
Langit sudah mulai menguning saat Zara dan Ipul berada di dalam taksi yang tengah melaju tenang menembus kemacetan di jam-jam pulang kantor.
Sebentar lagi, sebentar lagi mereka akan sampai dan Zara masih larut dalam ketegangan yang malah makin menjadi, keringat dingin sudah keluar membasahi dahi serta kedua telapak tangannya.
Sejak tadi Ipul bahkan terus saja mengejek dirinya dengan senyuman serta lelucon tak penting dari mulut pria di sampingnya yang duduk dengan sangat tenangnya.
"Rasanya sudah lama tidak menikmati kemacetan seperti ini," celetuk Ipul menoleh jendela dan pada jalanan disisi sebelahnya.
"Belum bertahun-tahun," sahut Zara sinis.
"Oh masih bisa sinis juga rupanya, sebaiknya siapkan kamu belajar merangkai kata sebelum bertemu dengan Abang Za, karena aku tidak yakin kamu akan bisa berbicara dengan lancar ketika sudah berhadapan dengannya," ledek Ipul dan untuk sekian kalinya menyunggingkan senyuman sarat akan ejekan.
"Kamu bantu aku," pinta Zara.
"Oh ya tentu! tentu aku akan membantumu, memukulnya kan? untuk mengalihkan kemarahannya darimu," kata Ipul seraya menunjukkan kepalan tangannya seolah saat ini dia sudah sangat bersiap untuk menyalurkan bakatnya sebagai petinju amatir.
Tentu bukan hal yang sulit untuk menghajar orang termasuk Abang sepupunya sendiri, hitung-hitung membalas dendam lama yang dulu tidak sempat terlaksana? mungkin.
"Jangan terlalu keras," kata Zara akhirnya dengan suara yang pelan.
"Tidak tega? tetap saja Zara kamu mengorbankan suamimu untuk keselamatan mu," dengus Ipul mendengar permintaan konyol.
__ADS_1
Jangan terlalu keras katanya? ah yang benar saja setelah sekian lama menunggu akhirnya Ipul mempunyai kesempatan untuk melampiaskan kekesalannya pada Davi, lalu sekarang malah diminta untuk tidak terlalu keras, sial!
"Aku hanya tidak mau dia marah-marah Pul, meskipun aku tahu dalam hal ini aku salah tapi aku tidak mau disalahkan apalagi dimarahi," tutur Zara.
"Dasar wanita, berbuat salah tapi tidak mau menerima akibatnya!" ketus Ipul gemas terhadap wanita hamil yang sejak semalam membuatnya geregetan dengan tingkah dan ocehannya.
Tidak mau dimarahi oleh suaminya tapi anehnya berani pergi sampai membuat gempar suami serta keluarganya, bahkan kedua orang tua Ipul pun turut merasakan kesedihan karena perbuatan tak sengaja yang Zara lakukan.
Memang wanita itu tidak pernah menduga akan ada kejadian seperti ini, pikiran Zara saat itu hanya pergi untuk menenangkan diri tapi malah pesawat yang harusnya membawanya kembali ke Indonesia mengalami kecelakaan, hingga akhirnya Ipul pun mau tak mau harus ikut masuk dalam pusaran masalah yang Zara buat karena selama dua Minggu ini dialah satu-satunya orang yang tahu keberadaan Zara.
****
"Apa kamu tidak bisa tinggal disini saja Dav, sama Mama sama Ayah juga Inaya dan Anaya."
Lagipula bukankah ini terlalu cepat untuk Davi kembali padahal semua orang pun tahu anaknya ini masih dalam masa berkabung, kesedihan dan kehilangan tidak akan mudah untuk dilupakan.
"Jawaban Davi akan tetap sama Ma, Davi akan kembali ke Australia," sahut Davi.
Dari bola matanya masih terlihat jelas ada kesedihan yang mendalam, pria itu tidak mungkin bisa menyembunyikannya dengan baik.
"Tapi.."
__ADS_1
"Biarkan Ma, Davi sudah dewasa biarkan dia mengambil keputusan yang menurutnya baik, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung sekaligus mendoakannya," Arman mengelus punggung istrinya.
Sebagai seorang suami tentunya dia merasakan hal yang sama dengan istrinya, sedih dan tidak rela tapi mereka harus berbuat apa? tentu sebelum mengambil keputusan Davi sudah memikirkannya dengan sangat baik, semenjak menikah dengan Zara banyak sekali perubahan dari anaknya itu, dan pastinya sudah tidak ada lagi Davi yang membangkang dan seenaknya sendiri.
Dan sekarang Andini hanya bisa menangis saat anaknya berpamitan padanya.
"Davi pamit."
Tiiiiiinnnnnnn!!!
__ADS_1
\*\*\*\*\*