Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 93


__ADS_3

Zara berlari masuk ke dalam kamar yang dulu ia tempati, tentu dengan perasaan yang tadi sangat jengkel dengan perkataan dari suaminya, tapi dalam sekejap rasa jengkel itu menguap entah kemana saat ia mendapati keadaan kamarnya yang masih tetap sama seperti saat ia tinggalkan dulu.


Penempatan ranjang, lemari pakaian lalu meja belajar serta barang yang ada di atasnya masih tetap sama, tidak bergeser sedikit pun entah Dewi yang tidak pernah merapikan kamarnya atau memang ini perbuatan dari suaminya.


Tapi dalam sekejap Zara menyingkirkan dugaan bahwa Davi lah yang melakukan itu, karena dulu selama berpacaran Davi tidak pernah sekalipun masuk ke dalam kamarnya dan sudah pasti lelaki itu tidak akan tahu letak barang-barang yang terdapat di kamar yang tidak terlalu luas itu.


"Saat membelinya semua barang-barang sudah seperti itu, aku hanya menyuruh orang untuk membersihkan debu dan mengganti semua seprei serta gorden yang sudah sangat kotor lalu mencat ulang." tutur Davi seolah tau apa yang ada dipikiran istrinya saat ini.


"Kenapa kamu melakukan ini?" bertanya konyol dengan matanya yang masih menyapu keadaan kamar nya yang memang warna catnya tampak masih sangat cerah, tidak pudar seperti saat ia tinggalkan.


"Karena aku mencintai kamu, aku ingin kamu bahagia karena bisa tinggal di rumah ini lagi, kita akan tinggal di rumah ini mulai sekarang." tutur Davi seraya melabuhkan dagunya di bahu Zara.


"Kamu mengijinkan aku tinggal di sini?" tanya Zara yang cepat di angguki oleh lelaki di belakangnya.


"Kamu masih ingin tetap bekerja, dan aku tidak akan melarang kamu, aku juga sudah berjanji untuk tidak memaksamu untuk ikut bersamaku di Australia, biarkan aku yang bolak-balik untuk bisa menemui istriku tercinta." perkataan Davi sungguh teramat menyentuh perasaan Zara, ia terharu sebab Davi masih membuktikan janjinya untuk tetap membiarkannya bekerja.


"Sayang." panggil Zara dengan suara yang begitu halus dan merdu di telinga Davi.


"Hhmm." gumam Davi karena kini dia tengah memejamkan mata di bahu sang istri posisinya yang menempel di tubuh Zara membuat lelaki itu merasa sangat nyama sekalipun dalam posisi berdiri seperti sekarang.


"Sebenarnya aku tetap bekerja karena aku ingin membeli rumah ini. aku ingin mendapatkan rumahku yang penuh kenangan ini kembali padaku." pernyataan Zara membuat Davi membuka matanya.


Davi mengangkat kepalanya lalu memutar tubuh Zara guna menghadap padanya.


"Sekarang rumah ini sudah menjadi milikmu, apa yang ingin kamu lakukan? masih tetap bekerja?" tanya Davi sebab perkataan Zara barusan membuat dia sangat penasaran apa yang wanita itu lakukan setelah tanpa di sangka rumahnya sudah kembali padanya.


"Aku akan tetap bekerja." tutur Zara pelan.


"Hah? tadi kamu bilang kamu bekerja untuk bisa membeli rumah ini pada Ibu tiri mu, dan sekarang rumah ini sudah benar-benar menjadi milikmu tapi kamu masih tetap ingin bekerja, jangan ngaco Zara." ketus Davi yang merasa istrinya itu sangat ngaco.


"Kamu yang membeli rumah ini sayang, jadi ini rumah mu bukan rumah ku." sahut Zara.


"Apa bedanya?! aku suami mu dan uang yang aku pakai sama saja uang mu, uang istriku dan kamu istriku!" sentak Davi kesal, Davi merasa wanita di hadapannya itu sungguh sangat konyol dan aneh.


"Kamu membelinya saat kita belum menikah bukan?" Davi mengangguk menjawab pertanyaan Zara, karena memang dia membeli rumah ini saat mereka belum menikah bahkan pada saat dirinya di kerjai oleh wanita yang sekarang menjadi istrinya.


Zara tersenyum tipis. "Ini rumahmu." singkat Zara.

__ADS_1


"Lalu mau kamu apa? aku membeli rumah ini ya untuk kamu Za, bukan untuk wanita lain!" sepertinya Davi mulai tersulut emosi dengan tingkah sang istri.


Mata Zara mendelik mendengar pernyataan Davi barusan. "Awas saja kalau kamu membeli rumahku untuk wanita lain! akan aku buat kamu tidak bisa menikmati hidup!" ancam Zara tajam.


"Ya sudah kalau begitu berhenti bekerja dan terima rumah ini." Davi sudah mulai frustasi dengan wanita bernama Zarania Permata yang baru kemarin nama wanita itu dia sebut dengan sangat lantang hingga akhirnya mereka bisa menjadi suami istri yang sah.


"Aku akan menerimanya tapi aku akan membayarnya." jawab Zara kemudian yang sudah memutuskan untuk membayar rumah itu.


Davi mendengus kesal lalu berjalan menuju ranjang. "Baiklah kalau begitu, bayar sekarang." Davi duduk di tepi ranjang yang masih sangat empuk meski itu adalah ranjang jadul yang dulu biasa Zara tiduri.


"Berapa?" tanya Zara enteng karena dia tahu harga jual rumahnya itu berapa di tahun ini dan kebetulan uangnya sudah ada sebagian jadi dia berniat untuk membayarnya separuh dulu pada suaminya itu.


"1setengah miliar." jawab Davi yang tentu saja membuat Zara meringis kaget, bagaikan di sambar petir mendengarnya Zara bergerak cepat menghampiri sang suami lalu duduk di sampingnya.


"Yang benar saja, harga rumah ini tidak semahal itu, kamu berniat memeras istrimu sendiri!?" sengit Zara.


"Memang itu segitu yang aku keluarkan untuk membeli rumah ini Zara!" sentak Davi karena Zara menganggapnya bagaikan seorang lintah darat, padahal dia memang membeli rumah itu dengan harga yang tadi dia sebutkan.


Zara menatap Davi dengan memicing mencari sumber kebohongan yang bahkan tidak ada sama sekali.


"Kenapa?" suara Davi betapa polosnya bertanya.


"Kamu di tipu sayang, harga rumah ini hanya 960juta." Zara memijit keningnya yang terasa pusing.


"Hanya rugi 540juta, biarkan saja." menjawab enteng seolah uang sebanyak itu bukan masalah baginya, padahal untuk Zara uang itu sungguh sangat berharga dan ia tidak rela Dewi dan Dira dua orang wanita yang sudah sangat jahat padanya menikmati uang milik suaminya.


"Nggak, aku bakal minta mereka untuk mengembalikannya, aku tidak rela mereka berfoya-foya dengan uang suamiku." ketus Zara.


"Biarkan, toh kamu juga tidak mau aku memakai uangku." Davi berkata menyindir karena memang itulah kenyataannya, istrinya menolak rumah yang dia beli malah ingin membeli rumah itu darinya.


Davi sepertinya ngambek dengan Zara karena setelah berkata seperti itu dia langsung turun ke bawah dan sekarang membuat istrinya kalang kabut seperti dirinya tadi.


"Bukan itu maksudnya sayang." seru Zara seraya meniti tangga perlahan.


Davi masuk ke ruang kosong yang akan dia jadikan ruang baca sekaligus ruang kerjanya nanti, duduk di sofa membelakangi jendela.


"Iya udah aku terima rumah ini, aku tidak akan membayarnya, tapi tolong biarkan aku mengambil uang yang seharusnya tidak mereka miliki." bujuk Zara duduk di depan suaminya.

__ADS_1


"Kamu mau ambil atau tidak terserah kamu, aku hanya minta satu hal yang sangat penting." Davi mulai mengajukan negosiasi.


Zara begitu menunggu apa yang akan suaminya itu minta padanya.


"Berhenti bekerja." kata singkat yang membuat Zara sedikit berpikir.


"Kanapa diam?" tanyanya ketika melihat Zara malah diam seraya menggigit bibirnya.


"3 bulan lagi." jawab Zara ragu.


"Apanya yang 3 bulan lagi?" bingung Davi.


"Berhenti bekerja, ijinkan aku menikmati 3 bulan terakhir pekerjaanku, karena ini pekerjaan yang dulu sangat aku impikan." tutur Zara pelan karena di tahu Davi pasti tak akan suka mendengarnya.


"Pekerjaan impian karena dulu kamu berencana untuk mendapatkan suami bule kan?" ketus Davi dalam sekejap membuat Zara membuka mulutnya berbarengan dengan mata yang membelalak.


Davi tersenyum miring dengan tatapan yang memicing. "Itu yang kamu katakan pada Ipul, bisa-bisanya mikir kayak gitu kamu, di saat aku minta Ipul buat jaga kamu dan aku mati-matian melawan rasa bersalah karena sudah membuat kamu terluka." terang Davi tentang apa yang dia dengar dari Ipul dulu, aduan Ipul sungguh membuat Davi sangat kesal namun dia juga merasa itu wajar karena Zara sudah sangat kecewa padanya.


"Dasar Ipul tukang ngadu!" marah Zara tentang bocornya mulut temannya itu mengadukan apa yang dulu sempat ia katakan kepada Davi.


"Aku kasih kamu waktu 3 bulan buat puas-puasin kerja dan terbang kemana aja pesawat itu membawamu, tapi ingat pulang dan jaga hati kamu." tegas lelaki yang kini semakin sangat dewasa dengan segala pengertiannya pada sang istri.


"Terimakasih, aku benar-benar sangat beruntung karena bisa menjadi istri kamu." Zara memeluk Davi dengan erat dan Davi pun mengecup puncak kepala Zara dengan penuh perasaan.


Keduanya semakin larut dengan suasana nan romantis itu, saling mengecap satu sama lain memberikan sentuhan-sentuhan lembut yang menghanyutkan hingga saat mereka sudah sangat terbuai dan sudah bersiap melangkah lebih jauh di luar jendela terdengar suara benda yang terjatuh membuat keduanya terkejut.


Davi sigap menutupi tubuh Zara dengan pakaiannya lalu berjalan cepat ke arah jendela guna mencari asal suara yang tadi dia dengar.


Davi tidak mendapati siapa-siapa di tempat itu namun ada satu pot tanaman yang jatuh dan sudah pecah di atas lantai putih di bawah jendela.


"Suara apa sayang?" tanya Zara seraya memegang kemeja Davi untuk menutupi tubuhnya.


"Tidak ada apa-apa." sahut Davi menyembunyikan kecurigaan yang ada di dalam pikirannya.


Sangat tidak mungkin bagi Davi pot yang lumayan besar itu jatuh hanya karena terkena angin, tapi dia juga tidak mau membuat Zara ketakutan nantinya.


****

__ADS_1


__ADS_2