Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 47


__ADS_3

Davi dan keluarganya sudah berangkat sejak pagi menuju bandara yang menjadi tempat perpisahan mereka.


Sedikit terlihat wajah Davi yang menampakkan kegelisahan seperti ada yang sedang dipikirkan olehnya.


"Nanti kalau sudah sampai langsung beritahu Mamah." pinta Andini yang padahal sekarang pun mereka masih berada di dalam mobil yang mengantar mereka.


"Belum juga berangkat Mah." keluh Davi dengan suara terdengar malas.


"Ya diingetin ini biar kamu nggak lupa." imbuh sang Mamah.


"Iya, iya." lebih baik mengalah daripada harus berdebat dengan Mamahnya yang sudah dipastikan nantinya seorang Davi harus mendengarkan Omelan Mamahnya sepanjang perjalanan.


"Kamu sudah telepon Riska belum Mah?" tanya Arman sang kepala keluarga yang sekarang tengah menjadi supir untuk keluarganya itu.


"Sudah, lagi di jalan katanya." sahut Andini.


"Mereka sama Zara kan?" tanya Arman kembali yang tentunya pertanyaan yang dia lontarkan membuat Davi kaget sampai mengalihkan pandangannya yang sejak tadi keluar kaca mobil menjadi menatap kearah sang Mamah.


Mamahnya memutar-mutar kedua bola matanya menyadari tatapan sang anak.


Tatapan Davi yang seakan bertanya membuat Andini hanya menunjukkan cengiran nya saja.


"Mamah bener ajak Zara?" tanya Davi.


"Iya, kamu nggak marah kan?" ucap Andini.


"Tapi kalau kamu marah juga Mamah nggak peduli." sambung Andini seraya menyebikkan bibirnya.


"Kok Mamah gitu." kesal Davi yang tidak diberi kesempatan oleh Andini untuk menjawab, padahal tadinya dia juga memang sangat ingin bertemu dengan Zara untuk yang terakhir kalinya.


Melihat wajah ceria Zara yang belakangan mengganggu tidurnya hingga tak pernah bisa nyenyak.


Senyuman gadis itu sungguh mengusik dirinya, namun ketika dia mengingat perkataan Zara bahwa gadis itu tidak akan pernah lagi mengejarnya entah mengapa mengundang berbagai perasaan yang tidak dia sadari.


"Tadi Mamah nggak tanya sih Yah, Zara ikut apa nggak." kata Andini pada sang suami.


"Ayah sih nggak yakin Zara bakal ikut." kata Arman memupuskan harapan Davi untuk bertemu dengan Zara.


"Semoga aja Kak Zara ikut, Anaya kangen pingin main lagi sama Kak Zara." si bawel Anaya ikut nimbrung pada pembicaraan orang dewasa di dekatnya.


Di dalam hatinya entah kenapa Davi pun turut berharap bahwa Zara akan datang.


Sungguh pemuda yang aneh, dia yang dulu terus-terusan meminta Zara untuk menjauh darinya tetapi sekarang malah pemuda itu berharap untuk bertemu dengan Zara, untuk sekedar menatap wajah gadis itu sekali saja.


Mereka sekeluarga sudah berada di dalam bandara duduk menunggu sampai waktu keberangkatan Davi tiba.


"Tuh Riska Yah." seru Andini seraya menunjuk kearah tiga orang yang sedang berjalan menuju mereka.


Davi pun turut serta untuk melihat tapi tujuannya hanya satu, yaitu mencari gadis yang mulai menghilang darinya semenjak beberapa hari yang lalu.


Namun nihil, dia harus menelan kecewa karena gadis yang dia cari nyatanya tidak ada diantara ketiga orang yang dia kenal itu.


"Kak Zara nya kok nggak ada Mah?" Inaya bertanya pada sang Mamah ketika matanya tidak mendapati sesosok wanita yang sejak tadi ia nantikan.

__ADS_1


"Iya ya, kok Zara nya nggak ada." Andini menimpali perkataan sang anak dengan matanya yang terlihat mencari ke sana sini gadis yang bernama Zara.


" Benarkan dugaan Ayah, Zara itu nggak mungkin mau ikut setelah apa yang dilakukan oleh Davi." cibir Arman menatap Davi yang terdiam di tempat duduk.


"Maaf Mbak kami terlambat." ucap Riska ketika sudah berada di depan Andini lalu memeluk Kakak iparnya itu.


"Om, Tante." Ipul menyalami kedua orang tua Davi, begitupun dengan Davi, meskipun dengan gerakan yang terkesan malas namun pemuda itu tetap menghampiri Om dan Tantenya.


"Zara nggak ikut Pul?" tanya Andini kepada keponakannya.


Ipul menggeleng.


"Katanya ada urusan Tante, dia cuma titip salam buat Om dan Tante aja." sahut Ipul seraya melirik kepada Davi yang sudah kembali duduk berpura-pura sibuk dengan HPnya namun telinganya tetap mendengarkan setiap perbincangan diantara orang-orang sekelilingnya.


"Padahal Tante pingin banget ketemu sama Zara, sudah lama juga kan dia nggak main ke rumah." kata Andini terlihat sekali wajahnya yang menampakkan kecewa.


"Sama Mbak, Zara juga udah nggak pernah datang ke rumah, dulu sih seminggu bisa 2 atau 3 kali dia mampir, tapi sekarang malah nggak datang sama sekali." timpal Riska, kedua wanita itu melanjutkan obrolan mereka sedangkan Ipul berjalan mendekati Davi.


Arman dan Irman sibuk meladeni kedua gadis kembar yang tidak bisa diam, berlari-larian tak jelas membuat khawatir mereka.


"Lu udah hubungin Zara Bang?" Ipul membuka pembicaraan dengan Davi.


"Buat apa?" Davi malah balik bertanya dengan wajah dingin.


"Pamitan, atau minta maaf sama apa yang sudah lu lakuin ke dia misalnya." tutur Ipul seperti sedang menuduh Davi sudah melakukan banyak kesalahan dan harus meminta maaf kepada Zara.


"Jadi menurut lu gue salah?" tanya Davi seraya menyimpan HPnya.


Dengan entengnya Ipul mengangguk memberikan jawaban.


"Minta maaf Bang, sebelum lu semakin menyesal." saran Ipul.


"Lu sama aja sama orang tua gue Pul." kesal Davi.


"Sama di bagian mananya?" tanya Ipul yang tak mengerti.


"MENYESAL, kata itu juga yang diucapkan Ayah dan Mamah gue saat mengetahui kalau gue udah putusin Zara." jawab Davi dengan penekanan kata menyesal.


Ipul di buat menarik napas sangat dalam mengetahui ternyata sudah ada orang yang lebih dulu mengatakan hal itu kepada Davi.


"Mungkin lu memang bakal menyesal." Ipul makin memojokkan Abang sepupunya itu.


"Buat apa menyesal kalau nyatanya gue emang nggak suka sama dia."


"Nggak suka tapi waktu tau Zara nggak ikut muka lu langsung asem Bang." ledek Ipul yang rupanya menyadari perubahan raut wajah Davi saat mendengar Zara tidak ikut mengantar dirinya.


"Udah lah nggak usah di bahas." ucap Davi yang merasa malu dengan ledekan Davi.


Ipul terkekeh mendengar jawaban Davi dan tingkahnya yang menjadi gugup tak jelas.


"Jadi kita damai Nih?" ucap Ipul.


Davi berdecih lalu membuang wajahnya.

__ADS_1


"Gue mau damai sama elu karena gue mau lu jagain Ayah, Mamah dan kedua Adik gue selama gue pergi." ungkap Davi.


"Lah parah, ada maunya doang." gerutu Ipul.


"Lu mau nggak?" wajah Davi malah lebih ngotot daripada orang yang dia mintai tolong itu.


"Iya Bang Iya, lu sensi banget sih." omel Ipul yang lebih memilih mengalah.


"Zara jagain sekalian nggak?" tanya Ipul dengan alisnya naik turun terlihat wajah yang penuh dengan godaan.


"Itu mah terserah elu, gue nggak ada urusan sama dia. lagian lu suka sama dia tanpa gue pinta juga pasti lu bakal jagain dia." tutur Davi cepat.


"Tapi dianya nggak suka sama gue."


"Terus lu nyerah gitu?"


"Yaiyalah, perasaan nggak bisa di paksa." sahut Ipul diplomatis.


"Payah." ejek Davi.


"Elu yang payah, suka tapi nggak.."


"Mau ngomong apa Lu?!" Davi memotong omongan Ipul sebelum pemuda itu meneruskan perkataannya.


"Kalian ini kenapa malah ribut." Riska dan Andini mengomeli dua pemuda yang sedang adu mulut saling menuding tak mau kalah.


"Siapa yang ribut?" Davi dan Ipul kompak menjawab dengan wajah yang bingung.


"Sudah sudah, kamu tidak dengar itu pemberitahuan untuk segera masuk pesawat." kata Arman kepada sang anak.


Mendengat perkataan sang Ayah wajah Davi sekejap menjadi berubah, mengingat dia akan berangkat secepatnya.


Davi memeluk Andini yang menangis melimpahkan air mata sedihnya karena anak tertuanya akan meninggalkannya untuk waktu yang terbilang lama.


"Hati-hati kamu Ya, nanti Tante kamu akan jemput kamu di sana." ucap Andini dengan disertai isakan.


Davi berpamitan pada satu persatu orang yang ada di situ.


Terakhir dia memeluk Ipul lalu mengatakan maaf dengan kelakuannya selama ini.


"Namanya anak muda, santai aja yang jelas saat nanti lu kembali lu harus sudah jadi orang yang sukses." seloroh Ipul.


"Terimakasih."


"Santai." sahut Ipul.


"Tolong jaga Zara." ucapan Davi berikutnya membuat Ipul tersenyum tipis.


Tubuh Davi secepat kilat menghilang di tengah kerumunan orang yang juga akan berangkat menaiki pesawat.


Di dalam pesawat Davi menarik napasnya berulang kali seraya menatap keluar jendela pesawat menatap betapa luasnya lapangan untuk menerbangkan pesawat itu.


Hati Davi kembali berdesir kala merasakan pesawat mulai berjalan perlahan yang menandakan bahwa sebentar lagi dia akan meninggalkan negara kelahirannya untuk menuntut ilmu bertahun-tahun lamanya.

__ADS_1


**************


__ADS_2