
Zara berlari tanpa menoleh lagi ke belakang, sekarang.
Sedangkan Ipul, apa yang tengah di lakukan pemuda itu sekarang? menyesal, kata itulah yang sekarang menggelayuti pikirannya, menyesal dengan tindakan yang telah dia lakukan terhadap Zara, dan setelah ini Ipul yakin hubungannya dengan Zara akan semakin jauh, tentu saja sekarang gantian Zara yang akan menghindari dirinya.
Ipul membuang napas kasarnya seraya beranjak bangun ketika mendengar suara bel sekolah berbunyi kencang.
Langkah pemuda itu terlihat begitu gamang, antara mau dan tidak untuk mengikuti pelajaran yang akan segera di mulai.
Di depan pintu kelas Ipul mengatur napasnya lebih dulu sebelum masuk sambil matanya melihat Zara yang sekarang duduk di bangku nomor dua sangat jauh dari bangku yang di duduki Ipul.
Tentu Ipul sudah menduga hal pertama itu yang akan dilakukan oleh Zara untuk menghindar darinya.
Zara berpura tidak melihat Ipul yang padahal melewati bangku yang sekarang ia duduki.
Ipul tidak bisa konsentrasi dengan pelajaran yang di ajarkan bahkan saat guru menerangkan pun serasa tidak masuk ke otak Ipul, otaknya tidak bisa mencerna setiap penjelasan yang di berikan seorang guru laki-laki di depan sana.
Sampai kelas berakhir pun Ipul tak juga bisa memusatkan pikirannya pada pelajaran karena sejak tadi matanya terus saja memperhatikan Zara yang duduk di depan.
Setelah pelajaran usai Zara pun berlari cepat keluar kelas, tentu saja ia menghindar untuk bertemu dengan Ipul apalagi berbicara dengannya.
__ADS_1
Entahlah sekarang ini apa yang Zara rasakan terhadap Ipul satu yang jelas ia merasa sangat tidak nyaman.
"Keluar gerbang sekarang!" suara Davi terdengar lantang kala Zara baru menjawab telepon darinya.
"Sebentar." sahut Zara yang memang sedang berjalan di lapangan basket sekolahnya.
Zara menghampiri Davi yang duduk di atas motornya dengan wajah yang menurut Zara sangat amat sangar seperti ada kemarahan yang tengah di simpan oleh pemuda itu.
"Kamu baik-baik saja kan?" Zara bertanya khawatir setelah berada di samping pemuda berkulit putih itu.
"Naik." bukannya menjawab malah dengan tajamnya meminta Zara untuk naik ke atas motornya.
Dira yang baru saja keluar gerbang tertawa sinis melihat Zara terlebih lagi wajah Davi yang menunjukkan ketegangan.
"Akan ada yang menangis darah setelah ini." gumam Dira dengan ekspresi yang sangat jahat.
"Zara mana?" suara Ipul membuat Dira menengok ke belakang.
"Kenapa? ciumannya kurang?" sindir Dira yang membuat mata Saipul mendelik kaget, tentu dia sangat tersentak kaget dengan apa yang dikatakan Dira.
__ADS_1
"Mau gue viralin nggak biar terkenal?" ejek Dira dengan mulutnya yang sangat pedas seperti cabe setan berpuluh-puluh kilo.
Rahang Ipul mengeras mendengar pernyataan Dira, dan Ipul sadar bahwa Dira telah melihat apa yang terjadi antara dirinya dan Zara.
Dira mengangkat HPnya meledek Ipul.
"Liat apa yang akan gue lakukan." ancam Dira dengan tangan yang sudah bersiap untuk menekan tombol kirim, akan tetapi tangan Saipul yang panjang dengan tanpa di duga merampas HP itu dari tangan Dira.
lalu dengan cepat dia menghapus rekaman antara dia dan Zara, diperiksanya galery di HP Dira memastikan tidak ada rekaman maupun foto tentang kejadian tadi pagi di gudang sekolah.
"Kembalikan HP gue!" pinta Dira bahkan dia sampai harus melompat karena Ipul mengangkat tinggi tangannya.
"Nih ambil." dengan santainya menyerahkan HP itu pada Dira setelah memastikan tidak ada rekaman juga foto dirinya dan Zara.
"Kurang ajar lu ya." makinya setelah mendapati galeri nya kosong, bahkan foto dia sendiri pun ikut di hapus oleh Ipul.
"Tapi tenang aja, nggak apa-apa lu hapus karena gue udah kirim rekaman itu ke Davi, yakin banget gue sekarang itu dia lagi ngamuk sama Zara." Dira menyunggingkan senyum jahat seraya melenggang pergi meninggalkan Ipul yang sekarang mencemaskan Zara.
**********
__ADS_1