuk pertama kalinya setelah sekian tahun tak berjumpa mereka akhirnya bertemu, dan perasaannya mulai sedikit goyah kala menyaksikan pernikahan Davi dan Zara sekalipun dia adalah orang yang turut membantu terlaksananya pernikahan itu, namun kemudian hatinya mulai terusik meski dia mencoba untuk mengabaikannya, sungguh dia tidak pernah punya niat untuk merebut Zara dari tangan Davi tapi entah kenapa hatinya terasa sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang perlahan kembali memenuhi hatinya itu sudah menjadi istri dari Abang sepupunya sendiri.
Ipul tersenyum miris, merasa dirinya memang hanyalah pria bodoh yang malah jatuh cinta pada istri Abangnya sendiri.
"Bagaimana kabar Hanna?" Zara mencoba melupakan percakapan gila yang sudah di ciptakan oleh Ipul, bukankah sebaiknya ia memang harus melakukan itu? membuat Ipul tak lagi mengungkit tentang hal yang tidak akan pernah mungkin terjadi.
"Baik." sahut Ipul datar hanya itu yang keluar dari mulutnya kala Zara menanyakan wanita yang dalam beberapa hari ini akan bertunangan dengannya seraya menghentikan mobil di depan pagar rumah yang menjadi tujuan mereka.
Zara memandang tak mengerti, makin merasa asing dengan pria yang dulu sangat dekat dengannya. pria yang akan selalu jadi orang pertama kala dirinya bersedih atau sedang dalam masalah, namun sekarang Zara merasa orang di sampingnya bukanlah Ipul yang dulu, berbeda, sungguh sangat berbeda.
Zara memilih turun dari mobil dan membantu Pak Rahmat yang tengah membuka pagar untuk mereka.
__ADS_1
"Belum selesai ya Pak?" tanya Zara dan Pak Rahmat yang mengerti maksud pertanyaan Zara pun menjawab dengan anggukan.
"Mungkin selesai dua atau tiga hari lagi Neng." sahut Pak Rahmat seraya menatap para pekerja yang tengah mondar-mandir membawa adukan semen bercampur pasir.
Ipul yang sudah keluar dari mobil namun hanya bersandar saja menatap lurus ke arah Zara yang berada di depan pintu bersiap untuk masuk ke dalam rumah.
Memijat pelipisnya terasa sangat pusing setelah dengan bodohnya begitu lancar mengatakan perasaannya pada Zara, wanita yang sudah bersuami.
"Permisi Pak." kata Ipul setelah melewati Pak tua penjaga rumah yang berdiri di depan pagar, pria tua itu mengangguk singkat dengan bibirnya mengulas senyum.
Ipul mengikuti Zara masuk ke dalam rumah, meneliti setiap isi rumah yang dulu hanya dia lihat dari luar saja, ya selama mengenal dan berteman dengan Zara rasanya dia tidak pernah masuk ke dalam rumah temannya itu, apalagi jika bukan karena ada dua wanita jahat yang tidak mengijinkan Zara untuk mengajak temannya main di rumahnya sendiri, termasuk dirinya.
Tangannya menyentuh satu persatu benda yang ada di dalam rumah itu, rumah yang kini menjadi istana bagi Zara dan Davi, dia tersenyum miris, mengasihani dirinya sendiri.
Langkah kakinya dalam sekejap terhenti kala mendengar suara jeritan dari lantai atas, sudah bisa dipastikan bahwa itu adalah suara Zara, tanpa bisa berpikir apapun Ipul pun berlari menuju tempat wanita itu berada.
"Za!" panggilnya sambil menerobos masuk ke kamar yang pintunya tidak di tutup.
Zara yang tengah terduduk di lantai kamar dengan raut wajah kesakitan. "Kenapa?!" suara Ipul terdengar panik.
"Kepeleset." sahut Zara sambil meringis.
"Ada yang sakit?" tanya Ipul khawatir seraya berjongkok mendekat, dari suara dan juga ekspresinya sudah bisa dipastikan Zara memang merasakan sakit pada bagian pinggangnya terlihat dari tangan wanita itu yang memegangi pinggang bagian kirinya.
__ADS_1
"Ini." tunjuk Zara pada pinggangnya.
Dengan mulut yang tak lagi bertanya lelaki dengan setelan kemeja dan juga jas tanpa dasi itupun membantu Zara untuk berdiri. "Kenapa lu nggak pernah bisa hati-hati si Za? selalu ceroboh." keluh Ipul menyesal sebab Zara tetaplah Zara yang dulu, sama seperti yang dia rasakan.
"Nggak tau itu kenapa ada air di situ." tunjuk Zara pada lantai yang memang terlihat basah. "Kayaknya bocor deh, nanti aku minta Pak Rahmat untuk periksa atapnya." kata Zara lagi sambil berjalan pelan menuju sofa di bantu dengan Ipul.
"Lain kali hati-hati." tegas Ipul ketika mendudukkan Zara dan dia sendiri berjongkok di depan wanita yang tengah meringis itu. "Sakit banget?" tanyanya cemas.
Zara mengangguk, namun sesaat kemudian wajah yang tadi terlihat kesakitan malah berubah menjadi sebuah keterkejutan, matanya membuka lebar saat Ipul malah dengan tanpa ijin darinya menaikkan kaos yang ia kenakan pagi itu.
Zara menepis tangan Ipul dengan cepat, ia tidak mungkin membiarkan pria lain melihat bagian tubuhnya bukan?. "Gue nggak apa-apa." kata Zara cepat agar Ipul menghentikan perbuatannya.
Tapi sepertinya Ipul bukanlah pria yang bisa langsung mengerti pada ucapan seseorang, terbukti ketika tangannya malah menyingkirkan tangan Zara dan dengan cepat dia mengangkat kaos yang Zara pakai.
"Memar Za." katanya kemudian, tangannya pun memijit pelan mencoba untuk sedikit menyembuhkan temannya itu, namun rupanya perbuatannya malah membuat Zara menjerit kencang.
"Aaah, sakit Ipuul." teriaknya.
Tak tega melihat Zara kesakitan Ipul pun berhenti memijat, Zara pun tak lagi bersuara hanya napasnya yang terdengar sangat cepat, Ipul menatap Zara dengan sangat intens, menatap sangat lekat tanpa wanita itu sadari lalu tangannya meraih dagu Zara lu mengangkatnya.
\*\*\*\*\*
__ADS_1