
Saat di dalam pesawat yang menuju Indonesia Ipul terus menerus memperhatikan sikap Zara, wanita di sampingnya itu sejak tadi meremas kedua tangannya dengan sangat erat sambil sesekali menunjukkan raut wajah yang sulit di ungkapkan, entah apa yang sekarang sedang dipikirkannya Ipul pun tak bisa menebak.
"Kenapa? cemas karena suamimu akan babak belur di tanganku?" tanya Ipul sinis dengan sudut bibir yang terangkat.
Ipul sudah paham tentu sebagai seorang istri tidak akan rela suaminya dipukuli sedemikian rupa terlebih lagi sejak tadi dia terus saja mengancam akan membalas yang sudah Davi lakukan selama ini.
"Bukan," sahut Zara sangat pelan, terang saja jawabannya itu membuat Ipul sontak mengerutkan keningnya, heran jika bukan itu lalu apa yang sedang mengganggu pikiran wanita di sebelahnya saat ini?
"Lalu?" bertanya penuh kebingungan menuntut jawaban sedangkan wanita di sampingnya malah menggigiti ibu jarinya.
"Aku takut dia marah," jawab Zara.
"Bukankah kamu bilang kemarahannya akan teralihkan jika aku memukulinya?" heran Ipul dengan sikap Zara saat ini.
Zara menggeleng, "aku sedikit ragu, Davi sepertinya akan tetap marah," tutur Zara menampilkan ekspresi cemas yang tidak bisa di sembunyikan.
"Kalau begitu kita tidak perlu menemuinya, biarkan saja dia menganggap mu mati ikut tenggelam dengan pesawat yang sebentar lagi akan menjadi rumah baru bagi makhluk laut," seloroh pria hitam manis santai, ketenangan penuh bahkan sambil memainkan kedua alisnya menunjukkan bahwa dia tidak ambil pusing atas masalah yang sedang dihadapi dua orang manusia yang sebenarnya sama-sama bucin, bucin akut!
Mata Zara membesar sempurna bahkan besarnya biji kelereng pun sepertinya kalah jauh.
"Seenaknya kamu bicara! setelah menganggap aku mati tentunya dia akan merasa menjadi seorang duda, dan dengan cepat akan tebar pesona dengan semua wanita yang dia mau, enak saja! aku tidak mau! aku sudah susah payah membawa anaknya setiap saat bersamaku, lalu hanya karena aku ingin liburan sebentar terus tanpa sengaja menjadikan dia duda dengan sejuta pesona gitu?! aku tidak akan membiarkannya!" ketus Zara panjang menunjukkan keberatannya dan semua itu memperlihatkan bagaimana ia yang tidak pernah rela sekalipun suaminya itu dengan wanita lain, lebih lagi menganggap ia sudah benar-benar mati.
"Kamu bukan liburan Za, tapi kabur!" kata Ipul penuh sindiran seolah mengingatkan apa yang dia lakukan.
__ADS_1
"A aku liburan, hanya saja aku tidak bilang," kata Zara sedikit gagap.
"Ah ya ya ya kamu hanya liburan sampai lupa memberi kabar pada suamimu sendiri, aku salut sekali dengan keberanian mu ini dan sepertinya aku pun mulai mempunyai pikiran yang sama denganmu.."
"Apa?!" tanya Zara saat Ipul tidak melanjutkan ucapannya, raut wajahnya tampak sangat tidak sabaran.
"Abang akan marah besar denganmu!" tekan Ipul dengan ekspresi bukan lagi santai tapi dengan menunjukkan betapa seriusnya dia saat berkata begitu.
"Aku sangat mengenal jelas bagaimana sifatnya jika dia sudah marah, dia orang yang tidak suka dibohongi apalagi dibohongi oleh istrinya sendiri, uh sungguh menakutkan," desis Ipul sambil bergidik ngeri.
Oh sepertinya Ipul sudah sangat pintar berakting sekarang, bukankah seharusnya dia menjadi seorang aktor saja? sepertinya menjadi seorang aktor tidak cukup buruk, yah mungkin untuk sekedar menyalurkan hobinya yang sangat senang mengerjai temannya.
"Jangan menakuti ku!" sentak Zara.
Ipul mencebikkan bibirnya lalu memalingkan wajah menyembunyikan senyumnya, tentu saat ini dia merasa sangat lega karena sepertinya Zara nya yang dulu sudah kembali lagi, Zara teman sekolahnya yang selalu tertawa riang bahkan menunjukkan ekspresi yang sama seperti sekarang ketika sedang kesal dengannya.
"Kenapa kamu tidak tinggal disini saja Davi."
Andini menatap sendu ketika anaknya memutuskan untuk kembali ke Australia, sungguh dia tidak bisa merelakan anaknya itu harus kembali ke negara orang setelah apa yang dia alami, berbagai macam ketakutan mengusik hati juga pikirannya tentang bagaimana nanti anaknya yang tidak akan bisa makan serta tidur dengan tenang tanpa ada yang mengawasi sedangkan disini saja ia harus sangat ekstra dan bersusah payah untuk membujuk anaknya itu agar bisa bangkit setelah yang terjadi.
"Lagipula.." Andini menggantung perkataannya bimbang apakah harus mengatakannya tapi dia takut anaknya itu akan kembali teringat pada istrinya sedangkan Andini tahu tanpa diingatkan atau tanpa siapapun membahasnya Davi akan selalu ingat tentang istrinya.
"Mungkin Zara memang sangat marah pada Davi Ma, hingga tidak membiarkan Davi melihat wajahnya untuk terakhir kali," tutur Davi seolah bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran sang Mama.
__ADS_1
Pria itu merasa Zara sangat marah padanya sampai-sampai jenazahnya belum juga terindentifikasi atau mungkin lebih tepatnya belum juga ditemukan sebab hampir seluruh penumpang serta awak pesawat sudah bisa dikembalikan pada keluarganya meski dalam keadaan tak utuh.
Hati Davi mencelos sedih jika mengingat apa yang sudah dia lakukan saat-saat terakhir dia bersama istrinya, kenangan menyakitkan itu sampai kapanpun akan membekas dalam ingatannya sehingga membuat dia akan selalu memohon maaf serta ampun pada sang istri dan juga calon anak mereka yang akhirnya pun turut menjadi korban karena perbuatan bejat yang dia lakukan.
"Davii, semua ini sudah takdir kita tidak bisa terus menerus menyalahkan diri kita atas semua yang sudah tuhan tuliskan untuk kamu, kita tidak tahu mungkin saja ada hal yang sedang Tuhan rencanakan untuk kamu nantinya."
Arman mencoba menasehati, memberi pengertian dan juga membesarkan hati sang anak agar tidak semakin larut dalam penyesalan dan rasa bersalah.
Mereka sekeluarga sedang sarapan sedangkan rencananya Davi akan kembali ke Australia pada sore hari, tentunya hari ini akan menjadi hari terakhirnya berkumpul dengan orang tua serta Adik kembarnya yang sejak tadi hanya diam, keduanya menunduk menyembunyikan kesedihan tidak dipungkiri Anaya dan juga Inaya merasa kehilangan yang sama seperti yang Davi serta orang tuanya rasakan, kehilangan Kakak ipar yang bahkan sedari kecil menjadi teman bermain mereka di tambah kehilangan calon keponakan mereka, bukankah itu sangat menyedihkan sedangkan mereka sangat menantikan kehadiran anak dari Kakaknya tersebut.
Davi melirik kedua Adiknya yang sejak mereka tahu bahwa Zara mengalami kecelakaan pesawat terlihat tampak tidak ceria seperti biasanya, tidak ada lagi suara mereka yang melengking di dalam rumah, sungguh rumah ini menjadi sangat sepi setelah semua yang terjadi.
"Davi kembali ke kamar," kata Davi seraya beranjak dari kursinya.
"Kamu belum menghabiskan sarapan mu," tutur Andini melihat piring sang anak yang masih menyisakan nasi goreng buatannya.
"Davi kenyang," sahut Davi lalu melangkah menjauh dari ruang makan.
__ADS_1
Pria itu pergi diiringi dengan tatapan kedua orang tuanya yang sontak kompak menarik napas panjang.
\*\*\*\*\*