Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 167


__ADS_3

Belum juga tersambung tapi Zara sudah menjauhkan handphone yang sedang Ipul pegang dari telinga pria itu, lalu kepalanya ragu-ragu menggeleng.


Ipul pun mematikan handphone mengurungkan niat untuk menghubungi Davi, "cerita padaku apa yang terjadi antara kalian?" bertanya dalam dengan gurat wajah serius.


Ini sekian kalinya Ipul menunjukkan wajah serius kepada Zara, dulu sebelum hubungan mereka menjadi rumit saat hubungan mereka masih hanya sekedar teman yang sering berbagi suka dan duka, Ipul tempat Zara mencurahkan semua yang dia rasakan, Ipul jugalah yang selalu membuatnya tertawa untuk sejenak melupakan masalah yang dia hadapi.


Dan kini wajah pria di depannya itu tampak sangat serius bertanya padanya, mempertanyakan apa yang tengah terjadi.


"Aku.."


Zara sungguh takut untuk bercerita bahkan kedua tangannya terlihat saling meremas, apakah Ipul akan marah padanya atau akan berpihak padanya?


"Zaaa, sejak kapan kamu menyembunyikan masalah dariku? sejak dulu kita adalah dua orang sahabat yang akan selalu berbagi cerita, kamu yang selalu bermasalah dengan Ibu tiri dan juga saudara tiri mu, lalu aku yang selalu berusaha untuk menghiburmu, aku merasa kamu berubah sejak.." Ipul menghentikan ucapannya.


"Sejak aku kenal Abang mu lalu di sambung saat kamu malah menyukaiku," gumam Zara yang tetap terdengar di telinga pria di sampingnya.


Ipul menarik napas lalu menghembuskan nya, "aku salah karena melibatkan perasaan dalam persahabatan kita.." terdiam sejenak, "karena pada dasarnya kita memang di takdir kan untuk selalu bersahabat dan saling mendukung serta menguatkan dalam persahabatan, maaf untuk semua yang sudah kamu lewati karena keegoisan aku sebagai lelaki," ucap Ipul mengurai semua perasaan yang masih tersisa di dalam hatinya.


Meski berat dia pun harus sadar bahwa wanita yang berada di sampingnya saat ini sudah menjadi istri dari laki-laki lain dan sudah memilih sendiri laki-laki yang akan menjadi teman hidupnya.


"Tidak ada yang perlu meminta maaf dan di maafkan, karena semua yang terjadi sudah menjadi suratan takdir untukku, hanya saja aku tidak kuat jika harus menghadapi takdir kejam selanjutnya yang seolah datang tanpa henti," Zara mulai menitikkan air mata yang sejak tadi membuat matanya berembun.


Ipul menoleh, melihat tetesan air mata yang jatuh mengalir di pipi Zara, "katakan padaku apa yang terjadi padamu dan Abang? aku tau kamu tidak akan bisa pergi kemanapun tanpa Abang, dan Abang pun tidak akan membiarkan kamu pergi sendiri tanpa dirinya."


Ipul memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan wanita yang kini sedang mencoba untuk menghapus air matanya, namun air mata lain malah turun bergantian tanpa henti.


"Air mata ini menyebalkan, sudah dua Minggu aku berusaha untuk tidak mengeluarkannya tapi sekarang malah keluar dengan bebas tanpa bisa aku tahan," Zara tersenyum kecut dengan air mata yang terasa sangat tidak tau diri, seolah sangat ingin menunjukkan pada pria di sampingnya bahwa wanita ini sedang menyimpan kesedihan yang mendalam.


"Apa yang terjadi."

__ADS_1


Ipul malah semakin penasaran dengan sorot mata yang tajam meminta penjelasan.


Bukannya menjawab Zara malah semakin mengeluarkan air matanya yang mengalir deras bagaikan air terjun, hingga suara isakannya pun mulai terdengar.


"Zaa?!" Ipul mencengkeram kedua pundak Zara dengan tatapan panik serta khawatir, sepanjang dia mengenalnya, wanita ini tidak pernah menangis seperti ini bahkan raut wajahnya pun menyiratkan ada beban yang sedang berusaha untuk di sembuhkan sendiri.


"Kamu tidak bisa menyimpannya sendiri, bagaimana bisa kamu menyembuhkan semua lukamu jika hanya kamu pendam tanpa mau membaginya pada siapapun," tutur Ipul cemas.


Sudah seperti ini dia pun semakin yakin bahwa temannya itu memang tidak baik-baik saja, ada masalah dalam rumah tangga mereka sejak Zara datang ke tempatnya.


Sambil sesenggukan menahan lebih banyak tangisan serta air mata Zara pun menceritakan semua yang sudah terjadi, semua yang membuatnya memilih pergi tanpa suaminya tau, memilih untuk menenangkan diri dan terbukti usahanya itu berhasil, dia mencoba berdamai meski saat harus kembali membahas semua itu tangisnya tetap saja tak bisa dia tahan, terluka yang dia rasakan muncul di dalam sorot matanya.


"Davi tidur dengan wanita lain, dan wanita itu.." Zara menahan perkataannya.


Sedangkan Ipul mengepalkan kedua tangannya mendengar apa yang sudah terjadi seraya lalu berkata, "tidak perlu di teruskan, tidak perlu memberitahu siapa wanitanya sebab siapapun wanitanya jelas-jelas dia adalah wanita tidak baik bahkan berani tidur dengan suami orang," tegas Ipul.


Pria itu tidak mau mendengar apapun lagi, karena dari yang Zara katakan padanya saat inipun dia sudah cukup mengerti rasa sakit yang Zara terima.



"Aku sedang memberinya hukuman, biar saja dia mencari ku sedangkan aku disini senang karena memakan anggur dengan puas sampai perutku menjadi sangat besar," sahut Zara.



"Perutmu besar karena kamu lagi hamil Zara," cibir Ipul menatap perut Zara yang membuncit.



"Kamu harus sabar karena harus mempunyai Ayah yang bajingan," kata Ipul mengajak bicara bayi di dalam perut Zara.

__ADS_1



Zara mengulas senyum, baginya bercerita dengan Ipul sudah cukup membuatnya jauh lebih lega lagi, pikirannya menjadi sangat tenang.



"Tapi Za.." Ipul menatap Zara.



"Kenapa?" tanya Zara heran dengan perubahan raut wajah Ipul saat ini.



Ipul mengambil Handphonenya lalu segera memberikannya pada Zara, menunjukkan sesuatu yang dalam sekejap membuat Zara membeku tak percaya.



Astaga! ada hal yang benar-benar tidak pernah dia pikirkan sama sekali telah terjadi.



\*\*\*\*



Sebentar lagi kita akan berpisah dengan Zara yaa, tapi saya sudah siapkan novel baru "SI BERANDAL MENIKAH??" jangan lupa mampir ya, semoga kalian suka, bab nya baru sedikit karena masih kejaran menyelesaikan novel Zara juga.


__ADS_1


🤗🤗🤗🤗🤗🤗


terimakasih para readers ku


__ADS_2