Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 158


__ADS_3

Sudah sangat larut malam ketika Zara memutuskan untuk kembali ke apartemen, kembali menguatkan fisik serta hatinya yang sebenarnya terasa sangat lemah namun dalam situasi seperti ini yang bisa dia lakukan hanyalah mencoba untuk menghadapi semua masalah yang sudah terlanjur terjadi masalah yang wanita manapun tidak pernah ingin ada dalam hidupnya, lalu salahkah dia yang sekarang malah sempat memikirkan laki-laki lain?


Berandai jika saja saat ini laki-laki itu berada di dekatnya mungkin dia tidak akan merasa terlalu sakit seperti ini karena harus memendam semua yang dia rasakan, menyimpan semuanya seorang diri karena di tempat ini dia hanya orang asing yang tak mempunyai teman dekat, bahkan teman yang sudah dia anggap sangat dekat malah menjadi sumber kehancurannya untuk yang kedua kali.


Beruntung kewarasannya masih belum terenggut dari dirinya meski jauh di lubuk hatinya yang paling dalam dia sangat ingin menjerit dan menangis sekuat tenaga menumpahkan semua yang dia rasakan.


"Ipul," lirihnya sesaat mobil yang Zara Naoki berhenti di depan gedung apartemen tempat dimana dia tinggal bersama suaminya.


Suara yang begitu lirih yang keluar dan bahkan gerakan bibir dari Zara pun tampak sangat samar.



"Dari mana saja? Aku mencari mu seperti orang gila!"



Baru saja melangkahkan kaki melewati pintu tapi telinga Zara sudah di perdengarkan suara dari suami yang sampai saat ini menjadi begitu mengiris perasaannya, sejak dia mengetahui bahwa ada wanita lain yang tidur dengan sang semua membuat suara yang dulu selalu ingin dia dengar dan suara yang menjadi sumber kebahagiaannya entah kenapa kini dengan cepat berubah menjadi seperti ini.



"Jawab aku, kamu dari mana? Jangan membuat aku gila karena kehilangan kamu," tekan Davi meremas kedua bahu Zara yang bahkan tidak bergeming dan malah melayangkan pandangan matanya ke arah lain.



"Zaaa."


Dan kini terdengar nada yang amat frustasi dari laki-laki di depannya membuat Zara akhirnya memberikan jawaban yang begitu singkat.


"Taman," jawab Zara lalu tubuhnya melangkah hingga kedua tangan yang tadi ada di bahunya terlepas dengan perlahan memperlihatkan betapa kini hubungan mereka benar-benar menjadi sangat buruk.



Davi menatap kedua tangannya yang kini menggantung di kedua sisi tubuhnya menyadari bahwa dia dan Zara bagaikan orang asing yang tinggal satu atap.


Pagi hari Zara terbangun bukan karena dia ingin bangun dari tidur yang membantunya untuk sekedar melupakan semua yang terjadi, mungkin saja jika bisa meminta Zara memilih tidak bangun sampai semua yang sudah terjadi bisa dia lupakan, tapi suara yang cukup kencang dari ruang tengah sungguh membuatnya terusik memaksanya untuk bangun dan mendengarkan apa yang sedang dibicarakan dengan suara yang sarat akan emosi itu.


"Aku mencintaimu Davi!"



Zara bisa mendengar dengan sangat jelas ketika dia baru saja akan menurunkan kedua kakinya, dia tahu siapa yang sudah dengan berani mengatakan itu pada suaminya dan di apartemen yang juga dia tinggali bahkan dengan tanpa rasa takut mengatakan itu dengan suara yang lantang meski Zara yakin wanita itu pasti mengetahui bahwa dia ada di dalam kamar.



"Yang kita lakukan kesalahan dan aku minta maaf karena sudah melakukan itu padamu, tapi aku mohon berhenti mengganggu hidupku dan juga istriku," suara Davi terdengar begitu memohon dan penuh penekanan di setiap kata yang dia ucapkan.



Aleyara menggeleng seolah tidak mau mengerti pada semua yang sudah dia dengar, entah setan apa yang masuk ke dalam tubuhnya sehingga dia begitu menginginkan suami dari wanita yang beberapa bulan lalu datang padanya untuk membantunya menyembuhkan trauma yang wanita itu miliki, dan sekarang dengan gilanya dia malah menyatakan cinta pada suami wanita itu bahkan seperti melupakan bahwa mereka pernah menjadi teman.



"Aku mengakui aku salah, dan aku mohon berhenti mengusik kehidupanku dan juga Zara."



"Istrimu yang meminta aku mengatakan langsung padamu tentang perasaanku, apa aku salah bahkan ketika dia sendiri yang sudah mengijinkannya," tentang wanita yang kini berdiri beberapa meter dari Davi.

__ADS_1



Zara sudah berada di balik pintu mendengarkan semua yang Davi dan Aleyara katakan, meremas kedua tangannya karena dia benar-benar tidak menyangka bahwa Aleyara menjadi sangat konyol dengan mengikuti apa yang dia katakan, bukankah seharusnya Aleyara itu berpikir dan menjadi sadar?



Davi memejamkan kedua matanya dengan hembusan nafas yang terdengar jelas menunjukkan bahwa dia sebagai seorang laki-laki pun merasa sangat lelah dengan semua yang terjadi, kesalahannya memang sangat fatal dan dia menyadari itu hingga dia dan Zara menjadi seperti ini.



"Keluar dari sini," kata Davi akhirnya yang lebih memilih untuk tidak lagi mendengarkan semua yang Aleyara ucapkan.


"Jangan paksa aku untuk melakukan kekerasan padamu!" Seru Davi dengan emosi yang sudah memuncak saat Aleyara bahkan tidak bergerak sedikitpun di tempatnya.


"Bagaimana jika aku hamil! Bukankah kamu harus bertanggung jawab!" Suara Aleyara tak kalah lantang membuat Zara yang ada di dalam kamar tersentak.



"Hamil?" Seraya menyentuh perutnya yang membesar.



Tak di sangka kini malah terdengar suara tawa yang begitu sinis dari mulut Davi, pria itu malah tertawa mendengar ocehan dari Aleyara.



Dan sedetik kemudian berkata, "aku masih cukup waras untuk mengingat bahwa aku memaki pengaman yang kamu berikan," desisnya tajam membuat Aleyara benar-benar membungkam mulutnya.




Suara handphone yang terletak di atas meja samping tempat tidur membuat Zara menoleh dan menatap benda yang layarnya tengah menyala itu, berharap benda itu menghentikan suaranya tapi ternyata tak juga berhenti memaksa Zara untuk menjawabnya.


Zara menjauh dari pintu guna mengambil handphone lalu menjawab panggilan sang penelepon dengan kedua matanya yang menaruh harapan.


Di luar kamar Davi dengan terpaksa harus memperlakukan Aleyara dengan sangat kasar agar wanita itu pergi dari apartemennya, sangat memuakkan karena harus terus-menerus berbicara tanpa di dengar sedikitpun dan hanya membuang energinya yang sudah beberapa hari ini terkuras karena memikirkan permasalahan yang sudah dia buat.



Zara keluar dan mendapati sudah tidak ada siapapun di ruang tengah untuk beberapa saat karena kemudian suara langkah Davi terdengar mendekat.



"Aku ingin kembali ke Indonesia," tanpa aba-aba Zara langsung mengutarakan keinginannya pada suami yang kini terpaku menahan langkahnya.



"Aku ingin ke Indonesia," Zara kembali mengulang pernyataan serta keinginannya membuat Davi akhirnya berucap.



"Aku akan segera memesan tiket untuk kita," katanya menatap Zara, mungkin memang lebih baik jika mereka kembali ke negara mereka sendiri berharap itu bisa memperbaiki hubungan mereka.


Namun tanpa di sangka Davi malah mendapati Zara menggelengkan kepala seraya berkata, "bukan kita," kata Zara membuat Davi mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Aku, hanya aku yang akan ke Indonesia."

__ADS_1



"Tapi Za.."



"Biarkan aku menenangkan diriku dulu, aku rasa ini lebih baik," memotong apa yang ingin Davi katakan.



Zara sudah tahu bahwa Davi tentu tidak akan membiarkannya ke Indonesia sendiri, tapi dengan apa yang sudah pria itu lakukan apa mungkin masih tetap bersikeras untuk melarangnya? Rasanya tidak mungkin! Karena pria itu pun kini dipenuhi dengan rasa bersalah dan tentu akan melakukan apapun agar wanita yang dia cintai bisa kembali seperti semula.



Davi menghembuskan nafasnya dengan berat, sangat berat karena harus membiarkan Zara pergi dengan anak yang masih di dalam kandungan.



"Akan aku pesankan tiket," akhirnya setuju dengan terpaksa dan pasrah.



\*\*\*\*\*


Zara sudah bersiap dan benar-benar sudah sangat siap untuk kembali ke Indonesia sendiri dengan alasan menenangkan diri yang tidak lagi dapat di bantah ataupun di tentang oleh sang suami meskipun saat ini Davi seperti mengunci rapat mulutnya untuk tidak berbicara ketika tengah mengangkat koper berisi pakaian milik Zara.


Sampai berada di dalam mobil pun tidak ada pembicaraan hanya kebisuan yang membuat kedinginan di dalam mobil sangat terasa, sungguh sangat dingin hingga mungkin bisa membuat beku.



Mengantar wanita yang dia cintai untuk tinggal jauh darinya memang bukanlah suatu yang Davi harapkan, tapi dia sungguh tidak bisa melakukan apa-apa lagi kecuali menurut ketimbang harus menghancurkan rumah tangga bersama wanita yang akan melahirkan anaknya.



"Aku pergi," kata Zara kemudian saat Zara harus masuk ke dalam pesawat yang akan membawanya jauh dari sang suami.


Davi mengatupkan kedua bibirnya dan hanya mengangguk tanpa bisa menyembunyikan kesedihan dan juga mata yang hampir saja basah.


Nyatanya sebagai seorang laki-laki dia sangatlah cengeng, saat Zara mengalami perkosaan dia mampu menyembunyikan kesedihan serta tangisnya, lalu kenapa untuk saat ini dia tidak bisa, sungguh Davi tidak sanggup menahan kesedihannya hingga akhirnya menarik tubuh Zara lalu mendekapnya dengan sangat erat seolah ini adalah dekapan terakhirnya.


"Aku mohon maafkan aku, maafkan aku."


Kata maaf yang selalu saja berulang di telinga Zara.


Zara menyesap air matanya membalas dekapan laki-laki yang kini terlihat begitu rapuh seraya berkata untuk memberikan ketenangan, "semua sudah terjadi, aku hanya butuh waktu," tuturnya seraya meremas jaket yang Davi kenakan.



Cara Zara meremas menunjukkan ada sebuah perasaan hancur yang bersemayam di dalam hatinya dan memaksa keluar namun dia tahan untuk tidak melampiaskannya, padahal Davi pun sudah sangat siap jika Zara mau memukul atau membunuhnya sekalipun agar rasa bersalahnya sedikit berkurang.



Zara mengurai dekapan meski Davi masih enggan untuk melepaskan dekapannya namun tidak bisa melakukan apapun ketika Zara berusaha sangat keras hingga dekapan Davi akhirnya terlepas.


Davi memandang punggung Zara yang kian menjauh, tidak sanggup hingga akhirnya dia pun memilih untuk pergi dari bandara itu, mengendarai mobil dengan sangat cepat dengan wajah yang menyedihkan, untuk saat ini dia menjadi seorang laki-laki yang sangat rapuh.


****

__ADS_1


__ADS_2