
Ipul segera masuk ke dalam rumah dengan langkah cepat dan gegas ke dapur ketika di ruang tengah tidak ada siapapun, dia sudah bisa menduga apa yang sekarang tengah dilakukan oleh Mamahnya dan calon istrinya itu saat ini, Ya apalagi jika bukan memasak menyalurkan hobi mereka yang memang sama.
Dan saat melihat Hanna dari belakang tengah berdiri di samping Mamahnya seraya suara tawa mereka menyambut kedatangan Ipul, sungguh Ipul merasa bahagia karena bertemu dengan Hanna.
Bahagia karena ternyata wanita itu bisa di terima dengan baik oleh kedua orang tuanya bahkan Ipul terkadang merasa bahwa Hanna lah anak dari Mamah dan Papahnya, karena tidak jarang kedua orang tuanya itu lebih memilih untuk mengajak Hanna jalan-jalan ketimbang dirinya, sepertinya mereka sudah bosan dengan Ipul.
"Kamu sudah lama?" tanya Ipul akhirnya yang membuat kedua wanita yang dia sayangi itu menoleh kearahnya bersamaan.
"Lumayan, kamu kenapa baru pulang?" tanya Hanna dengan wajah yang masih saja terlihat manis bahkan masih sama seperti saat pertama kali mereka bertemu.
"Hanna sudah dari pagi disini." sang Mamah berkata ketus karena kesal pada anaknya sendiri yang tidak menjawab saat ia telepon.
"Ipul banyak kerjaan Mah." kata Ipul menjawab sang Mamah.
"Lagian kalau mau marah, marahin aja Papah tuh, pensiun di saat kerjaan lagi banyak-banyaknya, jadi aja Ipul yang urus semuanya." sambung Ipul dengan membawa-bawa Papahnya, tanpa dia sadar bahwa lelaki yang tengah dia bicarakan itu ada di belakang tubuhnya berdiri dengan kedua tangan yang berada di atas dadanya.
Ipul masih tak sadar bahkan ketika mata Hanna memberi kode padanya, hal itu bukan membuat Ipul diam tapi malah makin semangat mengoceh hingga akhirnya satu deheman dari orang di belakangnya membuat Ipul terdiam dan dengan gerak tubuh yang kaku dia menoleh kebelakang.
Bibirnya lantas menyunggingkan senyum yang dipaksakan untuk sang Papah.
"Papah apa kabar?" tanyanya berbasa-basi yang jelas sama sekali tidak di jawab oleh Irman, buat apa di jawab karena toh tadi pagi juga mereka bertemu bahkan setiap hari.
"Konyol." kata Irman seraya berjalan ke meja makan yang bahkan hanya ada piring kosong sebab makanan memang belum selesai di masak oleh kedua wanita yang sekarang sedang sibuk cekikikan mentertawakan Ipul yang berdiri kaku di tempatnya sejak tadi seraya menggaruk kepalanya.
"Mandi dulu sana Pul abis itu kita makan bareng-bareng." kata Mamahnya dengan tangan yang sibuk mengaduk isi panci yang berada di atas kompor menyala.
__ADS_1
Tanpa berkata lagi lelaki muda yang sekarang tampilannya sudah jauh berbeda dengan beberapa tahun yang lalu itupun segera naik ke lantai atas menuju kamar untuk membersihkan tubuhnya.
Keempat orang itu kini sedang duduk di ruang tengah setelah menyelesaikan makan malam mereka.
"Kamu sudah tahu Pul?" tanya Irman di tengah obrolan mereka tentang pekerjaan sedangkan dua wanita yang ada di dekat mereka tak tahu sedang membicarakan tentang apa, mereka tampak asik berdua.
"Tentang?" wajah Ipul sedikit bingung dengan pertanyaan sang Papah.
"Abang kamu Davi." kata Irman.
"Bang Davi kenapa?" tanya Ipul tak mengerti dan sekarang sang Mamah malah ikut nimbrung dengan mereka.
"3hari lagi Abang kamu itu pulang." ujar Riska memberitahukan pada sang anak yang sepertinya belum mengetahui bahwa sepupunya itu akan datang.
"Sepupu aku." kata Ipul menjawab kebingungan Hanna.
"Anaknya Om Arman sama Tante Andini Abangnya si kembar." Ipul menjelaskan karena sebelumnya dia memang pernah mengajak Hanna ke rumah Omnya itu untuk mengenalkannya.
"Ooh." meski tak bersuara namun bentuk bibir Hanna terlihat jelas ia mengucapkan apa.
"Pulang? kok Ipul bari dikasih tahu." kata Ipul protes pada kedua orang tua di depannya itu.
"Lah Om kamu aja baru bilang tadi pagi kok ke Papah, kalau mau protes sama Om dan Tante kamu aja sana." sahut Irman yang tidak terima anaknya itu protes padanya.
"Ya seenggaknya kan Papah langsung bilang sama Ipul waktu Om kasih tahu." ucap Ipul tak mau kalah.
__ADS_1
"Gimana mau kasih tahu, kamu di Hanna telepon aja nggak di jawab!" kali ini menuding anaknya yang tidak menjawab telepon dari calon menantunya itu.
"Kamu kasih tahu Papah ya?" berbisik pada Hanna yang duduk tak jauh darinya.
"Mamah tahu kok kalau kamu emang jarang angkat telepon dari Hanna, jangan dibiasakan kayak gitu! nanti kalau ada urusan penting ribet." kali ini sang Mamah yang menyerangnya.
Ipul memasang wajah cemberut, satu lagi bukti bahwa Hanna memang sudah menjadi anak dari Papah dan Mamahnya itu.
"Iya maaf." ucap Ipul pasrah.
"Antar aku pulang yuk?" kata Hanna Untuk menolong kekasihnya terhindar dari Omelan calon mertuanya yang akan semakin panjang jika ia tak segera melakukan tindakan.
Mendengar itu Ipul pun tersenyum senang lalu dengan gerakan cepat bangun dari duduknya.
"Ayo cepat, keburu malam." katanya semangat.
Hanna menggeleng seraya berpamitan pada Papah dan Mamah Ipul.
"Jangan ngetem di pinggir jalan." kata Irman yang mendapat dengusan dari Ipul.
Ipul cukup mengerti dengan maksud perkataan sang Papah, meskipun tidak jarang dia melanggar hal itu, karena memang sebagai anak muda dan memiliki kekasih yang cukup cantik bukan tidak mungkin jika dia tidak akan tergoda untuk melakukan tindakan selayaknya orang berpacaran.
Hanna hanya tersenyum mendengarnya lalu menyusul Ipul masuk ke dalam mobil.
\*\*\*\*
__ADS_1