Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 121


__ADS_3

Davi menggandeng Zara masuk ke dalam minimarket lalu membebaskannya untuk memilih apa saja yang wanita itu ingin beli, tentu yang Zara cari adalah kebutuhan dapur serta beberapa alat rumah tangga yang tidak ada di apartemennya.


Pria itu hanya mengikuti istrinya dari belakang seraya mendorong troli untuk barang-barang yang di ambil oleh sang istri.


Entah kenapa setiap Zara akan mengambil sesuatu wanita itu terlebih dulu menoleh pada pria yang berada di belakangnya lalu selalu meminta ijin.


"Aku boleh beli ini?" tanya Zara.


Dan untuk sekian kalinya Davi mengangguk lalu berkata, "kamu boleh beli apapun yang kamu mau," ucap Davi dengan senyuman yang selalu saja terlihat begitu tulus serta menyejukkan.


Karena baginya sikap Zara yang seperti ini jauh lebih baik karena itu artinya perlahan demi perlahan istrinya mulai bisa melupakan semua kejadian yang terjadi.


Tapi ketenangan dan senyum Davi mendadak sirna kala di depan sana ada seorang pria yang tidak mereka kenal berpapasan dengan sang istri, mereka sama-sama ingin mengambil sesuatu hingga tangan keduanya saling bersenggolan.


Davi mengira itu hal yang biasa namun ternyata tidak bagi Zara, wanita itu langsung terdiam menunduk dengan tubuh yang bergetar bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun kala pria bule yang tadi bersenggolan dengannya meminta maaf.


Melihat gelagat yang di tunjukkan oleh istrinya itu membuat Davi langsung menghampirinya serta memeluknya dengan erat seraya berusaha untuk menenangkannya.


Meyakinkan pada sang istri bahwa semua akan baik-baik saja dan pria itu tidak memiliki maksud apapun terhadapnya.


"Aku takut Mas," seru Zara dengan suara yang bergetar.


Davi pun memejamkan kedua matanya menyadari bahwa kini istrinya mengalami trauma yang akan membuatnya takut bila bertemu dengan laki-laki lain yang tidak ia kenal apalagi sampai bersentuhan seperti tadi.


"Mulai sekarang aku akan selalu berada di dekat kamu, aku janji tidak akan terjadi apa-apa lagi padamu Za," kata Davi meyakinkan wanita yang kini kulitnya sudah berubah menjadi sangat pucat.


"Aku mau pulang, aku mau pulang," kata Zara lagi dengan nada yang teredengar begitu cemas.

__ADS_1


"Iya, iya kita pulang sekarang," jawab Davi.


Pria itu pun langsung membawa Zara kembali ke apartemen setelah terlebih dulu meminta pelayan supermarket untuk menghitung serta mengantarkan barang yang tadi sempat Zara masukkan ke dalam troli.


Zara terus menundukkan wajahnya seraya memegang dengan kencang lengan sang suami, pegangannya itu bahkan membuat Davi menatapnya lalu mengelus punggung tangan Zara guna sedikit memberikan ketenangan pada wanita itu bahwa tidak akan ada hal buruk yang terjadi.


Bahkan ketika masuk ke dalam lift Zara mulai menitikkan air matanya hingga samar-samar suara tangisnya mulai terdengar.


"Za, tidak akan terjadi apapun lagi padamu, oke. tenang, ada aku yang akan selalu menjagamu," seru Davi seraya menunduk guna melihat pada kedua mata istrinya yang sudah penuh dengan kubangan air yang tertampung di kedua matanya.


Tak lama kemudian lift pun terbuka dan dua orang pria tengah berdiri di depan lift itu, keduanya pun menunggu Davi dan Zara keluar sebelum mereka masuk.


Dan lagi-lagi Zara pun mengalami hal yang sama seperti di minimarket tadi, wanita itu sungguh tidak berani untuk mengangkat wajahnya bahkan kedua tangannya meremas lengan sang suami guna menyalurkan perasaan takut yang kian membesar kala salah seorang dari pria itu mengeluarkan suara.


Davi mengelus punggung istrinya berusaha untuk membuatnya lebih relaks agar bisa melawan ketakutan yang kini terus saja membayanginya.


Masuk ke dalam apartemen Zara langsung berlari menuju sofa lalu duduk dengan memeluk kedua lututnya.


Takut bertemu dengan lawan jenis yang tidak ia kenal, takut dengan pria asing karena pikirannya yang nyatanya masih saja memikirkan hal buruk itu.


"Zaaa," suara Davi terdengar begitu frustasi melihat bagaimana istrinya saat ini.


"Aku takut Mas, aku takut!" seru Zara.


Mendengar perkataan Zara membuat Davi tidak bisa berkata apapun lagi, pria itu langsung mendekap tubuh sang istri seraya menghela nafas panjang.


Dan kini yang ada di dalam kepalanya adalah bagaimana caranya agar dia bisa mengembalikan Zara menjadi wanita yang dia kenal dulu.

__ADS_1


Zara menangis di dalam dekapan sang suami sampai tak lama tidak ada lagi suara yang terdengar dari mulutnya.


Davi melihat wajah sang istri dan mendapat kedua mata wanita itu terpejam, mungkin lelah di perjalanan dari Indonesia sampai ke Australia di tambah dengan lelah karena harus menangis sehingga membuatnya ketiduran.


Ini jauh lebih baik ketimbang wanita itu harus menangis terus menerus tanpa henti.


Davi pun mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke dalam kamar, meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur serta memakaikan selimut agar terlindung dari dinginnya AC yang menyala.


"Aku sangat mencintaimu Za, Aku mohon kembali lah seperti dulu," cetus Davi menatap wajah sang istri yang terlihat begitu damai saat sedang tertidur.


Tanpa terasa pria itu malah menjatuhkan air matanya di kening sang istri dengan segera jarinya menepis air mata itu lalu mengecup kening istrinya dengan sangat lama seakan menyalurkan kerinduan yang begitu mendalam.



"Aku rindu senyum kamu, aku rindu keceriaan kamu dan aku rindu bawelnya kamu," tutur Davi menatap dengan dalam wajah yang sangat dia cintai itu.



Setelah itu Davi pun keluar dari kamar dan menutup pintunya dengan begitu hati-hati agar tidak mengeluarkan suara yang bisa membuat Zara terbangun.



Pria itu duduk termenung di ruang makan seraya menangkup kepalanya dan beberapa kali pun terdengar hembusan nafas yang begitu berat dari mulutnya.



Entah sampai kapan dia harus melihat istrinya ketakutan seperti tadi, entah sampai kapan dia dan Zara bisa hidup dengan tenang tanpa bayangan masa lalu yang seakan merubah seluruh hidup mereka.

__ADS_1



\*\*\*\*


__ADS_2