
Sudah hampir dua minggu setelah kehilangan Zara akibat pesawat yang dia pesan untuk istrinya dan selama itu juga Davi tidak tahu harus bagaimana, tidak ada makam istrinya karena jasadnya belum terindentifikasi padahal Davi sudah menghadirkan Paman dari Zara yang dulu menikahkan mereka, tapi nyatanya takdir belum juga mau mempertemukan dia dengan istrinya sekalipun itu hanya jasadnya saja.
Dan sampai pagi ini pun Davi masih harus menelan pil pahit kala mengetahui belum ada kepastian tentang jenazah istrinya kala sebagian tubuh-tubuh yang di temukan kembali diindentifikasi sebagai jenazah orang lain.
Langkah kaki Davi untuk melangkah ke depan malah semakin terasa berat sebab hatinya yang tidak akan tenang sebelum istrinya di kuburkan dengan layak, setidaknya ada makam dengan nisan istrinya itu agar jika suatu saat dia rindu bisa datang mengunjunginya meski hanya sekedar menatap gundukan tanah yang menjadi pembatas antara mereka.
Davi yang sedari tadi duduk di tepi ranjang menatap bingkai foto di atas meja yang memamerkan senyum ceria istrinya saat mereka baru saja menyelesaikan akad nikah yang benar-benar mendadak.
Melihatnya sebentar lalu beranjak menuju balkon kamar dan.. di tempat itu dia kembali mengingat memori kala Zara melemparnya dengan ranting yang tepat mengenai keningnya dengan refleks tangannya menyentuh kening itu seraya memejamkan mata seakan mengingat jelas kejadian masa muda mereka, masa dimana dia yang dengan sangat jahatnya berulang kali memutuskan Zara meski wanita itu berulang kali juga menolaknya, bahkan Davi menyangka tidak akan ada wanita lagi yang keras kepalanya melebihi Zara, dan sampai akhirnya Zara mengiyakan.
Sejurus kemudian Davi tersadar lalu mempererat genggaman tangannya di pagar pembatas balkon, sangat erat hingga punggung tangannya memutih lalu berubah merah terlihat jelas bahwa dia belum sepenuhnya menerima kenyataan tentang hidup istrinya yang di renggut oleh sang burung besi yang kini tak lagi utuh dan teronggok tak berdaya di dasar lautan.
*****
Dia sudut kota di bagian negara Inggris seorang pria selalu menampilkan wajah tegang bercampur kalut sejak beberapa hari yang lalu.
Dia adalah Saiful Gunawan yang sudah mendapat kabar dari Mamanya tentang apa yang telah menimpa Zara, sungguh dia hampir saja mati mendengar jika sahabat serta wanita yang pernah dia cintai di nyatakan meninggal.
Berulang kali dia menggelengkan kepala menepis semua yang Mamanya katakan dengan nada suara sarat akan kesedihan.
"Mereka pasti sangat sedih, haruskah aku mengatakannya?" monolog Ipul pada dirinya sendiri.
Pria berkulit hitam manis itu larut pada pikirannya sendiri tanpa mempedulikan tumpukan pekerjaan yang menjadi kewajibannya sebagai seorang manager di sebuah perusahaan cukup besar di negara yang menjadi pilihannya tinggal.
****
"Mau kemana Davi?" tanya sang Mama mendapati putranya yang turun tergesa dari tangga.
"Ke rumah zara," menjawab singkat dengan suara yang masih saja memperdengarkan kesedihan akan istri dan calon anaknya.
__ADS_1
Andini mengangguk sendu, "hati-hati," katanya kemudian.
Wanita itu tidak berniat untuk melarang sang putra yang dia tahu sangat merindukan istrinya bahkan dia pun turut merasakan apa yang putranya itu rasakan, kehilangan seseorang yang menjadi bagian dari hidup tentu tidak akan mudah.
Semua kenangan demi kenangan tentang orang itu akan terus hadir sekalipun kita sudah berusaha untuk sejenak saja beristirahat dalam kesedihan, berat! akan sangat berat bagi Davi dan Andini tahu itu.
Davi mengangguk singkat dengan iringan dari mata sang Mama dia melangkah menuju pintu keluar.
Andini menarik napas berat kala untuk sekian kalinya mendapati kedua mata Davi memerah, pemandangan yang sudah biasa dia lihat semenjak Zara di nyatakan meninggal.
"Mama tidak akan meminta kamu untuk melupakan Zara, tapi Mama minta kamu untuk selalu sabar dan kuat dengan takdir yang sudah tuhan gariskan untukmu anakku," desah lirih Andini yang tak sengaja mengeluarkan kembali buliran air matanya yang sudah dua hari ini dia tahan.
Davi memasuki rumah yang mereka tinggalkan agar Zara tidak lagi mengingat apa yang sudah terjadi di rumah itu dulu.
Pria itu untuk sekian kali malah mendapati bayangan saat pertama kalinya dia dan Zara menginjakkan kaki di rumah ini sebagai sepasang suami istri, rumah yang dia titipkan pada seorang pria untuk menjaganya, menjaga setiap sudut rumah agar tetap sama seperti saat dia dan Zara pergi ke Australia.
Sepertinya pria penjaga rumah itu sudah mengetahui apa yang terjadi pada istri dari pemilik rumah yang sekarang ada di depannya, hingga rasa khawatir terbersit dari dalam dirinya dan memintanya untuk menjaga sang pemilik rumah agar tidak melakukan tindakan di luar nalar.
Bukankah seorang pria yang ditinggalkan oleh istri yang teramat dicintai akan bisa melakukan apa saja? setidaknya hal inilah yang penjaga itu takutkan.
"Emm," Ardi tampak meragu mengangkat kakinya pergi.
__ADS_1
"Aku tidak akan melakukan hal bodoh yang akan menyusahkan mu," sindir Davi membaca raut wajah Ardi yang mencemaskan nya.
Mendengar itu akhirnya Ardi pun mengangguk meski dalam hatinya dia akan tetap mengawasi pria yang tampak lebih murung dari dulu saat pertama kali mereka bertemu ketika Davi memintanya untuk menjaga rumah.
Yah walaupun tadi Davi sempat mengulas sedikit senyum sindiran tapi tetap saja senyum itu tidak bisa menyembunyikan apa yang pria itu rasakan.
Sepeninggal Ardi, Davi pun naik ke lantai atas menuju kamar, kamar dia dan Zara.
Langkahnya berhenti ketika mendapati pintu yang tertutup rapat dengan debaran serta tarikan nafasnya yang tidak beraturan, kamar inilah yang menjadi awal semua penderitaan yang Zara alami semenjak menikah dengannya.
"Oh tuhan, Zara.."
Begitu lirih dan menyanyat kala bibirnya mengucapkan nama sang istri yang terakhir kali dia lihat dua Minggu yang lalu saat dia mengantar wanita itu menuju bandara.
"Bukankah seharusnya aku tidak membiarkan kamu pergi Za, kenapa aku sangat bodoh! kenapa aku tidak menahan kamu harusnya aku tidak mengijinkanmu pergi sekalipun kamu marah padaku!"
Kini penyesalan kembali meluncur bahkan saat dia baru saja berhadapan dengan pintu kamar.
Lalu apa yang akan terjadi saat pria malang itu sudah berada di dalam kamar? apa yang akan dia lakukan jika melihat barang-barang milik istrinya yang masih ada di kamar itu, serta ranjang yang mereka tiduri bersama sekaligus ranjang yang juga menjadi tempat perkosaan.
Bukankah seharusnya Davi mengganti ranjang itu? bagaimana bisa dia melupakan hal itu?
Davi sudah memegang handel pintu bersiap untuk membukanya, tapi gerakannya perlahan berhenti dan tangannya benar-benar tidak bergerak sama sekali.
__ADS_1
Nyatanya dia tidak sanggup untuk masuk ke dalam kamar hingga tangannya melepas handel lalu perlahan menjauh dengan gerakan kepala penuh kepedihan.
\*\*\*\*\*