Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 146


__ADS_3

Davi yang memergoki apa yang Zara lakukan tidak mengatakan apapun, seolah tidak terjadi apa-apa pria itu langsung duduk di bangku pengemudi dengan botol air mineral yang tadi di minta oleh sang istri di genggamannya, sebenarnya pegangan Davi pada botol yang ada di tangannya menunjukkan bahwa pria itu tengah merasakan ketegangan karena yang baru saja dia lihat, tapi sekuat tenaga dia sembunyikan agar tidak tampak.


"Minum dulu," pinta Davi seraya membuka tutup botol mineral sebelum memberikannya pada sang istri.


Zara mengambil botol dari tangan suaminya, "terima kasih," katanya.


Zara memalingkan wajahnya ke arah pintu mobil terlebih dulu baru menempelkan botol mineral ke bibirnya dan menuangkannya ke dalam mulut, menenggak air yang ada sampai tinggal setengah dengan kedua matanya yang seperti tengah memikirkan sesuatu.


Berpikir apakah dia akan menanyakan perihal Instagram yang tak lagi ada di handphone sang suami.


Zara menutup kembali botol namun tetap memegangnya dan memutar-mutar tangannya pada badan botol sambil menatap Davi yang akan menyalakan kembali mobil.


"Mas," akhirnya memanggil sang suami meski terdengar sedikit ragu.


"Kenapa sayang?" tanya Davi dengan nada begitu lembut menatap wanita di sampingnya.


"Aku boleh tanya?" masih saja bertanya sebelum mengajukan pertanyaan.


Davi terdiam sesaat dengan helaan napas yang samar terdengar seiring dengan matanya terus memandang wanita di sampingnya.


"Tidak boleh?" tanya Zara lagi kala tak mendapat jawaban dari sang suami dengan wajah merajuk membuat Davi tertawa kecil.


"Boleh sayang," katanya kemudian, pria itu sepertinya memang sengaja menggoda istrinya untuk mencairkan ketegangan yang dia rasakan sendiri, "mau tanya apa?" tanya Davi.

__ADS_1


"Tadi aku periksa handphone kamu," aku Zara dengan suara sangat pelan, memang bukan kebiasaannya untuk memeriksa handphone milik suaminya sekalipun Davi tidak pernah melarang hanya saja dia merasa semua orang memiliki privasi sendiri sekalipun mereka adalah pasangan suami istri.


Tapi kenyataannya belakangan ini benda itu malah memancing rasa penasarannya semenjak ada sebuah pesan masuk di akun Instagram sang suami, semenjak itu dia merasa hatinya sedikit terganggu dan ingin mengetahui pesan apa dan dari siapa?


"Aku lihat, memangnya kenapa? kan dari dulu aku tidak pernah melarang, kata sandinya pun aku sudah beritahu kamu," jelas Davi, berkata sangat lancar di tengah debaran jantungnya yang tak menentu.


Zara mengangguk lalu kembali mengambil handphone suaminya dan membukanya kembali, "aku cari Instagram tapi nggak ada," terang Zara yang kembali memeriksa benda di tangannya tanpa menatap pada pria di sampingnya yang saat ini raut wajahnya berubah drastis, ketenangan yang sejak tadi dia pertahankan dan ketegangan yang dia juga sembunyikan perlahan malah tampak.


Davi tak segera menjawab pertanyaan dari sang istri tapi malah sibuk membenarkan posisi duduknya, pria itu mendadak bangku yang dia duduki saat ini terasa begitu panas terlebih lagi ketika Zara mengangkat wajahnya dan menatapnya seperti menunggu jawaban.


"Aku delete," sahut Davi akhirnya.


"Akunnya yang di delete atau hanya aplikasinya saja?"


"Sebaiknya kita lanjut jalan lagi, nanti keburu semakin siang," merasa tidak sanggup jika harus memberikan jawaban ketika sang istri terus meluncurkan pertanyaan demi pertanyaan, padahal pertanyaan yang Zara ajukan hanya pertanyaan simpel dan sangat wajar, tapi entah kenapa pertanyaan itu malah membuatnya sangat tertekan, bahkan saat bicara dia tidak berani melihat wajah istrinya yang kini mengernyitkan kening sangat tidak puas dengan jawaban yang dia berikan bahkan gerakan bibir Zara seolah masih ingin bertanya.


Saat mobil mulai berjalan kembali Zara yang masih menggenggam handphone Davi memalingkan wajahnya pada jalanan di sampingnya, suasana di dalam mobil pun berubah menjadi sangat hening tanpa ada obrolan dari keduanya.


Zara yang masih belum puas dengan jawaban dari sang suami pun melupakannya dengan cepat ketika mereka sudah berada di sebuah taman di sebuah pinggiran kota, taman yang di tumbuhi dengan banyak pohon serta tumbuhan hijau lainnya ternyata begitu cepat mengalihkan perhatian Zara, wanita itu tersenyum dan dengan tergesa hendak membuka pintu namun Davi menahan tangannya.


"Pakai jaket dulu," perintah Davi pada sang istri.


Tentunya udara yang sangat dingin itu tidak akan Davi biarkan menyentuh kulit wanita yang dia cintai.

__ADS_1


Zara pun menurut menahan rasa penasarannya untuk bermain di taman yang sudah ada di depan matanya untuk menurut pada perintah suaminya, langsung memakai jaket dengan segera.


"Hati-hati Za," teriak Davi kala Zara malah berlari layaknya anak kecil, wanita itu terlihat begitu bahagia setelah berbulan-bulan harus berada pada posisi paling buruk dalam hidupnya.


Wanita yang di beri peringatan hanya menoleh saja melemparkan senyum lalu kembali pada kesenangannya, sedangkan Davi malah mencabut SIM card dari handphonenya lalu melemparkan benda kecil itu ketika melewati tempat sampah, tidak peduli meskipun di nomor itu sebenarnya nomor yang sangat penting karena terkadang ada saja rekan bisnisnya yang menghubungi langsung dirinya sekalipun ada Lugo sebagai sahabat sekaligus orang kepercayaannya dalam pekerjaan, tidak! sepertinya pun mulai mencium gelagat aneh dari Davi saat mereka mengadakan rapat beberapa hari lalu.


"Aku senang berada di sini, udaranya begitu sejuk," tutur Zara menikmati hembusan angin musim dingin yang terasa begitu menenangkan ketika suaminya masih berjalan ke arahnya.


"Kita akan sering ke sini, atau kita bisa pergi ke tempat lainnya yang pasti akan kamu sukai juga," sahut Davi mengikuti Zara yang kembali berjalan.


"Janji?"


Davi menarik tangan sang istri agar berjalan di sampingnya lalu menggandengnya mesra menyusuri setiap sudut taman pinggiran kota dengan berbagai macam tumbuhan meski hanya bunga tertentu saja mekar di musim dingin ini tetap saja tidak mengurangi keindahan taman yang mereka datangi.


"Aku akan melakukan apapun demi kamu Dan anak kita, semuanya!" tegas Davi dengan tangannya yang kini sudah berpindah merangkul pinggang sang istri.


Jawaban yang Davi berikan tentu saja membuat angan Zara melambung tinggi, semua kebahagiaan seakan perlahan mulai menghampirinya membantunya untuk melupakan tentang kejadian buruk yang hampir saja merenggut kewarasannya.


Dalam hatinya pun dia terus menekankan bahwa dia beruntung, teramat sangat beruntung karena Davi lah yang menjadi suaminya, pria yang dia cintai dan juga telah sabar menghadapi dirinya di saat-saat terburuk.


"Terima kasih," tutur Zara memberikan senyum yang sangat hangat di tengah musim dingin di negara itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2