
"Bagaimana bisa kamu kembali secepat ini, apa aku tidak salah dengar?"
Zara tampak memprotes pada pria hitam manis yang sedang menyeruput minuman dinginnya, Hah! apa tadi Zara tidak salah dengar kalau temannya itu ingin kembali ke Inggris nanti malam? siapapun tolong bantu Zara untuk membersihkan telinganya yang kemungkinan sudah tak bisa lagi mendengar suara lain selain suara ******* suaminya.
Bagaimana tidak selama tiga hari lebih suaminya itu terus saja bertingkah seperti seorang ksatria dimedan tempur, menggempurnya setiap saat tak tahu waktu padahal saat itu mereka masih tinggal di rumah mertuanya.
Dan sekarang Zara patut melegakan diri karena ia sudah menempati rumah milik Ibunya yang dengan bodohnya Davi beli dari Ibu tirinya, meski tepatnya adalah suaminya itu yang bucin padanya hingga rela mengeluarkan uang untuk membeli rumah itu padahal Zara sendiri sudah mempersiapkan uang tabungannya dari hasilnya bekerja melintasi dunia, .eskipun awalnya Davi ragu.
Davi ragu?
Iya! Davi lah yang ragu untuk tinggal di rumah itu lagi, pria itu tahu semua yang akhirnya terjadi pada mereka berawal dari rumah ini dari kejadian yang sukses membolak-balikkan rumah tangga mereka yang masih sangat awal, memporak-porandakan kepercayaan mereka masing-masing hingga menjadi saling was-was dan cenderung tak lagi banyak bicara bahkan untuk bertanya tentang apa yang sebenarnya mereka inginkan?
Tapi keraguan Davi terus diyakinkan oleh Zara, wanita yang sedang menunggu kelahiran buah hatinya itu terus membujuk memastikan dengan kata-kata penuh rayuan bahwa sudah tidak ada lagi yang patut ditakutkan semua sudah terjadi dan Zara pun sudah melewatinya dan melupakannya dengan sepenuh hati dengan selipan doa bahwa kebahagiaan mereka akan semakin berlipat setelahnya.
Sampai akhirnya satu anggukan dengan kedipan mata yang lembut Davi tunjukkan membuat Zara bersorak bahagia seraya berulang kali melancarkan ciuman dengan suara yang kencang di kedua pipi sang suami tercinta.
Dan disinilah mereka sekarang Zara dan Ipul saling berhadapan di rumah yang baru saja selesai direnovasi untuk memperbaiki sekaligus sedikit merubah pada beberapa tempat juga menyiapkan kamar untuk anak mereka kelak.
"Apa tidak sebaiknya lo pergi ke THT?" ledek Ipul tersenyum sarkas pada wanita yang mendelik, "gue bukan seorang pengangguran dan elo pun tahu itu," sambungnya seraya menyandarkan punggungnya di sofa.
"Yah, kamu laki-laki yang sangat-sangat sibuk," Zara mengejek dengan senyum yang di paksa.
"Tentu gue sangat sibuk bahkan tak sempat untuk mencari pengganti lo Za," Ipul menjawab tenang, benar-benar setenang hembusan angin di pegunungan.
"Pul?" Zara mulai merasa aura tidak nyaman jika Ipul mulai mengungkit perasaan yang seharusnya sudah terlewati bukan?
"Hahaha, gue hanya bercanda, di Inggris gue pernah berkencan singkat dengan wanita pirang. benar-benar singkat karena gue yang tidak tahan dia selalu mengikuti gue kemanapun, gue tidak bisa bergerak bebas Zaaa baru berhubungan tiga hari saja pekerjaan guesudah di buat menumpuk olehnya," keluh Ipul pada wanita yang tampaknya tidak yakin dengan pengakuannya.
Tentu tidak yakin karena selama ia tinggal di Inggris Ipul sama sekali tidak bercerita tentang hal itu.
"Ayolah Za, pergaulan di sana sangat luar biasa bahkan teman-teman gue tidak ragu untuk bercumbu di depan mata, gue ini pria normal, sangat NORMAL!" tutur Ipul menekan di akhir kalimat.
"Kalian hanya berdua?"
Suara dari pintu masuk menginterupsi pembicaraan antara dua orang teman lama itu membuat keduanya menoleh.
"Pertanyaan yang menyuarakan kecemburuan," seloroh Ipul yang tahu benar kalau Abang sepupunya masih saja menyimpan cemburu padanya.
"Mas baru pulang?" tanya Zara yang tidak mendengar suara mobil sang suami.
Oh ya ampun sepertinya Zara benar-benar menjadi tuli.
"Kamu lihat sendiri kan aku ada di sini," desis Davi dengan lirikan buas pada sang istri yang dia rasa menanyakan hal konyol tak jelas, bukankah ini memang sudah jam pulang kantor?
Iya, Davi sudah mulai kembali bekerja sejak tadi pagi, bekerja di perusahaan milik sang Ayah yang memang sudah dari dulu dipersiapkan untuknya hanya saja dia yang keras kepala malah memilih membangun perusahaan di negara orang meski harus memaksa persetujuan Ayah dan Ibunya.
"Mau ribut lagi kah Bang? muka Lo nyolotin banget!" tantang Ipul yang menjadi kesal mendapati ekspresi kecemburuan yang luar biasa kentara.
"Ipuulll," Zara menggeram gemas dengan ocehan luar biasa yang Ipul lontarkan.
Sudut bibir Davi terangkat lalu menyunggingkan seringaian menyebalkan, "aku mau mandi," ucapnya pada sang istri.
__ADS_1
"Aku tinggal dulu ya," kata Zara pada Ipul yang menaikkan alisnya.
Zara menyusul suaminya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar, wanita itu terlihat sedikit sesak karena kehamilan yang semakin membesar, di dalam kamar Davi duduk di tepi ranjang sambil membuka dasi sedangkan jasnya sudah tergeletak tak berdaya di sebelahnya.
Zara sudah akan menuju kamar mandi untuk menyiapkan air tapi suara suaminya menghentikan langkah kecilnya.
"Pulang ingin di sambut pelukan istri malah istrinya sibuk sama teman lama."
Pria itu terdengar menyindir dan sepertinya juga tengah sangat sensitif membuat Zara mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi, wanita itu beralih kepada suaminya dan berdiri tepat di depan sang suami yang membuka dasi dengan kesal.
"Dasi sialan!" makinya ketika merasa dasi yang sejak tadi ingin dia lepas belum terlepas juga menambah emosi yang meningkat.
Zara tersenyum lalu jari lentiknya mengambil alih lilitan dasi yang malah terlihat semakin kusut karena perbuatan suaminya.
"Maaf aku tidak mendengar suara mobil mu Mas," kata Zara sambil dengan sabar menjauhkan dasi dari leher suaminya jarinya kini bergerak membuka kancing-kancing kemeja suaminya.
Davi mendesah guna menetralkan emosinya yang tidak tahu kenapa datang begitu saja hanya karena Zara tidak menyambut kepulangannya.
Terlalu berlebihan memang, hanya saja dia seperti ingin balas dendam karena awal-awal pernikahan mereka sudah dihadapkan dengan masalah tak henti, jadi biarkan dia memperbaikinya dan seolah mengembalikan apa yang terlewati.
"Aku kelewatan ya?" Davi mengangkat wajahnya menatap wanita yang berdiri sambil mengumbar senyum.
"Harusnya kamu memasang rem agar tidak kelewatan lagi," Zara malah meledek suaminya dengan suara tawa yang samar.
"Lihat Mama mu, dia malah meledek Papa!" dengus Davi berbicara pada perut maju istrinya.
Cup!
"Aku siapkan air untuk mandi dulu," ucap Zara yang di angguki oleh suaminya, dan tak lama wanita itupun keluar dari kamar mandi meminta suaminya untuk segera mandi.
Saat Davi tengah mandi Zara keluar dari kamar menuju dapur untuk membuatkan kopi kesukaan sang suami.
"Za," panggil Ipul yang sudah berdiri di ujung pintu antara dapur dan ruang tengah.
"Hm?" deheman tanpa menoleh sebab Zara masih mengaduk kopi lalu setelah selesai dengan kopi Zara pun beralih pada benda lain.
Entahlah wanita itu melakukan apa yang jelas Ipul melihat wanita hamil itu tampak sangat sibuk melakukan rutinitasnya sebagai seorang istri.
"Gue pulang," ujar Ipul namun sebelum Zara menjawab malah sudah ada suara lain yang terdengar.
"Masih disini?"
Suara dari ujung tangga membuat Ipul yang bersandar di pintu menoleh sambil menunjukkan cengirannya.
"Gue mau nginep disini," celetuk Ipul dengan senyum mengejek.
Mata Davi sukses melotot kejam tak terima sedangkan Zara hanya tersenyum karena tahu temannya itu sedang menggoda suaminya yang pencemburu.
"Gue nggak bakal ijinin!" tolak Davi mentah-mentah tidak sadar bahwa dia sedang dikerjai oleh Adik sepupunya sendiri yang memang kurang ajar.
"Tapi gue pingin nginep Bang," paksa Ipul mengikuti pergerakan Davi yang turun dari tangga.
__ADS_1
"Nginep disini artinya Lo gangguin gue!" sentak Davi keras menolak.
"Gangguin apa Bang, gue cuma nginep loh?!" Ipul menampilkan wajah polos yang kurang ajar.
"Lo nikah makanya biar tahu maksud gue itu apa," tekan Davi cemberut ketika Zara malah tersenyum, tidak tahukah wanita itu kalau emosi suaminya kembali terpancing!
"Ini kopinya sayang," kata Zara meletakkan kopi ke atas meja.
"Mentang-mentang mau berojol di terabas terus," cibir Ipul.
Davi sudah akan murka pada Ipul yang sudah lebih dulu kabur sambil berteriak.
"Za gue pulang, hadapi hewan buas Lo!" seru Ipul menuju mobilnya.
"Bocah sialan!" umpat Davi sadis ketika mobil Ipul sudah menjauh keluar pagar.
Di dalam mobil Ipul tertawa senang karena untuk sekian kalinya berhasil memancing emosi Abangnya itu sambil fokus menatap jalanan.
Mobil sudah berjalan dan tawanya juga sudah terhenti menyisakan keheningan di dalamnya membuat otaknya akhirnya memutuskan untuk menyalakan musik.
Tangannya sibuk mengutak-atik mencari musik yang enak untuk di dengar mengaburkan sedikit fokusnya pada laju mobil yang sedikit menyamping sampai sedetik kemudian terdengar suara.
Bruk!
Mobilnya membentur sesuatu membuat Ipul refleks menginjak rem.
"Turuuun!" suara cempreng di sertai ketukan membuat Ipul membuka kaca mobilnya.
Tok!tok!
Suara ketukan yang sangat tidak sabaran membuat Ipul tak suka dan menunjukkan raut wajah dingin tak bersahabat.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*