
"Ipul juga nggak ngerti kenapa Ipul Nggak bisa lupain Zara Mah," keluh Ipul kala dia terus di tekan dengan pertanyaan demi pertanyaan oleh sang Mamah kala memberitahukan wanita itu bahwa hubungannya dan Hanna sudah berakhir.
Pernikahan mereka, mereka batalkan tanpa meminta pendapat dari orang tuanya sendiri, sungguh membuat sang Mamah tak habis pikir dan merasa kecewa dengan anak satu-satunya itu.
"Kamu sudah berjanji untuk melupakan Zara dan memulai semuanya dengan Hanna, tapi nyatanya sekarang kamu malah membatalkan pernikahan kalian.."
"Hanna yang memintanya Mah,"
"Dan kamu menurutinya!" sambar Riska yang rasanya baru kali ini mengeluarkan suara yang cukup kencang.
Sejak dulu ia selalu merasa bangga pada anaknya itu, akan tetapi sekarang Riska teramat kecewa sebab ia menganggap anaknya itu sudah mempermainkan perasaan wanita, seorang wanita yang memang berhati tulus kala menaruhkan harapan padanya tentang sebuah pernikahan.
Riska sungguh tak habis pikir bagaimana bisa Ipul yang dulu sangat menghargai perasaan wanita justru sekarang malah menyakiti seorang wanita.
"Apa kamu tidak pernah berpikir betapa hancurnya Hanna saat kamu setuju untuk membatalkan pernikahan yang sudah lama dia impikan!?"
"Ipul merasa bersalah Mah, tapi Hanna akan semakin terluka jika Ipul ngotot untuk meneruskan menikahinya, jujur Ipul belum bisa melupakan Zara.."
Plak!
Pengakuan Ipul di sambut dengan tamparan dari tangan sang Papah yang sejak tadi berada di depan pintu kamar mendengarkan pembicaraan istri dan anaknya.
"Pah," Riska terkejut dengan suaminya yang tiba-tiba saja muncul di dalam kamar dan langsung memberikan tamparan pada anak mereka.
__ADS_1
"Zara istri Kakakmu!" suara Irman Rustanto begitu meledak di telinga Ipul yang kini menunduk merasakan tamparan dari sang Papah yang begitu bertenaga.
"Ipul tahu Pah," jawab Ipul pelan, tidak ada niat sedikitpun untuk beradu argumen dengan sang Papah karena memang dia sadar bahwa dia salah dan pantas mendapatkan kemarahan dari orang tuanya.
"Kamu sudah tahu tapi kamu masih saja bertingkah bodoh! terus menerus menyimpan perasaan untuk istri kakakmu sendiri. Papah sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiranmu," jelas Irman murka dengan dengan perilaku anaknya, tidak saja hanya mengecewakan satu orang melainkan banyak orang termasuk dia dan juga istrinya.
Lalu mau di taruh dimana wajahnya Irman dan Riska saat ini jika bertemu dengan Hanna? sungguh malang gadis itu tidak punya orang tua masih saja harus disakiti oleh anaknya.
Irman menatap pada anaknya yang kini terdiam tak berani menatap wajahnya.
"Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan? mengejar Zara kembali dan merebutnya dari Kakakmu?!" Irman bertanya sinis dan pedas.
Ipul menggelengkan kepalanya dengan perlahan lalu berhenti dan detik kemudian menahan napasnya mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara mengutarakan apa yang dia pikirkan saat ini, pemikiran yang dia anggap akan menjadi jalan terbaik baginya tanpa memikirkan perasaan orang-orang disekitarnya yang teramat menyayangi dirinya.
"Ipul ingin pergi ke Inggris," sahut Ipul dengan suara yang terdengar berat.
Dan pastinya Ipul pun sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya ketika dia memutuskan untuk pergi ke negara lain dan meninggalkan negara tempat dia dilahirkan dan juga menghirup udara selama ini akan ada tentangan dari orang tuanya terutama sang Mamah yang tidak akan rela di tinggalkan oleh anak satu-satunya.
"Nggak, Mamah nggak akan ijinin kamu pergi! apalagi pergi sangat jauh sampai ke Inggris, mau jadi apa kamu di sana!" tentang Riska dengan tatapannya yang tajam.
Sejak tadi ia marah namun jauh di lubuk hatinya ia merasa kasihan dengan sang anak yang harus menjadi seperti ini.
"Dari pada kamu pergi ke Inggris lebih baik kamu menikah dengan Hanna dan lupakan Zara," cetus Irman.
__ADS_1
"Siapa yang bisa jamin kalau nantinya Ipul akan bisa melupakan Zara? siapa Pah? Ipul takut malah semakin membuat Hanna tersakiti," jawab Ipul dramatis, sudah penuh dengan putus asa.
"Apa dengan pergi kamu bisa melupakan Zara?" tanya Irman.
Ipul hanya bisa diam tak bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh sang Papah.
"Lihatlah kamu saja tidak yakin!" ketus Irman kemudian.
"Kamu tidak boleh pergi," Riska kembali bicara.
"Maafkan Ipul Mah," jawab Ipul yang artinya dia akan tetap pergi meski di larang sekalipun.
"Kamu mau tinggal dengan siapa di sana? tidak ada siapapun yang kamu kenal," cecar wanita yang kini sudah mulai menahan air matanya.
"Ada teman Ipul yang mau membantu Ipul," terang Ipul seraya beranjak dari duduknya dan menuju lemari, dia mengeluarkan koper lalu berlanjut pada pakaian-pakaiannya tidak memperdulikan tatapan hancur orang tuanya yang bahkan tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan dirinya yang sudah membulatkan tekad.
\*\*\*\*\*\*
__ADS_1