
Pelajaran terakhir seolah begitu lambat untuk selesai bagi Zarania yang sejak tadi terus memberikan lirikan kepada Saipul yang duduk tepat di sampingnya dan hanya diam seolah tidak bisa berbicara.
Zara tidak berani untuk membuka mulutnya dan mengajak Ipul berbicara karena ia tidak mau mengulang kejadian tadi hingga ia diusir dari kelas.
Gadis itu hanya berharap agar pelajaran segera berakhir dan tepat saat Zara baru selesai menutup buku pelajarannya bel sekolah berbunyi dengan nyaring menandakan berakhirnya sekolah hari itu.
"Ada yang mau gue omongin." ujar Zara pada Saipul.
Namun pemuda itu malah acuh dan seenaknya pergi begitu saja tanpa menggubris ucapan Zara dia dengan enaknya hendak bangun dari kursi kayu yang tadi dia duduki.
"Ipuuuul." pekik Zara geram sambil menarik tangan Saipul hingga pemuda itu kembali terduduk dan tentu saja dengan bagian bawah belakang tubuhnya mendarat dengan keras di atas kursi yang keras itu.
"Sakit Za." akhirnya Ipul membuka mulutnya meski pun Omelan yang keluar.
"Lagian siapa suruh dari tadi diem aja." sengit Zara sambil mendelik sebal.
"Kalau mau ngomong ya di luar." sahut Ipul.
Rupanya tadi pemuda itu bermaksud keluar agar Zara yang katanya ingin berbicara dengannya mengikuti keluar karena sebentar lagi kelas juga kan segera ditutup apalagi ini sudah sore dan tidak ada kegiatan belajar lagi.
Tapi nyatanya bukan ikut keluar Zara malah menarik dirinya hingga terduduk keras ke kursi yang sekarang membuat bagian belakangnya cenat-cenut.
"Sakit nih jadinya." sambung Ipul sambil menepuk belakangnya.
"Lagian nggak ngomong." sungut Zara dengan bibir mengerucut.
"Ayo cepat keluar, keburu di kunci nih." cetus Ipul seraya menengok kearah pintu.
Zara bangkit dari duduknya hendak keluar namun Ipul malah keheranan.
"Lu mau kemana?" tanya Ipul dengan wajah bingung.
Zara mendengus kesal.
"Tadi katanya diluar aja, sekarang gue mau keluar malah ditanya, aneh."
"Tas lu nggak dibawa?" Ipul melirik tas Zara yang masih teronggok di atas meja, rupanya yang Ipul permasalahkan adalah tas yang tidak dibawa oleh Zara dengan padahal gadis itu mau keluar kelas dan pastinya setelah itu akan pulang ke rumah, sangat tidak mungkin tas Zara dibiarkan menginap disekolah sedangkan ada PR yang harus dikerjakan di rumah.
__ADS_1
Zara menepuk keningnya seperti baru mengingat tas miliknya sendiri, gadis itupun lantas mengambil tas itu dan memakainya dipunggung.
"Ya udah ayo." ajak nya pada Saipul dan kali ini giliran pemuda itu yang mendengus.
Zara berjalan keluar seraya menggandeng lengan Ipul agar pemuda itu tidak pergi darinya, Zara tak menyangka dan tidak sadar bahwa perbuatannya itu malah membuat hati Ipul berdenyut namun pemuda itu mengabaikan kode yang diberikan sang pencipta tentang apa yang sekarang dia rasakan dan seharusnya dia sadari.
Zara terus membawa Saipul yang dengan pasrah nya melangkah mengikuti sang gadis yang seperti mengendalikan tubuhnya.
"Duduk disini." kedua tangannya mendorong bahu Ipul dengan wajah mendongak karena tubuh pemuda itu yang lebih tinggi darinya.
Akibat dorongan gadis itu Saipul pun harus terduduk dan lagi-lagi tubuh bagian belakangnya beradu keras dengan bangku yang kali ini terbuat dari besi, sungguh malang nasib bagian belakang Saipul hari ini.
Zara pun mengambil duduk di samping Ipul dengan posisi menyamping menghadap Saipul yang duduk tegang ditempatnya.
Zara mengatur napasnya terlebih dulu sebelum mulai berkata.
Sekolah yang sudah hampir sepi karena kebanyakan murid yang langsung pulang setelah bel berbunyi sekitar 15menit yang lalu.
"Mau ngomong apa?!" akhirnya Ipul lebih dulu bertanya karena Zara yang malah sibuk menarik napas seperti habis melakukan maraton.
"Lalu?" kata Ipul meminta Zara untuk segera mengatakan apa yang ingin gadis itu katakan kepadanya.
"Aku pergi sama seseorang." ucap Zara dan membuat mata Saipul memicing sarat dengan rasa ingin tahunya dengan siapa temannya itu pergi hingga tidak sempat menjawab telepon serta membalas pesan yang dia kirimkan.
"Ingat nggak sama pemuda yang waktu itu akan masuk ke warung bakso tapi lu malah ngajak gue pulang?" tanya Zara mengingatkan Saipul tentang kejadian tempo hari.
"APA?!" dari nada suara nya terlihat jelas bahwa Ipul sangat kaget, dia tahu betul siapa laki-laki yang dimaksud oleh Zara saat ini.
"Jangan bilang lu pergi sama dia!?" lanjutnya dengan tatapan mata yang mengintimidasi membuat Zara merasa aneh.
Ia merasa didepannya sekarang ini bukanlah Saipul Gunawan yang ia kenal sebab seorang Ipul tidak akan pernah memberikan tatapan mata yang begitu tajam padanya, tidak ini bukanlah Ipul yang ia kenal, begitu batin Zara berucap.
"Lu pergi sama dia?! Ipul mengulang kembali pertanyaannya.
Meski dengan keraguan akhirnya Zara mengangguk samar, namun gerakannya itu bisa dilihat oleh Ipul yang dari sorot matanya terlihat begitu marah.
"Mulai sekarang jauhi dia dan jangan pernah berhubungan lagi dengannya." perintah Ipul dengan nada tegas dan tajam.
__ADS_1
"Hah." Zara mengangkat wajah karena tak percaya dengan ucapan Ipul, kenapa temannya itu malah meminta dirinya untuk menjauhi pemuda yang ia sukai dan Ipul pun tahu itu.
"Jauhin dia." tangan Ipul memegang kedua bahu Zara dengan saling menatap.
"Nggak, gue suka sama dia dan elu juga tahu itu Pul, gue udah bilang sama elu. gue suka sama Davi." tutur Zara pelan.
"Tapi dia nggak suka sama elu Za, gue tahu itu." imbuh Ipul dengan tatapan mata yang kali ini penuh kekhawatiran.
"Kalau dia nggak suka nggak mungkin dia nembak gue semalam."
Mata Ipul membelalak begitu besar.
"Lu terima?"
Gadis didepannya itu mengangguk menjawab pertanyaannya.
Gerakan kepala Zara langsung membuat Sambaran petir didalam diri Saipul, betapa kecewanya dia mengetahui Abang sepupunya yang dia kenal bajingan dan berandalan malah mendekati Zara gadis yang selama ini dia jaga, tentu dia tidak terima jika Davi hanya sekedar mempermainkan Zara saja.
"Lu putusin dia sekarang juga, gue nggak mau tahu!" tegas Ipul.
"Nggak, gue nggak mau." Zara menolah mentah-mentah permintaan Saipul.
"Dia cuma mau sakitin elu Za, percaya sama gue."
Dengan keras kepala seorang Zara memilih untuk tetap menolak permintaan Ipul.
"Ya udah kalau itu Emang mau lu, gue nggak bisa apa-apa, gue bukan siapa-siapa elu dan tentunya gue nggak berhak melarang elu buat berhubungan dengan siapapun." kata Ipul akhirnya, dia menyerah dan membiarkan Zara dengan keinginannya sendiri.
"Ipul." Zara berkata lirih mendengar yang barusan dikatakan Ipul.
Bukan siapa-siapa, kata itu yang sekarang melekat di kepala Zara.
Baginya Saipul lebih dari apapun untuk Zara, Ipul yang selalu ada untuknya disaat sedang sedih sekalipun, tapi sekarang pemuda itu marah kepadanya karena ia memilih untuk tetap dekat dengan pemuda bernama Davi dan mengabaikan permintaannya.
Zara melihat sedih kearah tubuh Ipul yang perlahan menjauh darinya dan menghilang dengan motor yang pemuda itu naiki.
*********************
__ADS_1