Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 81


__ADS_3

Pagi hari kedua pintu kamar apartemen yang saling berhadapan itu terbuka bersamaan dan menampakkan dua anak manusia yang kini saling memandang.


"Kamu mau kemana?" tanya Davi dengan mata yang memicing sambil memakai dasi di kerah kemejanya.


Penampilan Zara yang terlihat rapi sudah pasti membuatnya bisa menebak bahwa wanita itu akan keluar dari apartemen.


"Teman-teman semalam hubungi aku ada tempat yang seru yang katanya akan mereka datangi dan mereka meminta aku untuk ikut, aku tidak bisa menolak." Zara menjawab rinci pertanyaan yang do ajukan oleh lelaki yang pagi itu sungguh membuat jantungnya seperti memaksa untuk keluar, sangat tampan dan teramat sulit untuk Zara bisa memalingkan tatapannya dari wajah lelaki yang berulang kali meminta maaf padanya setelah semua kisah mereka di masa lalu.


Jujur saja sebagai seorang wanita sejak pertama kali bertemu kembali dengan sosok Davi perasaan semua yang pernah ada muncul dan seperti saling berperang dengan perasaan benci dan kecewa yang di terimanya, tapi kemudian akhirnya perasaan benci serta kecewa harus kalah dan dengan sukarela menyingkir dari dalam hatinya sehingga disini lah ia sekarang berada, di apartemen lelaki masa lalunya dan mulai kembali merajut kisah cinta dengan harapan penuh bahwa kisah mereka akan berakhir bahagia tanpa kekecewaan masa lalu yang bisa saja terulang kembali.


Hati Zara begitu berharap akan semua yang menjadi baik-baik saja sehingga ia dan Davi bisa menempuh perjalan hidup dengan mudah tanpa rintangan apapun dan dari siapapun.


Setidaknya kini semua harapan Zara gantungkan pada lelaki itu, pada lelaki yang sekarang ada dihadapannya dan tengah menatap dirinya dengan mata yang memicing.


"Kalau aku nggak kasih ijin kamu buat keluar gimana?" yah sudah tentu itulah jawaban Davi, lelaki itu tidak akan memberi ijin wanitanya keluar dari apartemen tanpa ditemani oleh dirinya, sekalipun sang wanita mengatakan akan pergi bersama teman-temannya namun tetap saja dia tidak percaya apakah mereka bisa menjaga dengan baik kekasihnya itu, terlebih lagi setelah apa yang dilakukan oleh Lisa kemarin, sungguh Davi sangat yakin Lisa bisa melakukan tindakan yang mungkin akan lebih mencelakai Zara lebih dari yang sudah wanita itu lakukan di depan matanya.


"Aku pergi sama teman Vi." Zara mengulang perkataannya tentang teman-temannya yang pasti akan terus bersama dirinya selama pergi.


Namun sepertinya Davi tidak ingin membiarkan Zara tetap pergi terbukti dengan gerakan kepalanya yang menggeleng lambat memberikan tolakan.


"Please, aku bisa jaga diri kok." Zara mendekat pada Davi yang sudah berjalan menuju dapur untuk membuat kopi mengabaikan perkataan Zara.


"Aku sudah buatkan." Zara mendahului Davi dan mengambil secangkir kopi yang memang sudah ada di meja makan dengan dua buah roti bakar yang terlihat masih hangat.


"Ini." Zara menyerahkan kopi ke tangan Davi dengan senyuman di wajahnya, sepertinya itulah cara Zara untuk membujuk Davi agar mau mengijinkannya keluar.


Davi duduk dan menyeruput kopi yang masih menampakkan kepulan asapnya secara perlahan, mencecap nya guna menikmati betapa nikmatnya kopi buatan wanita yang akan menjadi istrinya itu.

__ADS_1


"Ini." kali ini Zara yang duduk di sebelahnya mengangkat piring berisi roti ke depan Davi dan kembali wajah Zara tersenyum sangat manis membuat Davi akhirnya tak kuasa untuk menolak apa yang sekarang diinginkan oleh Zara.


"Hanya sebentar, setelah selesai kamu harus langsung pulang dan jangan berpisah dengan teman-temanmu." ucap Davi memberi peringatan yang harus di patuhi oleh Zara.


Zara mengangguk senang. "Terimakasih." katanya.


"Aku pulang agak malam sepertinya, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum kita kembali ke Indonesia besok." tutur Davi dengan mengelus rambut panjang Zara yang kali ini dibiarkan tergerai.


"Iya."


"Jika tidak ada aku jangan sekalipun membuka pintu untuk siapapun. jika ada yang menekan bel terus menerus biarkan saja." menatap wajah Zara yang terlihat sangat segar saat di pagi hari.


"Apa masih sakit?" tanya Davi ketika tangannya berhenti di puncak kepala sang wanita yang menggeleng menjawab pertanyaan darinya.


Davi mengangguk samar, hatinya masih sangat merasa menyesal dengan apa yang terjadi pada Zara kemarin, sungguh dialah orang yang bersalah atas apa yang menimpa Zara, seandainya saja dia tidak pernah menerima Lisa tentu ini tidak akan terjadi dan sekarang dia semakin di buat khawatir dengan apa yang akan dilakukan oleh Lisa dengan kegilaan wanita itu yang sudah pernah disaksikan sendiri oleh Davi makin membuatnya takut dengan keselamatan Zara.


Davi menarik napas dan membuangnya dengan kasar membuat Zara yang melihatnya cukup mengerti dengan apa yang sekarang ada menjadi pikiran Davi.


"Kamu benar-benar masih mencintaiku kan Za?"


Zara mengernyit dengan pertanyaan yang diajukan oleh Davi, pertanyaan yang seolah tidak yakin bahwa seorang Zara memang masih mencintai lelaki bernama Davi, Daviandra Arrayyan.


Zara tidak mengeluarkan jawaban apapun namun dia memilih untuk mencium lelaki di depannya itu seperti tengah memberi bukti bahwa ia memang masih sangat mencintai sang lelaki dengan sangat tulus.


Davi terdiam sedangkan Zara memilih untuk langsung menunduk guna menyembunyikan kedua pipinya yang sekarang mungkin sudah Semerah tomat.


"Aku ingin kamu mengatakannya Za." pinta Davi seperti tidak puas atau memang sengaja melakukan itu untuk menggoda Zara.

__ADS_1


Zara menggeleng cepat dengan kedua tangannya yang terus memilin ujung baju yang ia kenakan.


"Mana Zara yang dulu selalu berteriak padaku bahkan melempar ranting hingga mengenai keningku." Davi malah mengungkit kejadian dulu yang membuat Zara semakin malu dengan perbuatannya sewaktu masih berusia belasan.



"Aku tidak akan melakukannya lagi." tutur Zara.



"Tapi aku ingin kamu melakukannya lagi." paksa Davi.


Mendengar permintaan Davi yang tidak mungkin ia lakukan membuat Zara gegas beranjak dari kursi itu dan hendak berlalu.


"Aku pergi." ucap Zara yang membuat Davi gegas ikut bangun dari duduknya dan mengejar Zara yang sudah berada di ruang tamu.


Tangan Davi menarik Zara dengan kencang hingga membuat Zara berbalik dan tertarik ke arahnya dan kini tubuh mereka sudah saling menempel sangat dekat dan erat.


Tanpa berucap Davi menempelkan hidung mereka dan menggerakkannya dengan lembut, kemesraan yang sudah sangat dia nantikan sejak dulu dengan wanita yang dia cintai dengan kedua mata yang saling menatap.


Hingga suara dering HP menginterupsi keintiman keduanya.


Davi menjawab panggilan yang ternyata dari Robert, teman yang juga rekan kerjanya sekaligus lelaki yang sudah tidur dengan Lisa, jika saja Davi mencintai Lisa mungkin dia tidak akan pernah mau untuk mengenal Robert selamanya.


Tapi nyatanya wanita yang dia cintai hanyalah Zara, wanita yang sekarang ada di dalam pelukannya dan tengah berusaha untuk minta dilepaskan karena akan segera pergi untuk menemui teman-temannya yang sudah sejak tadi mengiriminya pesan untuk segera datang.


Davi menyelesaikan pembicaraannya dengan Robert lalu menatap Zara dan untuk sekian kalinya kembali memberikan kecupan lembut di bibir wanita itu.

__ADS_1


"Aku antar kamu." ujar Davi seraya menarik tangan Zara yang mengikuti setiap langkahnya tanpa protes.


****


__ADS_2