
Zara terlihat duduk di tepi ranjang seraya memainkan putik bunga yang tadi ia ambil dari tengah ranjang lalu tersenyum sendiri membayangkan bahwa hari ini statusnya sudah berubah dari seorang gadis menjadi wanita yang sudah bersuami.
Senyum di bibir Zara sontak memudar saat mendengar suara pintu di buka, tangannya langsung menggenggam erat kelopak bunga mawar berwarna merah yang tadi ia mainkan begitu melihat wajah tampan lelaki yang kini menjadi suaminya tengah menuju padanya.
Cup. Davi mengecup singkat bibir merah Zara.
"Aku mandi dulu." katanya lalu melenggang masuk kamar mandi seraya membuka kancing kemeja berwarna putih yang dia gunakan untuk ijab kabul tadi.
Beberapa saat kemudian Davi keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sangat basah dan terlihat berantakan serata handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya memamerkan dad bidang miliknya yang membuat Zara langsung berlari kencang ke kamar mandi harumnya tubuh Davi bahkan tercium jelas di hidung Zara saat wanita itu melewati sang suami.
"Mau kemana sayang?" seru Davi dengan kedua alis yang bertaut melihat istrinya langsung ngibrit kencang begitu melihatnya.
"Mau mandi." sahut Zara dengan suara yang jelas sangat gugup, gugup ketika sadar bahwa malam ini ia dan Davi pasti akan tidur bersama dan melakukannya.
"Kenapa tadi nggak sekalian aja." tutur Davi seraya menyebikkan bibirnya.
Terdengar suara air yang mengalir dari dalam kamar mandi menandakan bahwa Zara sudah mulai membasahi tubuhnya, sedangkan di dalam kamar terlihat Davi yang sedang berdiri di depan meja menyisir rambutnya lalu menyemprotkan parfum di seluruh badannya sepertinya lelaki itu benar-benar ingin sangat wangi saat berdua dengan Zara nanti.
Telinga Davi mendengar suara pintu yang di ketuk dari luar kamarnya bukan hanya sekali tapi berkali-kali membuat dia mau tak mau harus membuka pintu itu, dia pun berjalan menuju pintu tak peduli kalau sekarang dia hanya memakai handuk saja di tubuh bagian bawahnya.
Davi membuka pintu kamar dan kini di depannya tampak wajah Ipul yang tengah menyunggingkan senyum meledek.
"Mau ngapain Bang, mandi jam segini? mana wangi banget lagi." tanya Ipul disertai mata yang memicing dan hidung yang mengendus aroma harum yang sangat menusuk hidungnya, pertanyaan yang seharusnya tidak perlu dia lontarkan sebab dia pun pasti sudah mengerti apa yang akan dilakukan oleh pengantin baru itu.
Davi memutar mata kesal apalagi saat melihat cengiran penuh arti yang ditunjukkan sepupunya itu.
"Cepetan lu mau ngapain?" tanya Davi yang sejak tadi menunggu tak sabar.
"Sabar Bang, kayaknya lu udah nggak tahan banget, hehe." masih saja Ipul tak puas meledek Abang sepupunya yang sejak tadi sudah tampak terus mendengus karenanya.
"Lu mau ngomong apa nggak?!" kata Davi dengan mata yang mendelik, tubuhnya yang tadi terasa sangat segar karena habis mandi kini menjadi sangat panas karena perbuatan Ipul.
__ADS_1
Merasa kasihan melihat pengantin baru itu sudah mulai marah akhirnya Ipul pun mengutarakan maksudnya mengganggu sang pengantin baru yang mungkin sudah bersiap untuk memulai pertempuran.
"Gue sama Hanna mau pulang." kata Ipul yang memang sekarang di rumah Omnya itu hanya tinggal dia dan Hanna yang masih belum pulang, sedangkan orang tuanya sudah pulang sejak satu jam yang lalu.
"Ya udah pulang sana." usir Davi karena memang itulah yang sejak tadi ingin dia dengar dari mulut Ipul.
Pergi dari rumahnya ketimbang mengganggu dirinya dan Zara.
"Zara mana? gue mau pamit sama dia." melongok ke dalam kamar guna mencari keberadaan Zara.
"Lagi mandi." jawab Davi seraya berdiri memalang di pintu untuk menghadang Ipul yang tengah menjulurkan kepalanya.
Ipul mengangguk-anggukkan kepalanya Davi sudah bersiap akan menutup pintu namun Ipul menahan dengan tangannya.
"Apa lagi?" ketus Davi.
"Masalah rumah gimana?" menanyakan rumah milik Zara yang baru di beli oleh Davi.
"SAYAAAANG." Ipul mengurungkan niatnya untuk bersuara kala mendengar teriakan Zara yang memanggil Davi.
"Sana pulang." usir Davi seraya mendorong Ipul dan menutup pintu tepat di depan wajah sang Adik sepupu.
"Dulu aja sok jual mahal, sekarang malah dia yang ngebet banget." gerutu Ipul sambil berjalan pergi menuruni tangga.
"Mana Davi sama Zara?" tanya Andini saat tidak mendapati anak dan menantunya bersama Ipul.
"Lagi persiapan Tante." seloroh Ipul yang membuat Arman dan Andini tertawa ngakak mendengar ucapannya.
"Persiapan apa sih Puul?" seru Andini setelah menghentikan tawanya.
"Mau pertandingan futsal sepertinya." makin ngelantur saja jawaban yang di berikan oleh Ipul membuat Arman menggelengkan kepala sedangkan Hanna dan kedua Adik kembar Davi malah mengerutkan kening karena tidak mengerti dengan perkataan Ipul barusan.
__ADS_1
"Aku sama Hanna pamit ya Om, Tan." ucap Ipul.
"Iya hati-hati di jalan, oh iya kalian tunangan kapan?" tanya Andini.
"Bulan besok Tan." sahut Ipul yang di angguki oleh kekasihnya.
"Nanti juga Mamah kabarin." sambung Ipul.
"Ya sudah kalau gitu." timpal Arman.
"Eh kalian mau ke mana?" tanya Ipul saat melihat si kembar sedang berlari menaiki tangga.
"Mau curhat sama Kak Zara, abisnya Kak Hanna pulang." kedua gadis yang sudah menginjak remaja itu langsung di tarik oleh Ipul.
"Jangan naik ke atas." tutur Ipul.
"Emangnya kenapa?"tanya keduanya bingung dan saling memandang.
"Takut nanti tiba-tiba ada suara aneh." Ipul berucap dengan wajah serius.
"Suara apa?" tanya Inaya.
"Suara serem pokoknya, kalian berdua nggak boleh dengar, mending kalian tidur aja." Ipul menarik tangan kedua gadis itu dan membawanya ke kamar mereka.
Tingkah Ipul hanya mendapat senyuman dari ketiga orang yang sejak tadi mendengarkan omongannya pada si kembar, kedua gadis itupun pasrah saja ketika mereka di suruh masuk ke dalam kamar dan saling berpandangan saat pintu di tutup.
********
MAAF YA JARANG UP, SIBUK DI NOVEL BARU SOALNYA. TAPI TETAP AKAN UP KOK..
TERIMAKASIH SUDAH MAU MEMBACA KARYA SAYA YANG AMATIRAN INI..
__ADS_1
SALAM SEHAT SELALU......