Kejaran Cinta Zarania

Kejaran Cinta Zarania
Bagian 139


__ADS_3

Setelah hampir satu bulan rutin berkonsultasi akhirnya Zara merasakan dirinya menjadi lebih baik, ia tidak lagi merasa ketakutan saat tidur, dan ketakutan yang muncul secara tiba-tiba saat bertemu dengan laki-laki lain pun berangsur berkurang, ia bisa lebih mengendalikan dirinya agar bisa menguasai ketakutannya itu.


Davi pun merasakan hal yang sama, istrinya sudah tidak lagi menangis tiba-tiba saat malam hari juga tak lagi mengigau merintih ketakutan, dan Davi merasa sangat bersyukur akan semua hal itu meskipun Zara belum sepenuhnya sembuh dari trauma yang wanita itu alami.


Pagi inipun Davi terus memandangi kegiatan istrinya yang sedang sibuk memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, melihat dari kejauhan dengan tatapan mata yang begitu dalam, penuh cinta dan juga takut kehilangan.


"Aku yakin kita akan bahagia Za, kebahagiaan yang selalu kita mimpikan," batin Davi tak sekalipun memalingkan wajahnya dari sang istri.


Davi mengumbar senyum manakala Zara menoleh padanya dan sedikit terkejut karena tak menyadari sejak kapan suaminya itu berada di dekat pintu tempatnya mencuci.


"Apa kamu tidak lelah? rasanya dari kemarin kamu tidak berhenti bergerak, melakukan kesibukan sepeti ini," tanya Davi sambil melangkah mendekat pada Zara yang menggeleng mendengar pertanyaannya.


"Aku hanya ingin menjalani tugas ku sebagai seorang istri," sahut Zara tanpa menghentikan kegiatan yang sedang ia lakukan.


"Kalau begitu biar aku bantu," Davi sudah akan mengambil selembar pakaian namun segera di ambil oleh Zara.


"Tidak usah, bukankah Mas harus bersiap-siap sebentar lagi Lugo akan sampai," kata Zara yang ingat bahwa semalam Davi mengatakan bahwa ada rapat dengan Lugo.

__ADS_1


"Berapa lama pun waktu yang aku butuhkan, Lugo akan tetap menunggu," sahut Davi dengan ngeyelnya.


Zara menghembuskan napas, sudah pasrah tak lagi mau melarang ataupun berdebat dengan sang suami hanya karena cucian kotor yang semestinya sudah masuk ke dalam mesin cuci yang tengah terbuka itu.


Pakaian sudah sepenuhnya masuk ke dalam mesin cuci yang kini tengah bekerja membersihkan pakaian-pakaian sebenarnya hanya terkena keringat saja.


Tiba-tiba Davi memeluk Zara dari belakang ketika wanita itu sedang sibuk membenahi keranjang bekas pakaian.


"Berhentilah bergerak," ucap Davi tepat di telinga Zara, sontak Zara menghentikan pergerakannya namun tidak mengeluarkan sepatah katapun hanya membiarkan pria di belakangnya itu menarik tangannya agar tangan mereka saling menumpuk.


"Bukankah baru sekarang kita melakukan adegan seperti ini selama kita menikah?" tanya Davi mengingat bahwa memang ini pertama kalinya selama mereka menikah bisa bermesraan seperti ini di saat sedang sibuk melakukan pekerjaan rumah.


Sepertinya Davi menyadari akan kesalahannya, sadar tidak seharusnya dia mengatakan hal yang malah akan membuat istrinya itu kembali mengingat semua peristiwa buruk yang perlahan hampir Zara lupakan.


Dengan sigap Davi pun mengalihkan pembicaraan yang membuat suasana menjadi sangat hening karena perbuatannya.


"Aku akan bersiap," katanya melepaskan dekapannya di tubuh Zara.

__ADS_1


Cup!


Mengecup belakang kepala istrinya sebelum akhirnya menarik tangan sang istri mengikutinya masuk ke dalam kamar.


"Tolong pilihkan pakaian yang harus aku pakai," pinta Davi ketika mereka sudah berada di dalam kamar, membawa Zara ke depan lemari kayu besar.


Zara mengangguk dan segera membuka lemari pakaian sedangkan Davi sudah melenggang menuju kamar mandi.


Di saat Zara sedang memilih pakaian untuk Davi pakai telinganya mendengar suara handphone yang tergeletak di meja rias samping lemari.


Nalurinya sebagai seorang istri pun mulai melirik pada benda canggih itu, matanya pun melihat ada notifikasi dari Instagram di pojok kiri handphone.



Saat ingin meraih benda itu malah terdengar suara pintu kamar mandi yang di buka membuat gerakan Zara terhenti dengan cepat, tangannya kini hanya menggantung tepat di atas handphone berwarna hitam itu.


__ADS_1


\*\*\*\*\*


__ADS_2