
Zara menceritakan semua yang terjadi pada Aleyara, meluapkan semua apapun yang ia rasakan.
Tentang ketakutan dan juga bayangan kejadian demi kejadian yang ia alami air mata yang tak dapat terbendung, ia menumpahkan semua air mata yang terkadang ia sembunyikan dari sang suami kala hatinya merasa tertarik terus kebelakang mengingat kejadian pada malam naas itu.
Malam dimana berawal dari Davi yang marah lalu meninggalkannya, ia yang tidak mau menyalahkan suaminya karena Davi meninggalkannya ketika mendapati rekaman dirinya yang berciuman dengan Ipul, tidak! bukan berciuman melainkan Ipul yang menciumnya sedangkan ia terkejut dan melakukan penolakan.
Aleyara mendengarkan dengan amat serius setiap bait demi bait yang Zara lontarkan, ia yang sudah cukup pengalaman karena bukan kali ini saja mendapat klien seperti Zara, sudah banyak wanita dengan tingkat trauma parah lebih dari Zara yang datang padanya dan ia menanganinya dengan cukup baik.
Zara merasa tidak sungkan lagi menyuarakan isi hatinya dihadapan sang psikolog ramah, sungguh Zara merasa nyaman berada di tempat ini, jauh lebih nyaman ketimbang saat ia harus berhadapan dengan suaminya, karena saat bersama sang suami entah kenapa ia selalu merasa cemas, takut dan juga was-was, semua campur aduk karena ia takut pria itu tidak mampu lagi untuk bertahan menghadapi dirinya.
Setelah puas menjadi pendengar Aleyara pun mulai mengajukan pertanyaan demi pertanyaan lalu memberikan semua masukan serta motivasi nya, memberikan Zara kekuatan agar bisa bangkit dan memulai semuanya lagi dengan belajar untuk melupakan apa yang beberapa saat ini membuatnya begitu tersiksa.
"Sebagai seorang wanita dan juga istri bukankah kamu memiliki kewajiban untuk menyenangkan suamimu?" tanya Aleyara memberikan tatapan yang lembut pada Zara yang kini tengah membiarkan derasnya air yang turun dari kedua matanya.
__ADS_1
Benar-benar membiarkannya bahkan tak ada niat untuk mengambil tissu yang Aleyara sodorkan, tidak mau lagi menyembunyikan perasaan sakit yang ia rasakan.
Zara mengangguk lemah mendengar pertanyaan dari wanita ramah di depannya, mengangguk sebagai jawaban bahwa cukup mengerti dengan posisinya yang seorang istri dari pria yang ia cintai, mengerti berbagai kewajiban yang seharusnya ia jalankan namun sudah lama tak ia lakukan dengan baik, contohnya pun tadi malam ia menjadi sangat histeris ketika Davi akan menidurinya meminta haknya sebagai seorang suami namun harus berantakan karena dirinya.
"Hanya dari ceritamu saja aku bisa mengambil kesimpulan bahwa suamimu itu adalah pria yang baik, bahkan sangat baik," ujar Aleyara.
Zara meremas semua jari jemarinya mendengar ucapan Aleyara, wanita itu benar! Zara memiliki suami yang sangat baik bahkan masih terus bersamanya di saat ia berputus asa dan memintanya untuk pergi mengakhiri pernikahan ini sekalipun Zara tak sanggup jika harus hidup tanpa Davi.
"Dia bertahan di sampingmu sudah membuktikan bahwa dia sangat menyayangimu, lalu apakah salah jika dia meminta kamu untuk melupakan apa yang sudah terjadi?" tanya Aleyara tidak sekalipun bermaksud untuk memojokkan Zara, ia hanya ingin menyadarkan wanita ini bahwa ada seseorang yang sangat mencintainya.
Titi menunggu cukup lama sambil sesekali memainkan handphonenya bertukar pesan dengan Reni yang sebenarnya juga ingin ikut menemani Zara namun tidak bisa.
__ADS_1
Sedangkan di apartemen Davi tampak sangat gelisah menunggu istrinya yang tak juga kunjung kembali padahal langit di luar sudah sangat gelap.
Pria itupun memutuskan untuk keluar dari dalam unitnya dan menuju halaman apartemen, menunggu dengan cemas seraya berulang kali menghubungi nomor Zara yang ternyata di matikan.
Sekitar 25 menit Davi menunggu namun bayangan istrinya pun belum juga nampak membuat dia yang akhirnya kehilangan kesabaran pun berniat untuk mencari sang istri.
Baru saja Davi akan kembali ke apartemen sebuah mobil berhenti di belakangnya, membuat pria itu menghentikan langkahnya dan melihat wanita yang sejak tadi ia tunggu baru saja turun dari mobil.
"Terimakasih Mbak," ucap Zara pada Titi yang tersenyum.
"Istirahat," kata Titi kemudian meminta sopir untuk menjalankan mobil meninggalkan Zara yang masih berdiri di tempatnya mengumpulkan semua keberanian untuk menatap wajah suami yang berada di belakangnya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*