
"Kamu tidak bisa seperti ini terus Za," kata Davi setelah beberapa hari Zara tak mau berbicara dengannya karena marah.
"Aku hanya ingin kehidupan yang normal seperti pasangan suami istri lainnya!" jawab Zara dengan lantang.
"Maksud kamu pernikahan kita tidak normal?" tanya Davi dengan gelengan kepala menganggap pernyataan Zara sangat konyol.
"Jelaskan bagaimana tidak normalnya?" kemudian Davi mengajukan pertanyaan lalu menatap istrinya menunggu wanita itu memberikan jawaban.
"Jelaskan padaku pernikahan seperti apa yang menurut kamu normal," sambung Davi ketika Zara masih juga terdiam.
"Aku ingin seperti pasangan suami istri yang lainnya, suaminya bekerja dan aku sibuk dengan urusan rumah juga berbelanja jika ada keperluan yang habis," ungkap Zara.
Davi mengerutkan dahinya lalu tak lama kemudian menautkan kedua alisnya.
"Bukankah aku juga bekerja, sama seperti suami-suami di luaran sana, aku bekerja mencari uang untuk menghidupi kita."
"Tapi kamu tidak pergi ke kantor, kamu mengerjakan semua pekerjaan kamu dari apartemen ini!" Zara mulai tidak bisa mengendalikan keresahannya saat berkata, terlihat jelas dari dua matanya yang bergetar dan tangannya yang menarik sebagian rambutnya.
__ADS_1
Davi yang melihat itupun bergegas menghampiri sang istri lalu menahan kedua tangan wanita itu agar tidak bertindak semakin jauh yang nantinya akan membuat rambut istrinya menjadi rontok.
"Aku akan bekerja di kantor jika kamu memang benar-benar sudah kembali seperti dulu, untuk saat ini aku tidak akan membiarkan kamu sendirian," jelas Davi.
Posisi keduanya kini saling berhadapan dengan kedua mata yang saling memandang meski pandangan Zara terkadang tidak fokus dengannya, karena sibuk melihat ke sekelilingnya.
"Memangnya aku kenapa?! aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja dan aku masih Zara yang dulu Mas.."
Panggilan Mas yang kini kembali terucap dari mulut Zara setelah beberapa lamanya Zara melupakan panggilan itu membuat Davi sontak memeluk sang istri.
"Harus ada orang yang bisa meyakinkan kamu bahwa semuanya akan kembali menjadi seperti dulu," lanjut Davi lagi.
"Kenapa bukan kamu yang melakukannya?" tanya Zara kemudian tanpa menatap ke mata sang suami.
Lihat saja kondisinya sekarang yang mungkin akan semakin menjadi jika tidak segera ditangani, pandangannya sudah tidak mau fokus pada lawan bicaranya.
Davi menggeleng dengan pertanyaan dari istrinya.
__ADS_1
"Menurut padaku Ya Za, Aku rindu kamu panggil Mas seperti dulu, aku rindu senyum kamu, aku rindu semua yang ada pada kamu," tutur Davi dengan suara yang lembut agar istrinya mendengarkan apa yang dia katakan.
"Bagaimana jika semuanya tetap tidak berubah?!" cetus Zara kini menggigiti kuku-kuku jari tangannya.
"Tidak akan! karena Aku yakin kamu akan mampu melewati ini semua, kamu sayang aku dan kamu pasti akan bisa berjuang untuk aku, untuk rumah tangga kita dan untuk kebahagiaan kita!" tegas Davi menarik tangan Zara agar tidak semakin merusak kukunya sendiri.
Davi terus memberikan keyakinan pada Zara bahwa semuanya akan kembali normal, sampai akhirnya Zara mengangguk perlahan yang membuat Davi bergegas mendekap tubuhnya.
"Yakinlah bahwa semua ini akan segera berakhir dan sampai saat kebahagiaan kita akan kita rasakan bersama," ucapnya dengan tarikan napas yang begitu lega.
Bahkan berulang kali juga pria itu menghujani puncak kepala Zara dengan kecupan, mulai merasa tenang karena akhirnya Zara mau menurut padanya.
*****
__ADS_1