Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 9


__ADS_3

Senin pagi Zara melangkah riang menuju kantin guna melakukan rutinitasnya ditempat itu.


Ya seperti biasa sebelum berangkat ia harus melalu drama pertengkaran dahulu bersama ibu tiri di rumah.


Namun itu tidak serta membuatnya murung karena pemuda yang sudah meminta nomornya, tadi malam mengiriminya pesan dan mengajak bertemu setelah pulang sekolah ini, sungguh saat menerima pesan dari nomor tak dikenal awalnya Zara malas untuk membacanya namun ketika membaca notif pesan yang bisa ia lihat disudut layar HP nya membuat tangannya dengan cepat membuka pesan itu bahkan hatinya turut gemetar seperti tangannya.


"Za." Ipul yang tidak biasanya datang pagi malah sudah tampak duduk atas motornya yang terparkir.


Zara tidak menjawab panggilan Saipul karena sepertinya gadis itu tidak mendengar suaranya dan terus saja melenggang menuju kantin sekolah dengan gerakan lambat.


Ipul yang bersungut-sungut karena merasa diacuhkan oleh Zara pun mencabut kunci motornya dan bergegas mengikuti langkah Zara.


Gadis didepan itu masih belum mau sadar akan keberadaan dirinya saat ini, karena Ipul juga melangkah dengan lambat tidak berusaha berjalan di samping Zara apalagi mendahului nya, pemuda itu tetap mengikuti dari belakang seraya mendengarkan suara Zara yang tengah bersenandung menyanyikan sebuah lagi yang terdengar samar dengan suaranya yang pelan.


Saat sedang senangnya bersenandung kecil mata Zara melihat kearah bawah dan mendapati ikatan tali sepatu kirinya terbuka refleks gadis itu berhenti dan langsung membungkuk kan tubuhnya guna mengikat kembali tali itu.


Perbuatan Zara yang secara mendadak itu tidak bisa diprediksi oleh Saipul hingga akhirnya tubuh pemuda itupun menabrak bagian belakang Zara namun untungnya tangan Saipul dengan cekatan merengkuh pinggang Zara hingga gadis itu tidak tersungkur ke lantai.


Jantung Zara serasa hampir copot saja rasanya ketika mengalami hal yang begitu mengagetkan apalagi posisi tubuh mereka saat ini begitu memalukan.


Zara menoleh kebelakang guna melihat siapa yang menabrak sekaligus menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


"Ipuuuull." teriak Zara begitu histeris mengetahui orang dibelakangnya saat ini.

__ADS_1


Suara Zara yang melengking membuat Saipul yang tadi dibuat melamun karena merasakan hal aneh menjadi gelagapan saking kagetnya bahkan tangannya malah mendorong pinggang Zara hingga hampir saja jatuh.


Tubuh Zara sempoyongan tak jelas namun akhirnya gadis itu berhasil mempertahankan keseimbangan kakinya akibat dorongan Ipul hingga tak berakhir dilantai dengan keramik berwarna putih itu.


"Sorry sorry nggak sengaja, lagian ngapain lu tiba-tiba nungging disini!" kata Ipul menyalahkan Zara dengan suara yang terdengar canggung setelah apa yang tadi dia alami.


"Nih tali sepatu gue lepas, lagian lu ngapain dibelakang gue." semprot Zara yang tidak Terima disalahkan oleh temannya itu.


"Ya gue mau sekolah Za, ini kan sekolah." Ipul beralasan.


"Tapikan ini masih pagi, nggak biasanya juga lu datang jam segini." kata Zara seraya melihat jam tangannya yang memang masih setia menunjuk angka 6 lewat.


"Ah tau ah." Ipul tak bisa lagi menjawab pertanyaan Zara, sebenarnya dia sendiri juga tidak mengerti kenapa berangkat sekolah sepagi ini, karena biasanya dia baru akan pergi ketika Jam hampir mendekati angka 7,yang artinya sebentar lagu bel masuk akan berbunyi nyaring.


Tapi pagi ini seperti ada hal yang aneh dan mengusik dirinya hingga harus membuat dia datang lebih awal.


Saipul lantas berjalan menjauh dari Zara tanpa berkata sedikitpun.


Entahlah dia merasa hari ini ada sesuatu hal yang mengganjal hatinya, tapi hal apa Saipul juga tidak mengerti.


Yang jelas dia merasa cemas dengan Zara dan merasa harus berada di dekat gadis itu.


"Dasar Saipul nggak jelas." gerutu Zara seraya berlarian menuju kantin sekolah.

__ADS_1


Sedangkan Saipul menuju kelas yang baru saja dibuka dan sudah ada sang ketua kelas yang ternyata sedang merapikan meja guru.


"Emang yang giliran piket belum dateng?" tanya Ipul kepada Herman sang ketua kelas.


"Ck, lu kayak nggak tahu temen sekelas lu aja Pul, mereka mah paling anti dateng pagi meskipun giliran piket." keluh Herman tanpa menoleh kepada Ipul.


"Sekarang emang nya giliran siapa aja?" tanya Ipul lagi seraya berjalan kearah kertas yang tertempel didekat pintu untuk melihat nama-nama yang giliran piket hari ini.


"Joko, Ramdan, Intan, Septi." Ipul mengabsen satu persatu nama yang tertera di kertas itu.


"Lah tadi gue lihat Joko sama Intan didepan." tutur Ipul yang memang sebelumnya bertemu dengan kedua orang itu saat akan memasuki sekolah.


"Itu mah udah biasa Pul, meskipun dateng pagi ya nggak bakal pada langsung masuk." jawab sang ketua kelas yang dikenal rajin namun tidak bisa tegas pada teman yang lainnya.


Seperti sekarang ini, seharusnya dia memarahi teman-temannya yang hari ini kebagian untuk piket dan tidak mau datang lebih pagi, karena seharusnya dia tegas kepada mereka bukannya malah mengerjakan piket yang sudah menjadi kewajiban anak-anak itu.


"Ya elu marahin dong, jangan diem aja." sergah Ipul yang kerap kali dibuat kesal oleh lembeknya sikap Herman sebagai seorang ketua kelas.


"Capek, cuma bikin mulut gue komat-kamit sampai berbusa tapi besokannya dia pada begitu." sahut Herman seraya kali ini menyapu lantai.


Ipul menarik napas kasar mendengar ocehan Herman, itulah mengapa pemilih ketua kelas dia tidak pernah mau ikut meskipun berulang kali dipaksa oleh anak-anak serta wali kelas mereka.


Inilah yang menjadi alasan Ipul dia sudah cukup mengenal sifat-sifat mereka, daripada dia harus emosi menghadapi kelakuan teman-temannya itu lebih baik dia menolak menjadi ketua kelas dikelas yang selalu rusuh itu.

__ADS_1


Bisa-bisa tensinya semakin naik jika sampai menjadi ketua kelas, begitulah yang ada didalam pikiran Saipul saat pemilihan ketua kelas berlangsung.


***************


__ADS_2