
Rasa penasaran Davi semakin tak terkendali namun dia tidak juga bisa melihat wajah wanita yang masih saja membelakangi dirinya.
Penasaran itu pun membuat Davi mengambil kembali HPnya dan menelepon sepupunya yang ada di Jakarta, siapa lagi kalau bukan Saipul.
"Halo." suara serak Ipul terdengar jelas menandakan bahwa lelaki itu tadi sedang tertidur pulas saat mendengar HPnya berdering, sejenak Ipul merasa kesal karena lupa mematikan HPnya ketika tidur.
"Bangun, ada yang mau gua tanyakan." seru Davi yang tahu Ipul masih setengah sadar.
"Ngantuk Bang, lu ngapain jam segini telepon." Ipul merasa sangat kesal dengan ulah Abang sepupunya saat ini.
"Lu udah ketemu Zara belum?" malah bertanya seakan tidak memperdulikan betapa ngantuk nya Adik sepupunya itu sekarang karena perbuatan dirinya.
"Belum, tumben tanyain." sahut Ipul seraya bergerak duduk.
"Nggak ada kabar atau petunjuk apapun?" tanya Davi lagi.
"Ada." Ipul menjawab enteng.
"Apa? kenapa lu nggak bilang sama gue?!" terdengar marah.
"Yeeeh, kata lu kan dulu gue ketemu langsung dulu sama Zara, baru kasih tahu elu." tidak terima Davi menyalahkan dirinya.
Di saat ini Ipul masih belum tahu bahwa Davi sudah memiliki kekasih, sebab selama ini Davi dan keluarganya juga tidak mengatakan apapun tentang Davi, yang dia tahu sebelum Davi pergi Davi memintanya untuk menjaga Zara dan sebisa mungkin Ipul melakukan hal itu meski akhirnya dia juga kehilangan Zara yang pergi tanpa mengatakan apapun kepadanya.
"Ck, cepat kasih tahu gue apa yang elu tahu." omel Davi tak sabar seraya matanya terus saja memperhatikan Zara.
"Kata Mbak Mayang."
"Mbak Mayang siapa?" tanya Davi yang memotong perkataan Ipul sebelum sepupunya itu selesai berkata.
"Pemilik kantin sekolah gue, tempat Zara kerja dulu. dengerin sampai selesai!" bentak Ipul sewot.
"Oke sorry."
__ADS_1
"Kata Mbak Mayang selama ini Zara tinggal di Jogja dan sekolah pram.." belum selesai Ipul menjelaskan Davi sudah mematikan teleponnya.
"Tingkahnya masih aja ngeselin kayak dulu." gerutu Ipul lalu mematikan HPnya dan kembali melanjutkan tidur.
"Bodo amat ah." katanya seraya memejamkan mata.
****
"Mau kemana?" tanya Robert saat melihat Davi yang baru saja selesai teleponan dengan bahasa yang tidak dia mengerti berjalan begitu saja melewati dirinya dan Lugo.
"Ke toilet sebentar." sahut Davi tanpa menoleh dan terus berjalan cepat mengikuti wanita yang sejak tadi menjadi perhatiannya.
Pria itu berdiri di depan toilet wanita yang tidak terlalu ramai seraya menyandar di tembok, matanya terpejam dengan hembusan napas yang bisa di dengar dengan jelas.
Davi kembali membuka matanya saat mendengar suara langkah kaki yang akan keluar dan menuju ke arahnya namun ketika Davi sudah bersiap untuk menghadang yang keluar justru wanita lain, akhirnya Davi pun menyingkir dan membiarkan wanita itu lewat sambil meminta maaf dengan sopan.
Davi sempat melihat bahwa di dalam toilet itu sudah tidak ada siapapun lagi kecuali satu orang wanita yang memang sengaja dia ikuti.
"Ini adalah hari paling sial." gerutu Zara seraya mencuci tangannya dan tidak menyadari bahwa Davi berdiri di depan pintu tengah memperhatikan dirinya.
"Berhenti bersikap bahwa kamu tidak mengenal aku Zarania." kata Davi seraya melangkah melewati pintu dan menuju Zara.
"Memang kita tidak saling mengenal bukan?!" kata Zara sinis.
Davi yang semakin masuk ke dalam toilet wanita itu membuat Zara ingin cepat-cepat keluar namun Davi malah menghalangi dirinya seperti tidak membiarkan ia pergi begitu saja.
"Sedang apa kamu di Australia dan sejak kapan?" tanya Davi ketika mereka sudah berhadapan.
Mata Davi tak bisa berpaling begitu saja dari wajah wanita yang ada di hadapannya, mata sendu Zara tetap sama dengan yang dulu namun bibir yang pernah dia cumbu secara paksa itu malah semakin terlihat merona meski Davi tahu Zara tidak memakai pemerah bibir.
Warna kulit Zara juga berbeda dengan yang dulu tidak terlalu putih namun sekarang menjadi lebih putih di banding dirinya.
Zara malah tertawa sinis mendengar pertanyaan yang Davi lontarkan.
__ADS_1
"Kamu pikir ini negara milik kamu, sehingga orang lain tidak boleh datang!? aneh." ketus Zara dengan menatap Davi tajam, beruntung sebagai wanita Zara memiliki tinggi yang lumayan sehingga ia tidak perlu terlalu mendongak untuk bisa melihat mata Davi, mata lelaki yang dulu memintanya untuk pergi padahal ia tidak ingin.
"Bukan itu maksudku Zara." kata Davi dengan jawaban Zara yang sudah salah tanggap dengan pertanyaannya barusan.
"Mau maksudmu itu atau bukan aku tidak peduli!" ucap Zara dengan mata yang terlihat sekali bahwa ia sangat tidak suka bertemu kembali dengan lelaki di depannya ini.
"Minggir." Zara menggeser tubuh Davi dengan tangannya agar ia bisa lewat.
"Tidak." sekarang Davi malah memegang tangan Zara agar wanita itu tidak pergi.
Mata Zara pun mendelik seram tidak senang dengan perbuatan Davi terhadapnya.
"Lepaskan aku atau aku teriak!?" ancam Zara.
"Teriak saja. cafe ini milik temanku, aku bisa memintanya untuk mengosongkan cafe ini sekarang juga, agar tidak ada orang yang mendengar teriakan mu!" kata Davi lalu tanpa mendengar perkataan Zara dia pun lantas menelepon temannya yang menjadi pemilik cafe untuk membuktikan perkataannya tadi untuk meminta temannya menutup cafe.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan Davi!?" tanya Zara akhirnya.
"Kamu, aku ingin berbicara dengan kamu." sahut Davi dengan tangan yang masih memegang tangan Zara.
"Dari tadi kamu sudah bicara, lalu apalagi yang ingin kamu bicarakan?!" seru Zara mulai tidak tahan dengan sikap Davi.
"Aku sudah menuruti permintaan kamu untuk menjauh tapi sekarang kamu malah seperti ini! aku tidak mengerti!" lanjut Zara dengan deru napas yang sangat terdengar dan sorot mata yang disertai kemarahan.
"Kamu benci aku?" tanya Davi.
"Jangan mengajukan pertanyaan yang sudah jelas kamu pasti tahu jawabannya!" sentak Zara lalu melepaskan tangan Davi Dari pergelangan tangannya dengan kasar.
Davi hanya bisa terdiam mendengar jawaban Zara, bahkan dia hanya berdiri kaku menatap punggung Zara yang sudah keluar dari dalam toilet cafe yang sudah sepi karena perbuatannya.
Zara kembali ke tempat dimana ia dan teman-temannya duduk tadi, namun tempat itu sudah sepi dan lampu-lampunya pun sudah di matikan.
"Tuh kan emang bener ini hari sial, hari sial karena bertemu orang yang tidak ingin aku lihat lagi!" umpat Zara sadar bahwa di tempat itu sekarang ia hanya sendiri, bahkan HPnya pun ada di dalam tas yang mungkin di bawa oleh teman-temannya.
__ADS_1
****