Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 171


__ADS_3

Tiiiiiiiiiiiiinnnn!!!


Suara klakson yang sangat kencang membuat Davi serta orang tuanya menoleh dan Anaya serta Inaya yang tadinya sedang menangis di ruang tamu berlari keluar.


"Klakson saya bisa rusak Pak," protes sang sopir taksi pada Ipul yang menekan klaksonnya dengan sangat kencang, bahkan Zara pun menutup kedua telinganya yang berdengung mendadak menjadi tuli dalam sekejap karena perbuatan pria yang sekarang malah nyengir tanpa rasa bersalah.


"Nih buat ganti klakson," kata Ipul menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribu pada sang sopir yang kini ikut nyengir memamerkan gigi-giginya.


"Mau turun apa tunggu disini?" tanya Ipul, "kayaknya tunggu sini aja deh sampai adegan baku hantam selesai," Ipul menjawab sendiri pertanyaannya.


Sedangkan wanita yang di tanya mengatupkan bibirnya seraya mengintip sedikit pada lima orang yang berdiri di depan pintu, pagar rumah yang terbuka dengan mobil yang sudah menyala di halamannya sedikit menghalangi Zara untuk bisa melihat satu orang pria yang tidak sangkal sudah sangat ia rindukan.


Yah, Zara rindu hanya saja saat ini rasa takut akan terkena Omelan membuatnya tidak berani untuk turun.


Davi dan keempat orang di sampingnya melihat pada taksi yang tadi membunyikan klakson dengan kencang, menunggu siapa yang akan keluar dari dalam taksi berwarna biru itu.


"Ipul."


"Kak Ipul."


Mereka semua kompak menyebut nama pria yang turun dari mobil dan sekarang berjalan dengan sangat gagah bagaikan seorang prajurit di medan perang.


Andini dan Arman saling melihat dengan kerutan di dahinya kala Ipul berjalan mendekat.


"Assalamu'alaikum," ucap Ipul seraya mencium tangan Andini dan Arman bergantian.


"Wa'alaikumsalam," sahut keduanya kompak.


"Pul.."


"Bentar Tante, Ipul mau ijin sama Om dan Tante," memotong ucapan Tantenya yang rasa penasarannya makin bertambah.


Andini bahkan juga Arman sekalipun tidak mendapat kabar apapun dari Irman dan juga Riska bahwa Ipul akan kembali ke Jakarta, mereka tidak mengatakan apapun.


"Kalian masuk ke dalam sana," mengusir Anaya dan juga Inaya, gadis remaja yang sedari tadi menganga terkejut dengan kedatangannya.


"Masuk!" mata Ipul mendelik seram kala keduanya belum juga beranjak.


Mendapatkan delikan mata membuat si kembar pun lari ke dalam dengan seakan baru saja bertemu dengan hantu.


Davi tidak mengeluarkan sepatah katapun, tatapan matanya sudah menunjukkan bahwa sebenarnya diapun terkejut dengan kedatangan Ipul sedangkan yang dia tahu sudah beberapa bulan Ipul tinggal di Inggris.


Apakah kepulangannya karena mengetahui bahwa Zara sudah meninggal? Davi bertanya-tanya dalam hati.


"Kamu mau minta ijin apa Pul?" tanya Andini bingung.


"Memberi sedikit pelajaran pada anak Tante," sahut Ipul.

__ADS_1


Bugh!


Tanpa aba-aba dan peringatan langsung saja menghajar wajah Davi yang sama sekali belum bersiap hingga dalam sekejap tubuhnya limbung kebelakang.


"Auw," Zara menutup matanya dengan jari-jarinya yang tentu menyisakan celah agar ia bisa mengintip.


Dalam sekejap Zara menjadi seorang istri yang durhaka pada suaminya, menjadikan suaminya samsak agar ia bisa selamat dari amukan sang suami karena sudah membuat masalah.


Bugh! bugh! cukup banyak pukulan yang Ipul lakukan membuat Zara ngeri sendiri, perutnya terasa mulas melihat sudah ada darah yang keluar dari sudut bibir serta hidung sang suami.


"Ipul! apa-apaan kamu! kenapa memukul Davi!?" teriak Andini mencoba menghalangi Ipul, begitupun Arman dia juga tengah memegangi tangan Ipul.


"Aman Tante aman, tenang saja Ipul hanya sedikit merilekskan otot-otot tangan Ipul yang mendadak kaku saat melihat wajah Abang," jawab Ipul.


Sungguh wajahnya memperlihatkan ketenangan yang sangat sempurna seolah apa yang dia lakukan saat ini bukanlah masalah besar.


"Siap-siap ya Bang, gue masih belum selesai."


Dan bisa-bisanya dia memperingatkan Davi untuk bersiap menunggu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


"Om dan Tante kalau tidak tega sebaiknya masuk saja ke dalam," pinta Ipul pada Andini dan Arman yang menggeleng tidak percaya dengan yang tengah di lakukan oleh keponakannya itu.


"Suruh Om dan Tante masuk Bang," ucap Ipul pada Davi yang tengah menyeka darah dari bibirnya.


"Turutin kata Ipul Yah," ujar Davi pada sang Ayah.


Arman melihat Davi memicing tanda dia tidak setuju dengan permintaan anaknya itu.


Di dalam mobil Zara meringis merasakan ngeri dengan darah yang masih saja keluar dari wajah suaminya, dan sekarang ia juga melihat kedua mertuanya masuk ke dalam rumah.


"Ipul ini gila atau kesurupan setan Inggris! kok bisa-bisanya datang langsung memukuli Davi?!" cerocos Andini yang tangannya di pegang erat oleh sang suaminya agar tidak kembali keluar.


"Mungkin mereka ada masalah yang tidak kita tahu Ma, sebaiknya kita pantau saja dari sini jika sudah sangat berlebihan baru kita keluar," ucap Arman yang sontak mendapat pukulan dari istrinya.


"Menurut Ayah ini belum berlebihan? lihat lah wajah anak kita sudah memar sebagian bahkan mengeluarkan darah, bisa-bisanya Ayah berkata seperti itu!" omel Andini emosi.


Bugh!


"Ini buat kekesalan gue karena lu udah bikin Zara sedih!" jelas Ipul yang kembali melayangkan tinjunya.


Mengetahui Ipul datang kesini atas nama Zara membuat Davi tidak melakukan perlawanan, menurutnya mungkin Tuhan mengirimkan Ipul untuk memberikan balasan atas yang sudah dia perbuat pada Zara.


Davi berpikir Ipul pasti sudah tahu tentang kematian Zara akibat kecelakaan pesawat, Adik sepupunya itu tentu tidak terima dan sangat marah padanya.


"Ini karena lu membiarkan Zara pergi seorang diri!"


Bugh!

__ADS_1


Pukulan kali ini Ipul layangkan ke perut Davi yang kembali jatuh duduk hingga tak kuasa untuk berdiri lagi.


Bugh bugh bugh bugh!


Ipul berulang kali memukul dan pukulan yang banyak itu dia tujukan untuk membalas kekesalannya karena sudah dibohongi oleh Zara.


"Dan semua pukulan ini karena Zara sudah membohongi gue, dan elu sebagai suami harus bertanggung jawab atas kelakuan istri lu itu!" seru Ipul lalu menyentak tubuh Davi yang sedari tadi menjadi tempatnya melampiaskan emosi.



Ipul yang kelelahan pun duduk di samping Davi dengan dada yang baik turun, tarikan napasnya terdengar sangat cepat.



"Kalau kurang pukul aja lagi, gue akan bertanggung jawab atas apa yang sudah Zara lakukan, termasuk kebohongan yang elu katakan tadi," tukas Davi.



Sedangkan Ipul tertawa mengejek seraya meregangkan jari jemari tangannya yang juga merasakan sakit setelah memukul Abang sepupunya.



"Lu nggak tahu kan Bang istri lu itu bohongin gue?" tanya Ipul napasnya sudah lebih tenang dan normal.



"Nggak, gue minta maaf," sahut Davi.



"Kenapa harus elu yang minta maaf?!" desis Ipul.



"Karena tadi pun elu pukul gue, lagian Zara juga sudah tidak ada jadi seperti kata lu gua yang akan menanggungnya menanggung kesalahan yang mungkin tidak pernah sengaja dia lakukan."


Ipul tertawa nyinyir mendengar perkataan Davi.


"Lu nggak tahu kan kalau istri lu yang tukang bohong itu masih hidup."



Lontaran pernyataan yang keluar dari mulut Ipul sontak membuat Davi melihat padanya, memberikan sorotan mata tidak percaya atas apa yang baru dia dengar.



Masih hidup? maksudnya apa?

__ADS_1



\*\*\*\*\*


__ADS_2